Dukung Tumbuh Kembang Anak, Orang Tua Jangan Menaruh Ekspektasi Terlalu Tinggi

3q0tl5tczz
Ilustrasi "Dukung Tumbuh Kembang Anak, Orang Tua Jangan Menaruh Ekspektasi Terlalu Tinggi", (Ilustrasi: Sehatq.com).

ZONALITERASI.ID – Orang tua perlu menyadari terlebih dahulu bahwa ekspektasi yang diberikan ke anak tujuan dan dampaknya. Ekspektasi harus bisa tetap memberi ruang bagi anak untuk menetapkan tujuan mereka, kemudian orang tua harus melihat dampaknya.

“Orang tua harus terus memahami anak-anak mereka. Jangan-jangan, ekspektasinya justru tidak membantu tumbuh kembang anak-anak mereka. Mungkin kita perlu lebih sedikit memikirkan apa yang kita inginkan dari anak-anak kita dan lebih banyak memikirkan bagaimana membantu mereka,” kata Psikolog klinis dan psikoanalis asal Amerika Serikat, Corinne Masur, Psy. D., dikutip dari Psychology Today, Sabtu, 31 Januari 2026.

Masur mengungkapkan, hal yang lebih penting yakni bagaimana orang tua bisa berkomunikasi dengan baik kepada anak. Misalnya, ketika anak gagal, apa yang harus dilakukan agar anak tidak merasa sedih dan terlalu kecewa.

Karena itu, Masur mengusulkan 7 pendekatan yang perlu dilakukan orang tua untuk mendukung anak. Berikut paparannya.

7 Langkah yang Perlu Dilakukan Orang Tua untuk Mendukung Anak

1. Tidak Membanding-bandingkan Anak

Sejak usia bayi, saat anak mulai belajar hal baru, hendaknya orang tua memberikan dorongan. Namun, tetap memperhatikan kenyamanan anak-anak tanpa membandingkan kemampuannya dengan anak lain.

2. Fokus Memperhatikan Anak Sendiri

Perhatian yang terfokus pada anak sendiri, membantu orang tua lebih mengenal anak mereka dengan baik.

3. Membuat Target Kecil untuk Melatih Anak

Setiap orang tua hendaknya membuat target-target capaian kecil sejak bayi untuk anak mereka, agar menghargai setiap perkembangannya. Seperti satu menit tambahan tengkurap, satu sendok makanan baru, satu kata baru dan sebagainya.

4. Bantu Anak untuk Menoleransi Rasa Frustrasi

Saat anak kesulitan melakukan sesuatu, seperti saat belajar berjalan, belajar huruf dan angka, alangkah baiknya orang tua berkata demikian “Ini sulit. Tapi tidak apa-apa. Kita akan coba lagi nanti.”

Tanamkan di benak anak-anak, bahwa rasa frustrasi adalah hal wajar saat kesulitan, setelah itu jangan ragu untuk mencobanya lagi.

5. Periksa Kembali Ekspektasi Pribadi Orang Tua

Saat anak bertambah dewasa, orang tua harus mengecek ulang bagaimana ekspektasinya terhadap anak mereka. Tetap konsisten untuk membuat target-target kecil, dan juga bantu anak untuk melakukan hal serupa.

Misalnya, daripada menargetkan nilai sempurna di semua pelajaran, mungkin menambah waktu belajar di rumah jauh lebih ringan. Karena bagi anak yang tidak tahan berlama-lama belajar di rumah, waktu 20 menit belajar adalah sebuah kemajuan dibanding sebelumnya yang hanya bertahan 5 menit saja.

6. Menormalisasi Kegagalan

Tidak ada salahnya untuk menceritakan kegagalan pribadi orang tua terhadap anak mereka sendiri. Ceritakan bagaimana reaksi mereka saat mengalami kegagalan. Mungkin anak-anak dapat diceritakan tentang kisah-kisah kegagalan dari tokoh ternama. Saat anak-anak mendengarnya, mereka akan merasa bahwa gagal adalah hal wajar, dan dapat terjadi pada siapa saja.

7. Membangun Komunikasi yang Baik dengan Anak

Bercerita kisah kegagalan orang tua, serta betapa sulit dan frustrasinya mereka saat itu. Lalu, arahkan anak-anak untuk beristirahat sejenak saat mengalami frustrasi, seperti saat menghadapi soal matematika sulit atau mungkin kalah tanding basket. Kemudian, dukung mereka untuk mengerjakan hal tersebut ketika rasa lelah dan frustrasi mulai cukup reda.

Demikian paparan 7 pendekatan yang perlu dilakukan orang tua untuk mendukung anak. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Anda. (haf)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *