ZONALITERASI.ID – Permasalahan stunting masih menjadi perhatian serius di Indonesia, termasuk di wilayah pedesaan. Stunting tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan kecerdasan serta kualitas hidup di masa depan.
Menyadari pentingnya upaya pencegahan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 05 Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (Ummada) Cirebon melaksanakan kegiatan edukasi gizi dengan memperkenalkan puding daun kelor (kelorin) kepada masyarakat Desa Tuk, Perumahan Jalan Pembangunan RW 07, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, beberapa waktu lalu.
Daun kelor atau moringa oleifera sering disebut sebagai tanaman ajaib karena kandungan nutrisinya yang sangat tinggi. Daun berwarna hijau ini kaya akan protein nabati, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, serta antioksidan yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Bahkan, menurut penelitian, kandungan vitamin C dalam daun kelor lebih tinggi dibandingkan jeruk, sementara kandungan kalsiumnya melebihi susu.
Sayangnya, meski pohon kelor mudah tumbuh di pekarangan rumah dan sering ditemui di masyarakat, pemanfaatannya masih terbatas. Banyak orang menganggap kelor hanya sebagai sayur biasa dan belum terbiasa mengolahnya menjadi makanan yang lebih variatif, apalagi untuk dikonsumsi anak-anak.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Kel-05 Ummada memperkenalkan puding daun kelor (kelorin) sebagai inovasi olahan pangan lokal yang sehat, enak, dan mudah dibuat. Puding dipilih karena teksturnya lembut, rasanya manis, dan disukai oleh anak-anak. Dengan tambahan daun kelor, puding tidak hanya menjadi camilan lezat, tetapi juga kaya akan gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
“Kami ingin menghadirkan solusi sederhana untuk pencegahan stunting. Tidak perlu makanan mahal, cukup memanfaatkan sumber daya lokal seperti daun kelor. Jika diolah menjadi puding, anak-anak akan lebih mudah menerima rasanya,” ungkap Ketua KKN Kel-05, Rival.
Kegiatan KKN Kel-05 ini dihadiri oleh bidan desa, ibu-ibu rumah tangga, kader Posyandu, serta anak-anak. Acara dimulai dengan penyuluhan singkat mengenai bahaya stunting, pentingnya pemenuhan gizi, serta peran daun kelor dalam menjaga kesehatan. Setelah itu, mahasiswa mendemonstrasikan cara membuat puding daun kelor, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga penyajian.
Suasana semakin meriah ketika warga diajak langsung mencoba membuat puding. Anak-anak tampak antusias mencicipi hasil olahan tersebut. Beberapa ibu mengaku terkejut karena rasa puding daun kelor tetap enak dan tidak berbeda jauh dari puding pada umumnya.
“Biasanya anak-anak susah makan sayur, apalagi kelor. Tapi kalau dibuat puding seperti ini, mereka mau coba. Ini sangat bermanfaat untuk kami,” ujar salah satu warga Desa Tuk yang tidak mau disebutkan namanya.
Selain memperkenalkan puding daun kelor, mahasiswa juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam mengolah bahan pangan lokal. Daun kelor bisa dijadikan berbagai macam olahan seperti nugget, bakwan, atau minuman sehat. Dengan demikian, gizi keluarga bisa terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa KKN Kel-05 berharap masyarakat Desa Tuk dapat terus memanfaatkan daun kelor sebagai salah satu alternatif pangan bergizi tinggi. Dukungan ibu-ibu rumah tangga sebagai pengolah makanan keluarga menjadi kunci penting dalam keberhasilan program pencegahan stunting.
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa langkah kecil dari mahasiswa dapat membawa dampak besar bagi kesehatan generasi masa depan. (Reva Adrevi Az zahra)***





