ZONALITERASI.ID – Guru Besar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., mengatakan, salah satu tantangan utama dalam pembelajaran sejarah adalah anggapan bahwa mata pelajaran ini membosankan dan terlalu berfokus pada hafalan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya variasi sumber belajar yang digunakan, padahal museum dapat menjadi sumber pembelajaran yang kaya akan pengalaman nyata.
“Guru yang kreatif perlu mengembangkan metode yang lebih interaktif dengan memanfaatkan museum sebagai sarana eksplorasi sejarah. Dengan pendekatan yang lebih inovatif, pembelajaran sejarah tidak hanya lebih menarik, tetapi juga lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa,” kata Prof. Leli Yulifar, saat menyampaikan Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ranting Ilmu/Kepakaran Museologi pada FPIPS UPI, di Gedung Achmad Sanusi UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Selasa, 20 Mei 2025. Guru Besar Museologi pertama di Indonesia itu menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ” Reimagining Museums: Spektrum Sumber Belajar Sejarah dalam Ruang Pendidikan yang Berkelanjutan”.
Menurut Prof. Leli, sesuai dengan PP No. 66 Tahun 2015, museum memiliki tugas untuk melakukan pengkajian, edukasi, dan rekreasi sebagai satu kesatuan yang integral. Artinya, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah tetapi juga harus mampu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Kesadaran individu dalam menjadikan museum sebagai sumber belajar merupakan investasi awal bagi pendidikan berkelanjutan,” terang Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI itu .
Prof. Leli menuturkan, museum di Indonesia masih sering dianggap tempat yang menyeramkan dan belum menjadi bagian dari budaya belajar masyarakat, berbeda dengan di negara maju. Kunjungan ke museum lebih sering dilakukan karena tugas akademik daripada kesadaran pribadi. Padahal, museum memiliki potensi besar sebagai sumber belajar sejarah yang berkelanjutan jika didukung oleh program publik yang kreatif dan teknologi modern.
“Dengan pengelolaan yang lebih inovatif, museum dapat menjadi ruang edukasi yang menarik dan menyenangkan, sehingga menarik minat masyarakat untuk mengunjunginya tanpa paksaan,” ucapnya.
Guru Belum Optimal Kembangkan Kreativitas Sumber Belajar Sejarah
Prof. Leli mengungkapkan, stigma yang menyebutkan pelajaran sejarah sebagai mata ajar yang membosankan, tidak menarik, atau membuat mengantuk, bisa jadi disebabkan para guru/dosen hanya mengajarkan deretan peristiwa yang harus dihapal para peserta didik, dengan keharusan mengingat angka tahun, nama tempat dan nama tokoh.
“Sebagian besar guru masih mengandalkan posisinya sebagai sumber belajar sejarah yang utama. Padahal, sumber belajar sejarah itu sangat luas, beragam dan kaya dengan pilihan. Seorang guru yang dibekali dengan kompetensi pedagogik kreatif akan melahirkan guru sejarah yang rasional, yang mampu mengembangkan imaginasinya,” ujarnya.
Prof. Leli menandaskan, dengan demikian, dapat diidentifikasi, bahwa permasalahan tersebut antara lain bersumber pada guru yang masih belum optimal dalam mengembangkan kreativitas sumber belajar sejarah, yang mengakibatkan persepsi dan respons siswa seperti yang dilaporkan para periset hampir beberapa dekade yang lalu, sampai saat ini belum banyak perubahan.
Karena itu, lanjutnya, penting untuk melakukan identifikasi lebih lanjut tentang beragam sumber belajar sejarah dan pengklasifikasiannya, dengan mengacu kepada sebuah konsep atau teori, sehingga para pendidik sejarah bisa melakukan pilihan dengan kesadaran penuh dan terukur atas dampak dari keputusan dalam menentukan sumber belajar tersebut.
Di antara sumber belajar yang relatif mudah diakses adalah museum yang saat ini di Indonesia berjumlah sekira 500 buah, dengan jumlah resmi (terdaftar) di Kemenristek DIKTI adalah 450 museum. Namun demikian, dengan adanya perubahan nomenklatur di kementerian, kini museum berada di bawah Direktorat Sejarah dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Museum bagi sebagian besar masyarakat Indonesia bisa jadi identik dengan tempat yang menyeramkan, karena menghimpun berbagai artefak yang menjadi jejak manusia dan budayanya pada masa lampau. Di samping itu, kunjungan ke museum belum menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia, sebagaimana di negara maju. Demikian juga para pelajar dan mahasiswa berkunjung ke museum hanya karena ditugaskan oleh pihak guru atau sekolah. Karena itu, perlu pengembangan berbagai program publik yang kreatif dan penggunaan teknologi terkini agar museum menjadi sumber belajar dalam ruang pendidikan yang berkelanjutan,” kata Prof. Leli. (des)***





