Ketua ABPPTSI Jabar: Sudah Saatnya Kebijakan Diskriminatif terhadap PTS Dihapus

1687797761
Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI), di Hotel Pullman Bandung, Rabu, 16 Juli 2025, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Jawa Barat, Dr. Ricky Agusiady, menegaskan, sudah saatnya kebijakan diskriminatif terhadap PTS dihapus. Banyak PTS di Jawa Barat telah setara, bahkan bersaing dengan perguruan tinggi negeri (PTN).

“Sudah saatnya PTS tidak lagi menjadi korban diskriminasi kebijakan. Kami bukan sekadar alternatif, kami adalah kekuatan riil dalam mencetak SDM Indonesia,” kata Ricky, saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III ABPPTSI, di Hotel Pullman Bandung, Rabu, 16 Juli 2025.

Ricky mengungkapkan, persepsi publik kerap menempatkan PTS sebagai kasta kedua. Padahal kenyataannya, ribuan PTS di Indonesia memikul beban besar membangun sumber daya manusia, justru dalam kondisi yang jauh dari subsidi dan fasilitas negara.

“Transformasi digital, otonomi kampus, dan daya saing global seharusnya menjadi medan permainan yang setara. Bukan hanya PTN yang bisa unggul,” kata Ricky.

Selanjutnya Ricky menuturkan, Rakernas ini bukan hanya ajang tukar pikiran. Ini adalah perlawanan strategis terhadap diskriminasi sistemik.

“Lebih dari 500 peserta dari 38 provinsi hadir, bukan untuk sekadar duduk manis, tapi untuk menegaskan bahwa PTS tidak bisa terus-menerus diperlakukan sebagai ‘pemain cadangan’,” ucapnya.

“PTS harus menjadi penjaga kedaulatan intelektual bangsa. PTS adalah benteng terakhir pendidikan rakyat, dan di sinilah integritas akademik diuji tanpa dukungan negara,” tandas Ricky.

Ricky menambahkan, PTS tidak hanya berperan akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan pengabdian masyarakat.

“Rakernas ini wadah untuk menyinergikan langkah PTS, memastikan relevansi di tengah dinamika pendidikan, dan mendukung kedaulatan bangsa melalui pendidikan bermartabat,” katanya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Asep Sukmana, turut mendukung kesetaraan PTS dan PTN.

“Bagi kami, tidak ada pembedaan antara PTS dan PTN. Keduanya adalah mitra strategis untuk membangun SDM unggul, khususnya di Jawa Barat,” ujarnya.

Ia mengatakan, tantangan seperti rendahnya rata-rata lama sekolah (sekitar 8 tahun) serta persoalan ekonomi dan sosial di Jawa Barat membutuhkan kontribusi nyata dari perguruan tinggi.

“Pemerintah daerah tidak membedakan PTS dan PTN. Yang terpenting adalah bagaimana perguruan tinggi memberikan dampak positif bagi Jawa Barat dan Indonesia. Hasil Rakernas ini akan kami pelajari sebagai bahan kebijakan,” kata Asep.

Pada kesempatan sama, Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menyebut PTS sebagai motor transformasi global.

PTS harus mencetak pemimpin, inovator, dan penjaga nilai bangsa. Banyak tokoh sukses lahir dari PTS. Itu membuktikan potensi besar PTS.

“Bandung sebagai kota kreatif dan pelajar siap berkolaborasi untuk memajukan pendidikan tinggi,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Rakernas III ABPPTSI diikuti 500 peserta dari 38 provinsi. Tema Rakernas yaitu “Perubahan Paradigma dan Transformasi PTS: Melompat untuk Indonesia Emas”.

Rakernas ini fokus pada lima agenda yaitu menyamakan visi antar-PTS, menampung masalah riil, memperkuat jejaring lintas kampus, memberikan afirmasi positif melalui role model sukses, dan belajar dari model internasional seperti Korea Selatan. (des)***