Oleh Nunung Kaniawati
PARENTING bukan sekadar teknik mengatasi perilaku, melainkan sebuah jalan panjang untuk menjemput janji Alloh Robbul Alaamiin, yang terpatri dalam doa Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota ayyun, waj’alna lil muttaqiina imama.
Doa ini adalah muara dari segala ikhtiar yang kita lakukan, sebuah harapan agar anak-anak kita tidak hanya menjadi penerus garis keturunan, namun menjadi penerus perjuangan mewujudkan peradaban Islam. Mereka diimpikan mampu memimpin barisan orang-orang bertakwa.
Harapan besar ini menuntut kita untuk memahami bahwa mendidik adalah seni mengenali diri dan zaman, ada masa untuk menjadikannya tamu agung menghormati dan merawatnya dengan yang terbaik, dan ada pula masa untuk menempa dengan disiplin yang kokoh.
Buku Mutiara Parenting, bermaksud membantu orang tua menemukan “Kompas Filosofis” dan panduan praktis menangani dan menyelesaikan, setidaknya 100 masalah anak usia PAUD dan Sekolah Dasar.
1. Visi Qurrota A’yun
Dalam tradisi parenting yang sering kali terjebak pada angka-angka rapor dan pencapaian akademik, doa Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota ayyun hadir sebagai pengingat akan esensi yang lebih hakiki. Menjadi “penyejuk mata” atau qurrota ayyun bukanlah tentang memiliki anak yang selalu juara kelas, melainkan tentang kualitas hubungan dan karakter. Kesejukan itu muncul ketika orang tua melihat pancaran kejujuran, ketenangan, dan rasa hormat tumbuh dalam diri anak.
Secara filosofis, kita tidak sekadar meminta anak yang baik, tetapi kita sedang memohon kepada Alloh Robbul Alamiin agar diberikan kemampuan untuk mendidik diri kita sendiri terlebih dahulu. Sebab, bagaimana mungkin mata kita akan sejuk memandang anak, jika kita sebagai orang tua tidak mampu menjadi oase bagi mereka? Di sinilah naskah buku ini menekankan bahwa visi qurrota ayyun adalah sebuah kontrak spiritual antara orang tua dan Alloh SWT Maha Pencipta, untuk menciptakan lingkungan rumah yang penuh cinta, sebelum kita menuntut dunia luar menghargai anak-anak kita.
2. Fase Penanaman Fondasi
Pendidikan usia dini adalah masa di mana orang tua berperan sebagai “kurator informasi”. Pada fase ini, anak adalah pengamat paling tajam di dunia. Segala hal yang mereka lihat, bagaimana berelasi sebagai suami istri, atau ayah dan ibu, saat berbicara atau saat marah, cara kita menghargai barang di sekitar termasuk makanan, hingga cara kita berinteraksi dengan sekitar adalah data primer yang mereka serap tanpa filter. Inilah masa mengasah kecerdasan melalui keteladanan atau uswah.
Dukungan yang diberikan bukan sekadar fasilitas materi, melainkan suplai energi emosional dan informasi yang berkualitas. Kita ingin otak mereka yang masih sangat plastis terisi dengan kosa kata kebaikan, konsep kasih sayang, dan rasa aman. Memberikan contoh sikap yang baik pada fase ini bukan sekadar tugas moral, melainkan kebutuhan biologis bagi pertumbuhan saraf mereka. Anak yang terpenuhi kebutuhan informasinya dan mendapatkan contoh sikap yang konsisten di usia dini akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, hangat, dan memiliki binar kecerdasan yang menyenangkan lingkungannya.
3. Fase Gladian untuk Menempa Baja Karakter
Jika usia dini adalah tentang “menerima”, maka usia Sekolah Dasar adalah tentang “melakukan”. Istilah Gladian menggambarkan sebuah proses latihan fisik dan mental yang bertujuan untuk membentuk ketangguhan. Di sinilah disiplin bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Masa sekolah dasar adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan konsep kerja keras, kesungguhan, dan ketekunan (persistence).
Anak-anak diajak untuk memahami bahwa keberhasilan adalah buah dari pengulangan dan konsistensi. Dalam gladian ini, orang tua berperan sebagai pelatih yang tega namun penuh cinta dan besikap tega melihat anak berjuang menyelesaikan tugasnya sendiri, namun tetap menjadi tempat pulang yang nyaman saat mereka merasa lelah. Melalui latihan yang terus-menerus, anak akan membangun “otot karakter” yang kuat. Inilah fase di mana bibit pekerja keras disemaikan, mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari latihan, dan menyerah bukanlah sebuah pilihan dalam kamus seorang pejuang.
4. Kepemimpinan “Lil Muttaqiina Imama”
Puncak dari proses pendidikan ini adalah ketika anak mulai melangkah ke luar dan menjadi bagian dari masyarakat sosialnya. Kalimat Waj’alna lil muttaqiina imama bukan berarti kita meminta anak kita menjadi penguasa, melainkan menjadi pemimpin dalam nilai-nilai kebenaran. Kepemimpinan sejati di tingkat Sekolah Dasar tercermin dari kemampuan anak untuk bersosialisasi, berteman, dan menunjukkan sikap setia kawan.
Seorang anak yang dididik dengan semangat ini akan memiliki keberanian untuk membela temannya yang tertindas, memiliki kejujuran untuk mengakui kesalahan, dan memiliki solidaritas yang tinggi tanpa kehilangan jati diri. Mereka belajar bahwa menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan bagi kebaikan. Inilah manifestasi dari kepribadian yang tangguh namun empatik, yaitu sosok yang setia kawan, membela yang benar, dan menjadi magnet bagi pengaruh-pengaruh positif di sekelilingnya. Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya, tapi juga menjadi cemerlang di sekitar komunitasnya.
Akhirnya, kita menyadari bahwa setiap bab dalam buku ini hanyalah panduan kecil di tengah luasnya samudra pendidikan anak. Keberhasilan sejati bukan terletak pada seberapa banyak teori yang kita hafal, melainkan pada seberapa konsisten kita mempraktikkan doa dan usaha dalam setiap interaksi dengan buah hati. Mari kita jadikan setiap masalah yang muncul sebagai peluang untuk mendewasakan mereka, dan setiap keberhasilan sebagai sarana untuk bersyukur. ***
Cianjur, 25/1/2026
Nunung Kaniawati, Penulis Buku ‘Mutiara Parenting’.





