ZONALITERASI.ID – Goethe-Institut Bandung menjalin kerja sama dengan enam perguruan tinggi di Kota Bandung.
Adapun enam kampus yang menjalin kerja sama tersebut adalah Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Telkom University, Universitas ‘Aisyiyah Bandung, Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Universitas Widyatama.
Kerja sama tersebut, ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dan Nota Kesepakatan (MoU). Kerja sama multiyears ini fokus pada pengembangan proyek kebudayaan, khususnya perfilman, seni, dan pertukaran gagasan lintas negara.
Penandatanganan MoU/MoA ini dilakukan oleh Constanze Michel bersama pimpinan masing-masing perguruan tinggi, di antaranya Rektor Unpar Tri Basuki Joewono, Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A.; Rektor Universitas Widyatama Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum.; Rektor Universitas ‘Aisyiyah Sitti Syabariyah, S.Kp., M.S.; Dekan FIB Unpad Prof. Aquarini Priyatna Prabasmoro, M.A., M.Hum, Ph.D; serta Dekan Fakultas Industri Kreatif Telkom University Dekan Fakultas Industri Kreatif Dandi Yunidar, S.Sn., M.Ds., Ph.D..
Direktur Goethe-Institut untuk kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, mengatakan, pihaknya memberi perhatian khusus pada proyek film pada tahun ini. Salah satunya, melalui inisiatif serial yang mempertemukan sudut pandang Indonesia dan Jerman.
“Minat terhadap karya audiovisual Indonesia di Jerman terus meningkat. Karena itu, Goethe-Institut berupaya menghadirkan pertukaran dua arah: membawa perspektif Jerman ke Indonesia sekaligus membuka jalan bagi sineas Indonesia untuk dikenal di Jerman,” kata Michel, di sela penandatanganan kerja sama, di Kampus Unpar, beberapa waktu lalu.
“Kami ingin mahasiswa di Indonesia mengenal cara pandang Jerman. Di saat yang sama, kami juga melihat ketertarikan besar di Jerman terhadap serial dan cerita dari Indonesia. Ini tentang saling terhubung dan berbagi perspektif,” sambungnya.
Selain pengembangan film, lanjut Michel, kemitraan juga mencakup penguatan pembelajaran bahasa Jerman, program akademik bersama, hingga penerjemahan karya sastra. Unpad, misalnya, akan terlibat dalam proyek penerjemahan literatur anak dan remaja dari bahasa Jerman ke bahasa Indonesia.
Rektor Unpar, Tri Basuki Joewono, menuturkan, kolaborasi ini telah dimulai melalui berbagai kegiatan diskusi, pameran, hingga forum seni yang difasilitasi Goethe-Institut dalam beberapa tahun terakhir. Penandatanganan kesepakatan kali ini menjadi langkah formal untuk memperluas cakupan dan kesinambungan program.
“Goethe-Institut punya banyak peluang dan jejaring, sementara perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik dan sumber daya. Keduanya bisa dikolaborasikan. Hari ini itu diformalkan sebagai penanda untuk menyiapkan langkah yang lebih jauh ke depan,” kata Tri.
Tahap awal kerja sama akan berfokus pada pengembangan proyek-proyek bersama, seperti diskusi film, produksi karya kolaboratif, hingga pengembangan animasi berbasis budaya seperti Anime wayang. Selain itu, Unpar misalnya, akan terlibat melalui Program Studi Integrated Arts yang memiliki kekuatan pada penciptaan karya performatif.
Peluang student mobility maupun faculty mobility pun, terbuka untuk dikembangkan pada tahap berikutnya sebagai luaran lanjutan dari kemitraan tersebut.
Tri menambahkan, dibandingkan tahun sebelumnya, cakupan kerja sama tahun ini akan jauh lebih luas karena melibatkan lebih banyak perguruan tinggi serta ragam aktivitas yang semakin kaya.
“Kalau sebelumnya lebih banyak diskusi, sekarang akan bergerak ke produksi dan kolaborasi karya. Jadi skalanya meningkat,” ucapnya.
Proyek Film
Agenda yang segera berjalan dalam waktu dekat adalah kelanjutan proyek film yang telah dirintis tahun lalu. Selain itu, sejumlah kampus juga menyiapkan pertunjukan seni yang akan menjadi bagian dari program bersama.
Tri menuturkan, secara substantif, kerja sama ini bertujuan menjadikan budaya sebagai medium untuk membangun dialog kemanusiaan dan masa depan yang berkelanjutan.
“Kalau kita bicara isu dunia, pengenalannya sering kali dimulai dari budaya. Dari wayang, dari film, dari seni, orang belajar memahami perspektif lain. Dari sana lahir kolaborasi untuk membangun dunia yang lebih baik,” katanya.
Forum bertajuk Growing Cultural Futures Together itu juga diisi diskusi panel mengenai peran universitas dan lembaga kebudayaan dalam menjawab tantangan global melalui kolaborasi internasional. (des)***





