FOMO dan Loyo: Sebuah Narasi Generasi ‘Alumni Covid’

WhatsApp Image 2026 04 09 at 23.23.17
Ilustrasi “FOMO dan Loyo: Sebuah Narasi Generasi ‘Alumni Covid’”, (Foto: Microsoft AI).

Oleh Aep Ahmad Senjaya

SEORANG  teman yang HRD suatu perusahaan curhat dengan nada kesal, wajahnya penuh ekspresi jenuh seolah tak lagi punya stok sabar. Ia mengeluhkan karyawan dari generasi Y sampai Alpha yang menurutnya kerjanya jelek, tidak punya inisiatif, —meminjam istilah Sunda— gampang sekali pundung, dan pikasebeleun. “Dasar… generasi smartphone!” katanya.

“Bukan generasi smartphone itu mah, Generasi ‘Alumni Covid,” sanggahku. Ungkapan itu lahir dari pengamatan sehari-hari bahwa anak-anak muda yang melewati masa pandemi cenderung terbiasa rebahan, mager, dan enggan berjuang keras, dan kalau ditegur langsung manyun.” Keluhan itu bukan sekadar ocehan personal, melainkan potret nyata bagaimana pengalaman pandemi dan budaya digital telah membentuk perilaku generasi muda di ruang kerja, yang sering kali lebih sibuk dengan kenyamanan instan daripada membangun komitmen jangka panjang.

Era digital telah menjadi lanskap baru yang membentuk kehidupan generasi muda. Kehadiran gawai, media sosial, dan internet bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan ruang hidup yang menyerap sebagian besar waktu dan energi mereka. Fenomena ini menghadirkan paradoks. Di satu sisi, digitalisasi membuka akses informasi tanpa batas, mempercepat komunikasi, dan memberi peluang kreatif yang sebelumnya tak terbayangkan. Namun di sisi lain, sakadang gawai ini pun melahirkan gejala melemahnya daya juang, berkurangnya fokus, dan rapuhnya karakter anak-anak muda. Pertanyaan yang muncul adalah apakah digitalisasi memperkuat atau justru melemahkan sebuah generasi, dan bagaimana psikologi dapat membantu kita memahami fenomena ini.

Albert Bandura dalam Social Learning Theory menegaskan bahwa perilaku manusia banyak dipelajari melalui observasi dan modeling. “Most human behavior is learned observationally through modeling,” katanya. Generasi muda kini lebih banyak meniru perilaku yang mereka lihat di media sosial daripada interaksi nyata. Influencer, selebritas digital, dan teman sebaya menjadi model perilaku yang seringkali dangkal, konsumtif, atau bahkan destruktif. Ketika perilaku yang ditiru lebih menekankan pada pencitraan ketimbang substansi, maka terbentuklah generasi yang rapuh secara karakter. Mereka belajar bahwa nilai diri ditentukan oleh jumlah “like” dan komentar, bukan oleh pencapaian nyata atau kontribusi sosial.

Di lain ranah, John Sweller melalui Cognitive Load Theory-nya mengingatkan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. Ia menyebut, “Cognitive load theory assumes that working memory has a limited capacity”. Paparan informasi berlebihan dari dunia digital membuat generasi muda mudah terdistraksi dan sulit fokus. Bayangkan seorang pelajar yang hendak menulis esai, tetapi setiap kali ia mulai, notifikasi ponsel berbunyi. Ia tergoda membuka media sosial, lalu tenggelam dalam video pendek selama berjam-jam. Akhirnya tugas tidak selesai, dan frustrasi pun muncul. Fenomena ini menunjukkan bagaimana beban kognitif yang berlebihan mengganggu proses belajar dan melemahkan kemampuan konsentrasi jangka panjang.

Distraksi akibat gawai itu lambat namun pasti membentuk suatu ketergantungan yang luar biasa pada dorongan eksternal. Tanpa gawai mereka seolah menjadi “mayit hirup”; bisa berjalan tapi tak bisa ngapa-ngapain. Generasi “zaman now pisan” yang tumbuh dalam dunia digital sering kali lebih bergantung pada validasi eksternal. Mereka merasa berharga hanya jika mendapat banyak “like” atau pengikut. Motivasi intrinsik untuk belajar, berusaha, dan berjuang melemah, digantikan oleh dorongan untuk tampil dan diakui secara digital. Akibatnya, daya juang menurun, dan generasi muda menjadi mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan nyata. Padahal, “Human beings have innate psychological needs that are the basis for self-motivation,” tulis Deci dan Ryan dalam Self-Determination Theory-nya yang menekankan pentingnya motivasi intrinsik yang tumbuh dari kebutuhan psikologis mendasar seperti otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial. Motivasi tidak bisa hanya diartikan sebagai impuls dari luar tapi eta teh dari kebutuhan internal yang melekat pada setiap individu. Dan akhirnya, … hadeuh… krisiiiis… krisis.

Inilah yang ditegaskan Erikson dalam teori perkembangan psikososial menekankan bahwa masa remaja adalah fase krisis identitas. “Adolescence is a time of identity versus role confusion”. Dunia digital memperumit krisis ini, karena identitas sering dibangun secara artifisial di media sosial. Generasi Y, Z, dan Alpa menciptakan persona digital yang sering berbeda dengan identitas nyata. Hal ini menimbulkan kebingungan peran dan melemahkan kepercayaan diri. Mereka hidup dalam dua dunia; dunia nyata yang penuh tantangan dan dunia digital yang penuh pencitraan. Ketika keduanya tidak selaras, muncul rasa cemas, bingung, dan rapuh.

Di wayah seperti ini, kehidupan sehari-hari generasi digital mencerminkan fenomena ini. Seorang remaja, misalnya, setiap pagi langsung membuka ponsel. Notifikasi media sosial, pesan instan, dan video pendek menyedot perhatiannya. Dia merasa harus selalu update agar tidak ketinggalan tren. Ia mengalami fear of missing out (FOMO), ketakutan tertinggal dari arus informasi dan interaksi digital. Distraksi ini membuatnya sulit mempertahankan fokus dan seciprat kecemasan sosial pun muncul: apakah postingannya cukup mendapat “like”? Apakah ia terlihat keren di mata teman-teman? Di sinilah, harga diri mulai bergeser dari yang seharusnya berada pada pencapaian atas tindakan menjadi model validasi digital berbasis ikon like dan love atau stiker bertuliskan ‘Maantaaap’. Padahal, validasi itu mungkin sebenarnya Cuma “pukpuk” karitatif yang juga sanggup melenakan diri dan membuat ngapung irung.

***

Anak-anak muda lebih nyaman berkomunikasi lewat layar daripada bertemu langsung. Empati pun menurun, karena ekspresi emosi di dunia nyata tidak lagi diasah. Individualisme meningkat, setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri di balik layar. Di sekolah, budaya copy-paste marak (Bahkan sebelum zaman gawai kulur kisi-kisi ujian sudah marak). Alih-alih membaca dan memahami, banyak siswa hanya menyalin informasi dari internet. Literasi mendalam tergantikan oleh literasi instan. Kemampuan berpikir kritis melemah, karena mereka jarang mengolah informasi secara reflektif. Generasi muda menjadi rapuh dalam menghadapi tantangan. Daya juang menurun, karena terbiasa dengan kepuasan instan dari dunia digital. Mereka lebih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan nyata. Ketergantungan pada validasi eksternal membuat karakter tidak kokoh.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui kerangka teori psikologi. Social Learning Theory misalnya, menunjukkan bahwa generasi muda meniru perilaku selebritas digital atau teman sebaya di media sosial, yang seringkali dangkal atau konsumtif. Atau Cognitive Load Theory yang menjelaskan bahwa paparan informasi berlebihan membuat kapasitas kognitif terbebani, sehingga generasi muda sulit fokus pada tugas akademik atau refleksi mendalam. Self-Determination Theory menegaskan bahwa motivasi intrinsik melemah karena generasi muda lebih mengejar validasi eksternal. Erikson’s Psychosocial Development Theory menunjukkan bahwa krisis identitas semakin kompleks, karena identitas digital sering berbeda dengan identitas nyata, menimbulkan kebingungan peran dan melemahkan kepercayaan diri.

Mari kita kembali melihat aktivitas anak-anak kita. Suatu hari mereka harus menulis esai untuk tugas sekolah. Namun setiap kali ia mulai menulis, notifikasi ponsel berbunyi. Ia tergoda membuka media sosial, lalu tenggelam dalam video pendek selama berjam-jam. Akhirnya tugas tidak selesai. Lalu, dia pun frustrasi, tetapi tetap mengulang pola yang sama. Kontras dengan generasi pra-digital: dahulu, seorang siswa mungkin menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, membaca buku, mencatat, dan berdiskusi. Proses itu melatih kesabaran, fokus, dan daya juang. Ya kasarnya mah sampai berdarah-darah lah. Kini, proses belajar sering tergantikan oleh pencarian instan di internet. Ini adalah cerminan dari jutaan remaja yang hidup dalam pusaran digital, di mana distraksi, validasi eksternal, dan krisis identitas menjadi bagian dari keseharian.

Digitalisasi bukanlah musuh. Ia adalah alat yang bisa memperkuat atau melemahkan, tergantung bagaimana digunakan. Generasi ka beh dieunakeun melemah bukan semata karena digital, melainkan karena kurangnya literasi digital, disiplin diri, dan keseimbangan antara dunia maya dan nyata. Refleksi penting adalah kita perlu membangun sistem pendidikan dan budaya yang menekankan literasi digital, pengendalian diri, dan penguatan karakter. Generasi muda harus belajar bahwa validasi sejati bukan berasal dari “like” atau komentar, melainkan dari pencapaian nyata, kerja keras, dan kontribusi sosial. Dengan demikian, digitalisasi dapat menjadi sahabat, bukan ancaman. Namun tanpa kesadaran kritis, ia akan terus melemahkan generasi muda, menjadikan mereka rapuh di tengah derasnya arus informasi. Yah, demikianlah generasi “alumni Kopid’

Jurassic Mager Park: Menjinakkan Alumni Covid

Jurassic adalah satir dari dunia kerja atau sekolah seolah menjadi “taman dinosaurus” penuh anak muda yang mager —besar, sulit diatur, dan kadang terasa liar. Di sini, tugas pemimpin atau pendidik adalah menemukan cara kreatif untuk “menjinakkan” mereka. pemimpin atau pendidik diibaratkan sebagai para penjaga taman, yang harus menemukan cara kreatif untuk “menjinakkan” mereka agar tidak merusak ekosistem.

Di tengah keluhan tentang generasi muda yang gampang rebahan, ada secercah harapan. Solusi pertama datang dari literasi digital. Anak-anak muda tidak cukup hanya diajari cara klik aplikasi atau buka browser, mereka perlu dilatih memilah informasi, menghindari distraksi, dan menjadikan teknologi sebagai alat produktif. Sekolah dan kantor bisa jadi laboratorium kecil untuk menguji kemampuan ini, sehingga gadget bukan lagi musuh, melainkan sahabat kerja.

Solusi berikutnya adalah menyalakan motivasi intrinsik. Mengacu pada Self-Determination Theory, manusia butuh merasa otonom, kompeten, dan terhubung. Maka, generasi muda perlu diarahkan menemukan makna dalam pekerjaan, bukan sekadar mengejar “likes” atau validasi instan. Program mentoring, proyek sesuai minat, atau kesempatan berkreasi bisa menjadi pintu masuk. Ketika mereka merasa dihargai, daya juang pun tumbuh. Disiplin dan fokus juga dilatih: jam kerja bebas distraksi, jam istirahat boleh rebahan. Dengan begitu, “Alumni Covid” belajar bahwa konsentrasi adalah otot yang bisa dilatih.

Dan jangan lupa, dunia nyata tetap penting. Interaksi sosial tatap muka harus diperkuat lewat diskusi kelompok, kerja tim, atau aktivitas komunitas. Empati dan daya juang tidak bisa tumbuh hanya dari layar. Di sinilah peran pemimpin dan pendidik: bukan sekadar mengkritik, melainkan memberi pukpuk karitatif—dukungan, pujian yang tepat, dan bimbingan penuh kasih. Hasilnya? Generasi yang tadinya mager bisa berubah jadi lebih tahan banting. “Alumni Covid,” kalau dipukpuk dengan benar seperti seorang ibu pada bayinya dengan comforting gesture, bisa juga jadi juara.” ***

Aep Ahmad Senjaya,  pekerja sosial dan bergiat di Bale Budaya Bandung.