Hangat dan Meriahnya Halal Bihalal Urang Cileungsir Ciamis di Bandung Raya

WhatsApp Image 2025 04 19 at 20.34.35
Sesepuh warga Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis di Bandung Raya, Nana Supriatna dan Suherman saat berbicara dalam acara halal dihalal, di RM Ponyo Cinunuk, Kabupaten Bandung, Sabtu, 19 April 2025. (Foto: Dok. Kowaci)

ZONALITERASI.ID – Cuaca di kawasan Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, terlihat cerah pada Sabtu, 19 April 2025, pagi.

Ya, pagi yang cerah di wilayah Bandung bagian timur itu, secerah suasana yang hadir di RM Ponyo Cinunuk. Rumah makan yang berlokasi  di Jalan Raya Cinunuk 186 Cileunyi itu menyambut kedatangan tamu yang hendak mengikuti “Halal Bihalal Urang Cileungsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis di Bandung Raya”. Acara ini digelar oleh Komunitas Warga Cileungsir (Kowaci).

Pantauan di lokasi halal bihalal, warga Desa Cileungsir yang kini ngumbara (merantau) di Bandung Raya datang satu per satu mulai pukul 08.00 WIB. Mereka berasal dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Bahkan, ada juga yang datang dari luar Bandung Raya, seperti Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut .

Tepat pukul 09.00 WIB acara halal bihalal pun dimulai. MC halal bihalal, Nunung Nurlaila, saat menyampaikan pembuka acara, langsung menyambut kedatangan hadirin asal Cileungsir yang kini ngumbara di Bandung Raya. Perintis Kowaci, yaitu Nenek Amis dan Nenek Sri disebutkan di awal sambutan.

Selanjutnya beberapa sesepuh warga Cileungsir di Bandung Raya yang berasal dari 5 dusun (Dusun Desa, Pasirdahu, Pangrumasan, Sukajadi, dan Dusun Sukamaju), seperti Nana Supriatna, Suherman, Dede Kuswanda, Tedi Mulyana, Suheryadi, Siti Atikah, Daswan, Edi, Lili, Darman, Nana Rukmana, Rasdjo, dan Eso Rohadisa disebutkan satu per satu.

Lalu, setelah pembacaan ayat suci Alquran, shalawat nabi, tawasul untuk sesepuh Kowaci yang sudah wafat, dan tausyiah, acara berlanjut dengan prakata panitia yang disampaikan oleh Ketua Pelaksana, Dasta.

Pada kesempatan itu, Dasta menyampaikan terima kasih kepada warga Cileungsir di Bandung Raya yang menghadiri halal bihalal.

“Acara halal bihalal ini dihadiri lebih dari 100 orang warga Cileungsir di Bandung Raya. Terima kasih banyak kepada wargi-wargi yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara ini,” katanya.

Menurut Dasta, halal bihalal bertujuan untuk merekatkan tali silaturahmi di antara warga Cileungsir yang mengembara di Bandung Raya.

“Walaupun kita hidup di pangumbaraan, namun keterikatan kita terhadap kampung halaman tak akan putus. Dengan jalinan silaturahmi yang erat, kita tak merasa hidup sendiri. Ternyata banyak wargi urang Cileungsir yang ngumbara di Bandung Raya,” ujarnya.

“Walaupun kita hidup ngumbara, namun sasieureun sabeunyeuran kita pun dapat menunjukkan perhatian terhadap kampung halaman, baik pikiran maupun materi. Mudah-mudahan, ke depan kita bisa sauyunuan ikut memajukan lembur,” sambungnya.

Menjalin Silaturahmi dan Saling Membantu

Sementara itu, di sesi sambutan, tampil sesepuh urang Cileungsir di Bandung Raya, Nana Supriatna dan Suherman.

Sesepuh urang Cileungsir, Nana Supriatna, membebeberkan sejarah berdirinya Kowaci. Menurutnya, Kowaci yang berdiri sekitar 20 tahun yang lalu, semula merupakan wadah bagi warga Cileungsir yang bekerja di perusahaan Badan Tekstil Nasional (BTN) untuk menjalin silaturahmi dan saling membantu.

“Pendiri Kowaci antara lain Bapak Awa  dan Bapak Iwa. Adapun yang pernah menjadi Ketua Kowaci yaitu Bapak Hasan dan  Bapak Emong Jumar. Semua perintis dan ketua di awal-awal Kowaci berdiri sudah almarhum,” terangnya.

“Saat didirikan, Kowaci merupakan singkatan dari Koperasi Warga Cileungsir. Melalui wadah ini, di antara anggota Kowaci bisa saling membantu baik pikiran maupun material. Pada perjalanan selanjutnya, saya setuju jika wadah ini berkembang menjadi komunitas warga Cileungsir yang ngumbara di Bandung Raya. Cakupannya bisa lebih luas lagi,” sambung Nana.

Nana menambahkan, rasa peduli terhadap Cileungsir merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Sebab, kampung halaman merupakan pijakan awal untuk melangkah menuju perjalanan hidup selanjutnya.

“Saya menghabiskan masa kecil di Cileungsir. Baru setelah tamat SMP saya ngumbara di Bandung. Banyak kenangan masa-masa kecil di Cileungsir yang tak akan hilang sampai kapanpun,” imbuh Nana.

Sesepuh lainnya, Suherman, menuturkan, berkumpulnya warga Cileungsir dalam halal bihalal, menjadi momen yang tepat untuk ngantengkeun silaturahmi, manjangkeun duduluran.

Kata Suherman, seperti kata peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, harus juga diterapkan oleh urang Cileungsir yang ngumbara di Bandung Raya.

“Bagi urang Cileungsir yang ngumbara di Bandung, menjalin hubungan baik dengan siapapun di pengembaraan harus dilakukan. Namun, di sisi lain, rasa cinta terhadap kampung halaman tentu tak akan hilang. Itu adalah tempat lahir kita. Mudah-mudahan kita pun bisa memberikan sumbangsih untuk lembur tercinta,” ujarnya.

Di penghujung halal bihalal, ada sesi foto, ramah tamah, pembagian doorprize, dan doa. Acara pun berakhir pukul 13.00 WIB.

Setelah melewati setengah hari di RM Ponyo Cinunuk, ekspresi sumringah pun terlihat dari wajah hadirin yang meninggalkan lokasi acara. Hari Sabtu yang menyenangkan bagi urang Cileungsir yang ngumbara di Bandung Raya. (dede suherlan)***