ZONALITERASI.ID – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, mengungkapkan, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memiliki program manajemen talenta kebudayaan yang sangat relevan dengan pengembangan seni tari.
“Program ini bertujuan membangun jalur pengembangan ekosistem seni, terutama tari, melalui pendampingan, pelatihan, serta pelibatan masyarakat,” ujar Menbud dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 6 Juni 2025, dikutip dari Antara.
Menbud juga menyoroti pentingnya mendukung sanggar-sanggar kecil di berbagai daerah yang menjadi ujung tombak pelestarian budaya. Selain itu, mendorong penyelenggaraan pertunjukan berkala yang melibatkan masyarakat luas.
Integrasi tari ke dalam sektor lain seperti pariwisata, pendidikan, dan diplomasi budaya juga menjadi bagian dari strategi yang diusulkan.
“Saat ini terdapat tujuh institut seni yang tersebar di sejumlah wilayah, seperti di Solo, Yogyakarta, Aceh, Bandung, Padang Panjang, Bali, dan lainnya. Harapannya, pendidikan seni dapat menjadi motor penggerak untuk memperluas distribusi budaya secara merata, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa atau kota-kota besar,” jelasnya.
Regulasi Pendanaan Budaya
Selanjutnya Menbud menyampaikan perlunya regulasi pendanaan budaya dan kolaborasi antar-kementerian termasuk Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif untuk memperkuat ekosistem ini.
“Kolaborasi lintas institusi dan dukungan kebijakan dalam membangun ekosistem seni tari yang berkelanjutan di Indonesia begitu penting,” tandasnya.
Menbud menambahkan, ada harapan bahwa seni tari Indonesia dapat dikenal secara internasional dan menjadi bagian dari kontribusi budaya global.
“Ekosistem tari harus dibangun secara inklusif, berkelanjutan, dan tidak terpusat hanya di kota-kota besar,” imbuhnya.
Koreografer dan Pendiri Yayasan Seni Tari Indonesia, Hartati, memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi ekosistem tari di Indonesia, termasuk akses pengetahuan yang tidak merata, dominasi program inkubator di Pulau Jawa, serta kurangnya jembatan antara festival besar dan seniman pemula.
“Tantangan utama adalah keberlanjutan program dan pentingnya jejaring antar-wilayah serta institusi. Yayasan juga berupaya menghindari sentralisasi seperti misalnya memandang Jakarta sebagai barometer, dengan mendorong ekspresi lokal yang dikemas secara kontemporer,” ujar Hartati. ***





