Koding-AI Resmi Jadi Mapel Pilihan pada Tahun Ajaran 2025/2026

kemendikdasmen beberkan kelebihan dan kelemahan ai di ruang kelas 1746604789005 169
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti. Kemendikdasmen beberkan kelebihan dan kelemahan AI di ruang kelas. (Foto: Istimewa)

ZONALITERASI – Koding-AI resmi menjadi mata pelajaran (mapel) pilihan pada tahun ajaran 2025/2026. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti Google agar pembelajaran koding-AI dapat terlaksana.

Saat ini Kemendikdasmen telah menyelesaikan naskah akademik dan capaian pembelajarannya, serta tengah menunggu penerbitan peraturan menteri tentang koding-AI.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan, AI adalah salah satu metode yang menarik dalam memberikan layanan pendidikan. Karena teknologi ini cepat dan informasi bisa diakses dengan mudah dibanding murid membaca buku.

“Kelebihan dari AI adalah bisa memberikan layanan pendidikan yang juga cepat karena akselerasi, akses itu bisa diperoleh murid dibanding dengan dia membaca buku,” kata Mu’ti, usai acara Peluncuran Gemini Akademi dan Gerakan Edukreator di Gedung A Kemendikdasmen, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu, 7 Mei 2025, dilansir dari detikEdu.

Mu’ti menuturkan, kendati koding-AI resmi menjadi mata pelajaran pilihan pada tahun ajaran 2025/2026, ia berharap murid tidak meninggalkan buku. Oleh karena itu diperlukan langkah sinkronisasi antara program koding-AI dan upaya meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi.

“Program ini menurut saya perlu disinkronkan dengan misalnya mendorong murid-murid untuk membaca buku, buku-buku teks. Baik teks yang tertulis maupun yang dengan sajian-sajian elektronik atau bentuk-bentuk pembelajaran permainan yang mengkontekstualisasi materi-materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Mu’ti menambahkan, meski AI memudahkan murid dalam mengakses informasi, ada dua kelemahan dari hadirnya teknologi ini, yaitu:

1. Informasi Belum Tentu Benar

Informasi yang disampaikan AI belum tentu seratus persen benar. Untuk itu, penggunaannya di ruang kelas harus dipandu oleh guru.

2. Menurunkan Minat Baca Murid

Kelemahan kedua berhubungan dengan menurunkan minat baca murid. Sehingga Guru penggunaan AI dan gawai harus tetap disinkronkan dengan dorongan agar murid tetap mau membaca.

“Dorongan untuk mereka bisa melakukan aktivitas-aktivitas pembelajaran. (Sehingga) tidak sepenuhnya bergantung atau hanya menggunakan gawai dan AI itu sendiri,” pungkas Mu’ti. ***