Gubernur Dedi Mulyadi Bahas Falsafah Kasundaan Saat Dies Natalis UIN Bandung ke-58

IMG 20260408 WA0012 2
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tampil menyampaikan orasi ilmiah dalam seremoni Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis UIN Sunan Gunung Djati Bandung ke-58, di Gedung Anwar Musaddad, Rabu, 8 April 2026, (Foto: Dok. UIN Bandung).

ZONALITERASI.ID Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tampil menyampaikan orasi ilmiah dalam seremoni Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis UIN Sunan Gunung Djati Bandung ke-58, di Gedung Anwar Musaddad, Rabu, 8 April 2026.

Selain dihadiri KDM, sapaan Dedi Mulyadi, dalam acara ini juga hadir anggota DPR-RI Maman Imanulhaq, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Kelembagaan Keagamaan Kemenag Iswandi Syahputra, salah satu pendiri IAIN SGD yang masih hidup Taqdimullah, Wakil Gubernur Jawa Barat 2003-2008 Nu’man Abdul Hakim, Rektor Bandung periode 1995-2003 Endang Soetari, Ketua DKM Masjid Raya Al-Jabar Tata Sukayat, dan Ketua Umum PP IKA Cucu Sutara.

Dalam orasi ilmiahnya yang mengangkat tema tentang budaya urang Sunda dan peradaban Pasundan, KDM menekankan pentingnya membangun peradaban berbasis nilai dan tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

Menurutnya, selama ini peradaban kerap berhenti pada tataran wacana, tanpa diikuti tindakan nyata yang berakar dari kearifan lokal.

“Sejak dulu kita menjadi bangsa yang gemar ngawacana, berbicara tentang peradaban, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan praktik hidup yang beradab. Wacana harus dibarengi dengan tindakan,” ujarnya.

KDM mencontohkan kepeduliannya terhadap persoalan lingkungan sebagai bagian dari praktik peradaban, bahkan dari hal-hal kecil seperti mengelola sampah. Bagi dia, tindakan sederhana yang konsisten justru menjadi teladan nyata dibanding sekadar diskursus panjang tanpa implementasi.

“Wacana sering berakhir di ruang diskusi, bahkan di meja jamuan. Sementara tindakan adalah teladan. Saya belajar dari karuhun (leluhur), bahwa nilai hidup harus dirasakan dan dijalankan. Saeutik mahi, loba nyesa. Urang Sunda manajemen kerjana kudu pok, pek, prak,” ungkapnya.

Kata KDM, untuk berbagai kerusakan lingkungan dan sosial tidak lepas dari pendekatan yang terlalu teknokratis dan minim sentuhan nilai. Menurutnya, pembangunan sering kali berangkat dari proyek, bukan dari rasa dan kearifan.

“Banyak kerusakan justru lahir dari kajian akademik yang tidak berpijak pada nilai. Peradaban tidak cukup dibangun oleh konsep, tetapi oleh rasa sebagai inti dari nilai dan seni kehidupan,” ucapnya.

“Dalam pandangan Sunda, manusia yang paling buruk adalah yang merusak alam. Yang paling buruk adalah orang yang menebang pohon sampai ke akar-akarnya,” sambung KDM.

KDM menambahkan, dalam khazanah budaya Sunda, peradaban harus bersumber pada kekuatan spiritual yang terintegrasi dengan seni, budaya, dan teknokrasi. Filosofi “ka luhur sirungan, ka handap akaran” menjadi landasan penting tentang pembangunan harus memiliki orientasi nilai ke atas, akar yang kuat ke bawah dalam kehidupan masyarakat.

“Dalam falsafah Sunda, peradaban tertinggi itu rasa. Karena tertinggi rasa maka orang Sunda itu tidak menulis peradaban, orang Sunda tidak mendiskusikan peradaban, tidak membuat konsensus, dia yang tertinggi,” ujarnya.

“Pemahaman nilai kehidupan cukup dilakukan melalui penghayatan. Dengan melihat memandang, mendengar, dan merasa maka dia bisa merasakan mana yang mesti dilakukan dan mana yang mesti tidak dilakukan,” tambah KDM.

Ketua Senat Universitas, Mahmud, menuturkan, 58 tahun bukan sekadar penanda usia. Dalam rentang itu, ada jejak panjang pergulatan intelektual, pengabdian, dan ikhtiar peradaban.

“UIN Bandung telah melewati berbagai fase sejarah, mulai lembaga yang sederhana, tumbuh menjadi perguruan tinggi keagamaan yang kokoh, dan kini tampil sebagai universitas yang memiliki posisi penting dalam lanskap pendidikan tinggi baik di tingkat nasional maupun tingkat global,” tuturnya.

“Di usia ke-58 ini, UIN Bandung harus berani melangkah lebih jauh, tidak hanya menjadi kampus yang unggul secara administratif dan akademik, tetapi juga kampus yang relevan, transformatif, dan menyentuh persoalan nyata di masyarakat,” sambung Mahmud.

Sementara Rektor UIN Bandung, Rosihon Anwar, mengungkapkan, tasyakuran Dies Natalis ke-58 ini hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai momentum refleksi dan konsolidasi.

”Momentum untuk meneguhkan kembali arah, cita-cita, dan tanggung jawab sejarah kita. Mari kita bekerja sama dan sama-sama bekerja kita bangun bersama UIN Bandung sebagai kampus yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam akhlak, tajam dalam riset, kuat dalam pengabdian, dan luas manfaatnya bagi masyarakat,” ungkapnya. (des)***