“Ensiklopedi Sastra Nusantara”: Menggugat “Sesat Pikir” Kolonial, Merawat Ekosistem yang Tercecer

dani
Suasana Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Penyuntingan Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) bersama para akademisi dan praktisi sastra, di Aula Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Rabu, 11 Februari 2026, (Foto: Mardani Mastiar/Zonaliterasi.id).

ZONALITERASI.ID – Sejarah Indonesia selama ini menyimpan cacat bawaan, yakni sebuah “sesat pikir” yang diwariskan kolonialisme, terlebih sejarah sastra. Narasi bahwa bangsa Nusantara “buta huruf” sebelum kedatangan Eropa, atau anggapan bahwa sastra Indonesia baru lahir saat huruf Latin diperkenalkan koran-koran, adalah kebohongan yang harus diakhiri.

Semangat dekolonisasi inilah yang meledak dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Penyuntingan Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) di Aula Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung, Rabu, 11 Februari 2026.

Rachmat Taufiq Hidayat, sang penulis, menegaskan bahwa proyek ambisius ini bukan sekadar revisi dari karyanya tahun 2007. Ini adalah sebuah “Ensiklopedia Roh” yang bertujuan menjembatani jurang antara tradisi lisan klasik, keragaman regional, dan sastra Indonesia modern.

“Saya ingin menyajikan data sebanyak-banyaknya. Biarlah para ahli dan generasi muda yang nanti melanjutkannya,” ujar Rachmat.

Melawan Hegemoni “Buta Huruf”

Kritikus Sastra Prof. Dr. Maman S. Mahayana membongkar hegemoni Belanda yang sistematis mengerdilkan peradaban Melayu dan Islam. “Bangsa ini adalah bangsa yang literat jauh sebelum Eropa datang,” tegas Maman.

Dia menunjuk bukti masifnya penggunaan aksara Jawi (Arab-Melayu/Pegon) yang tersebar dari Aceh hingga Mindanao sebagai bukti literasi yang sudah mapan. Menurutnya, surat kabar berbahasa Latin bukanlah “awal” sastra Indonesia, melainkan kelanjutan dari tradisi yang sudah ada. Ensiklopedi ini, menurut Maman, adalah momentum untuk mengembalikan sastra ke “jalan yang benar”.

Senada dengan Maman, Prof. Dr. Mikihiro Moriyama dari Nanzan University, Jepang, mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan sumber kolonial. Dia menekankan perlunya perspektif kritis agar ensiklopedi ini tidak terjebak menjadi corong wacana kolonial (colonizer) yang bias, meskipun menggunakan data dari peneliti Belanda.

Perdebatan alot mengenai batasan materi—apakah memasukkan segala hal atau membatasi diri—mencapai titik temu yang brilian di ujung diskusi. Prof. Mikihiro mengusulkan penambahan kata “Ekosistem” pada judul buku. Usulan ini disambut antusias. Nama proyek ini pun dipertimbangkan menjadi Ensiklopedi Ekosistem Sastra Nusantara.

“Ini menjawab persoalan ‘terlalu banyak yang dimasukkan’. Sebagaimana ekosistem, ada banyak unsur dan aspek yang hidup di dalamnya,” ujar Prof. Maman menyepakati usulan tersebut. Konsep ekosistem ini mengakomodasi visi Rachmat untuk menangkap “Ruh” Nusantara yang menjangkau aspek desentralisasi (daerah), kontinuitas waktu, dan identitas budaya.

Tantangan “Kerja Rohaka”

Prof. Dr. Retty Isnendes dari UPI menyebut proyek ini sebagai “kerja budaya yang rohaka” (raksasa/luar biasa besar). Tantangan teknis seperti inkonsistensi ejaan, penempatan tokoh sejarah seperti Kartini (apakah masuk sastra Jawa atau Nusantara?), hingga etimologi kata, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan tim penyunting. Praktisi penerbitan yang akrab disapa Mas Pur dan Kepala Perpustakaan Ajip Rosidi, Prof. Dr. Ruhaliah, turut menekankan pentingnya definisi yang ketat agar ensiklopedi ini tidak menjadi proyek yang “tak selesai sampai kiamat”.

Sinyal Kolaborasi

Di luar aspek akademis, proyek ini membuka pintu kolaborasi strategis. Rachmat Taufiq Hidayat, yang juga Sekretaris Pusat Studi Sunda, memberi sinyal kerja sama dengan media dan peneliti muda.

“Nanti Zonaliterasi bisa menjadi mitra riset kami. Di platform digital Gapura yang sedang kami bangun, akan ada tombol mitra yang menghubungkan langsung ke Zonaliterasi,” ungkap Rachmat, usai acara.

Ensiklopedi ini dijadwalkan terbit tahun ini, menjadi monumen baru yang merekam jejak intelektual bangsa—bukan sebagai artefak mati, melainkan sebagai ekosistem yang hidup. (Mardani Mastiar)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *