Kisah Maulana Haqiqi: Hidup Prihatin Waktu Kuliah di ITB, Kini Punya Puluhan Usaha Pertambangan

67820229682a0 1
Maulana Haqiqi, pria sederhana asal Lumajang, Jawa Timur, berhasil memutus rantai kemiskinan. Lulusan Teknik Pertambangan FTTM ITB ini, memiliki puluhan tambang galian. (Foto: Dok. Puslapdik)

ZONALITERASI.ID – Maulana Haqiqi, pria yang berlatar belakang keluarga kurang mampu asal Lumajang, Jawa Timur, berhasil memutus rantai kemiskinan.

Lulusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2017 ini, memiliki puluhan tambang galian. Kini, di usia yang masih 29 tahun, Haqiqi sukses sebagai pengusaha tambang galian C (pasir besi).

Area tambangnya tersebar antara lain di Lumajang. Kota Kabupaten yang berada di kawasan tapal kuda Jawa Timur itu memang merupakan daerah penghasil pasir terbesar di Provinsi Jawa Timur dan merupakan salah satu daerah yang banyak terdapat perusahaan tambang pasir yang memiliki IUP (izin usaha pertambangan).

Selain di Lumajang, area tambang yang dimiliki Haqiqi tersebar di Ponorogo, Trenggalek, Pasuruan, dan Probolinggo. Usaha tambangnya bernaung di bawah enam badan usaha. Di luar enam badan usaha itu, Haqiqi juga sedang mengurus proses perijinan 16 area tambang lainnya.

Bawa Ikan Asin Saat Kuliah

Dilansir dari laman Puslapdik Kemdikbud, Selasa, 14 Januari 2025, Haqiqi lahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru ngaji di sebuah madrasah di Lumajang dengan upah hanya Rp. 500.000 per bulan dan ibunya menggarap tani di lahan kecil.

Anak sulung dari dua bersaudara itu sejak kecil terus berprestasi dan selalu meraih posisi ranking 1.

Dengan prestasi itu, biaya pendidikan Haqiqi digratiskan oleh sekolah. Bahkan, Haqiqi memperoleh biaya kursus dari salah seorang gurunya.

Menjelang lulus dari SMAN 2 Lumajang tahun 2013, sekolahnya melakukan pemetaan profil siswa untuk mencari siswa yang layak memperoleh beasiswa Bidikmisi atau yang kini disebut KIP Kuliah Merdeka (Kartu Indonesia Pintar).

“Dicari yang benar-benar dari keluarga sederhana, tapi kemampuannya ada untuk dapat Bidikmisi. Karena ayah saya memang dapat dari Madrasah itu Rp.500.000, dan hanya dari sawah, alhamdulillah masuk kriteria untuk Bidikmisi,” ujar Haqiqi.

Soal pilihannya ke Prodi Pertambangan, diakui Haqiqi, berawal pengetahuan akan potensi Lumajang dalam hal tambang pasir serta dari keinginannya untuk hidup lebih baik. Oleh karena itu, dia ingin berkuliah di prodi yang baik dan oleh guru BK disarankan daftar di FTTM ITB.

“Alhamdulillah keterima dan di tahun ke-2, saya memantapkan untuk milih jurusan pertambangan,” katanya.

Haqiqi mengenang, saat itu dari Bidikmisi memperoleh biaya hidup Rp 950.000 per bulan. Dalam upaya menghemat pengeluaran, seringkali Haqiqi membawa bekal berupa ikan asin buatan sang ibu dari kampung halaman. Ia bawa bekal ikan asin banyak dari kampung untuk stok makan berbulan-bulan agar hemat.

Di samping itu, Haqiqi tinggal di asrama Sangkuriang milik ITB. Untuk itu, Haqiqi tidak perlu bayar, bahkan dapat honor karena menjadi kepala asrama.

Haqiqi juga memperoleh tambahan pemasukan berupa beasiswa Rp.600.000,- sebagai pengajar les privat Fisika di Masjid Salman.

Walau sibuk kuliah Haqiqi juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan. Haqiqi dipercaya menjadi Ketua Angkatan Mahasiswa FTTM 2013, dan selama dua periode menjadi Ketua Asrama Sangkuriang.

Di luar kampus, Haqiqi berkegiatan sebagai imam dari masjid ke masjid dan dari mushola ke mushola di sekitar asrama Sangkuriang yang terletak di Jalan Cisitu, Bandung.

Awal Mula Membuka Usaha Pertambangan

Lulus kuliah tahun 2017, Haqiqi diarahkan oleh seniornya di ITB untuk membantu pengusaha-pengusaha tambang di Kabupaten Lumajang dalam pengurusan perizinan, pembebasan lahan, dan lainnya. Dari kegiatan itu, sedikit demi sedikit Haqiqi memperoleh ilmu, wawasan dan koneksi dalam bidang pertambangan, utamanya pertambangan galian C.

“Dari situ saya memperoleh link, wawasan, ilmu tentang pembebasan lahan, pengondisian masyarakat, sampai operasi dan produksi,“ katanya.

Mulailah Haqiqi terjun langsung ke usaha tambang pasir besi. Kiprahnya berawal dari sebagai mitra, lantas mengumpulkan modal sedikit demi sedikit, mempertajam koneksi, dan mulai membuka tambang sendiri pada tahun 2022.

“Kalau perizinan yang milik kami sendiri itu proses sudah mulai 2022, tapi kami baru produksi 2023,” sambungnya.

Memiliki Istri dari Rusia

Satu sisi kehidupan Haqiqi yang menarik adalah memiliki istri berkebangsaan Rusia, Ulianaci, yang juga mahasiswa ITB. Ulianaci merupakan penerima beasiswa pendidikan kerjasama Indonesia dengan Rusia.

Istrinya yang sudah menjadi mualaf sejak tahun 2017 itu mendampingi Haqiqi di Lumajang walau statusnya masih WNA (Warga Negara Asing). Ulianaci bahkan kini menjadi selegram yang kerap tampil dengan busana muslimah dengan konten-konten yang lucu.

Dari pernikahannya dengan Ulianaci, Haqiqi memiliki satu anak, Damir. Uniknya, nama anak semata wayangnya itu dijadikan nama perusahaan-perusahaan tambang miliknya.

“Anak saya satu, namanya Damir. Nama anak saya itu jadi awal nama-nama perusahaan tambang yang saya dirikan. Ada Damir Tambang Perkasa, Damir Putra Perkasa, Damir Mineral Perkasa, dan beberapa lainnya,” pungkasnya. ***