ZONALITERASI.ID – Kementerian Agama (Kemenag) merespons hasil asesmen yang memperlihatkan masih rendahnya kemampuan baca Al-Qur’an di kalangan guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Respons dari Kemenag ini berupa digelarnya pelatihan pendek (short course) ketuntasan baca Al-Qur’an, di Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis, 15 Januari 2026. Kegiatan diikuti oleh 4.921 guru PAI di sekolah umum.
Sebagai informasi, hasil asesmen bertajuk Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, pada pertengahan Desember 2025, menyebutkan, sekitar 49%-68% kemampuan baca Al-Quran guru PAI di level pratama (basic). Hanya 13%-17% yang berada di level mahir.
“Tentu angka ini memprihatinkan. Pusbangkom punya tanggung jawab moral untuk menyediakan layanan yang dapat diakses guru-guru tersebut,” kata Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan, Mastuki, saat membuka short course ketuntasan baca Al-Qur’an, Kamis, 15 Januari 2026, dikutip dari laman Kemenag.
Menurut Mastuki, rendahnya hasil asesmen tersebut menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan agama. Sebab sebagai pengajar, guru PAI dituntut memiliki kompetensi dasar yang kuat, terutama dalam membaca Al-Qur’an sebagai prasyarat dasar seseorang bisa mengajar agama. sumber utama ajaran Islam.
“Kami punya resorces untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru PAI. Secara sarana kami punya 4 lokal smart classroom di kampus Ciputat, platform klinik pengetahuan MOOC Pintar yang dapat diikuti ribuan peserta. Makanya kami selenggarakan hybrid learning untuk memberikan akses luas pada guru PAI di seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Short Course Ketuntasan Baca Al-Qur’an
Selanjutnya Mastuki mengatakan, short course ketuntasan baca Al-Qur’an yang diikuti 4.921 guru PAI di sekolah umum, dirancang sebagai langkah cepat untuk memperkuat kompetensi dasar guru PAI.
Dia menilai, capaian 4.921 peserta bukan sekadar angka statistik, melainkan langkah nyata dalam memperbaiki kualitas guru PAI. Meski jumlah tersebut belum sebanding dengan kebutuhan nasional, program ini menjadi sinyal kuat bahwa peningkatan literasi Al-Qur’an guru PAI tidak boleh diabaikan.
“Namun ini bukan sekadar angka. Ini adalah pernyataan sikap. Kita sedang menghadapi alarm keras di mana 69 persen guru PAI kita masih di level dasar. Bagaimana mungkin kita bicara kualitas pendidikan agama jika fondasi literasinya belum kokoh”, jelasnya.
Mastuki menambahkan, short course ini merupakan solusi jangka pendek yang harus diikuti dengan langkah lebih sistematis dan kolaboratif. Ke depan, penguatan kompetensi guru PAI perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari direktorat terkait, perguruan tinggi, hingga instansi lainnya.
“Melalui hybrid learning ini, saya ingin 4.921 peserta ini tidak hanya sekadar ‘lewat’. Kalian harus naik kelas secara mandiri namun tetap terarah. Kami ingin seluruh peserta mengambil manfaat maksimal agar mampu memberikan pengajaran agama yang jauh lebih berkualitas bagi siswa-siswi di sekolah,” tegasnya. (des)***





