ZONALITERASI.ID – Kemarahan adalah bahan bakar pameran ini. Lahir dari perasaan diremehkan dan dipinggirkan, para perupa muda dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Rupa dan Desain UIN Bandung menggunakan kanvas, benang, hingga patung untuk meneriakkan gugatan terhadap ‘kematian’ identitas Bandung Timur di tengah hegemoni seni kotanya. Pameran bertajuk “Timur & Dua Kematiannya” yang digelar di Studio Jeihan, Jalan Padasuka 143–145 Bandung, pada 2-4 Juli 2025, menjadi medan pertempuran mereka.
Judul pameran ini bukanlah sekadar frasa puitis, melainkan sebuah manifesto. Bagi Silma Hanifah (Alin), sang kurator, ini adalah tentang dua pembunuhan yang harus dilakukan untuk bisa lahir kembali.
“‘Kematian yang pertama adalah kematian atas diri sendiri, kematian yang kedua adalah kematian terhadap realita’”, ujarnya.

Kematian diri, jelasnya, adalah pembunuhan rasa minder yang selama ini menghantui para seniman dari kampus ‘pinggiran’ saat berhadapan dengan institusi seni yang lebih mapan. Sementara kematian realita adalah penolakan total terhadap narasi dominan yang menganggap Bandung Timur tak punya wacana intelektual yang berarti.
Gugatan ini tidak tinggal di tataran konsep; ia menubuh dalam karya-karya yang tajam dan tak nyaman. Salah satu yang paling menohok adalah “Kenyataan Hampa” karya Ami Ranti. Di atas kanvas berlatar merah darah dan kelabu, sesosok perempuan bermahkota menatap kosong. Di sampingnya, siluet serdadu menodongkan senjata. Namun, kekuatan karya ini terletak pada teks-teks yang ditulis tangan secara kasar, berbunyi: “MENU: NASI DICAMPUR AIR MATA, KELAPARAN TAKTERHINGGA, DIGORENG KRISPI DENGAN TANAH KONFLIK”. Karya ini adalah respons atas realita bunuh diri petani di India dan Gunungkidul akibat terlilit utang. Ini adalah kritik pedas terhadap kelaparan di tengah isu global yang kompleks.

Sarapan Pekerja (2025) karya Muhammad Ridwan Salam (SURO). Patung ini menyajikan ironi getir tentang buruh yang menopang industri, namun terasing dari hasil keringatnya sendiri, (Foto: Mardani Mastiar/Zonaliterasi.id).
Perlawanan juga hadir dalam bentuk yang lebih subtil namun tak kalah getir. Karya mixed media “Ringan di Timbang, Berat di Dosa” oleh Hana Pertiwi menggunakan jalinan benang untuk menggambarkan interaksi di pasar. Di baliknya, ada sebuah riset personal yang absurd sekaligus menyedihkan: sang seniman membeli satu ons bawang dari tiga penjual berbeda dan menemukan hanya satu yang timbangannya jujur. Karya ini menjadi cermin bagi kebohongan-kebohongan kecil yang dinormalisasi hingga mengikis moralitas sosial, sebuah dosa ringan yang kelak memberatkan di neraca keadilan.
Kritik terhadap eksploitasi kelas pekerja divisualisasikan secara sureal dalam patung “Sarapan Pekerja” karya Muhammad Ridwan Salam (SURO). Sebuah kaki kecil yang kurus dengan urat-urat menonjol menopang sebuah sandal jepit berukuran besar. Judulnya adalah ironi pahit: sarapan bagi para pekerja bukanlah lagi sesuap nasi, melainkan “sepiring persoalan untuk tetap bisa hidup dan menghidupi”, sebuah simbol bagaimana buruh terasing bahkan dari produk yang mereka hasilkan dengan keringat sendiri.

Pameran ini adalah deklarasi. Ia menolak menjadi sekadar acara seni yang sopan. Ia adalah bukti bahwa dari sudut kota yang sering terlupakan, bisa lahir wacana yang kuat dan relevan. Seperti yang ditegaskan Alin, sang kurator, dengan nada menantang:
“Bandung harus tahu, Timur punya wacana dan intelektualitas yang masih hidup, meskipun menghadapi kematian realita yang berkali-kali.” (Mardani Mastiar)***





