Kurikulum & Pembelajaran Palestina

WhatsApp Image 2026 01 05 at 07.11.23
Dinn Wahyudin, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Dinn Wahyudin

A. Pengantar

Ketika Pengurus Lembaga Kurikulum Pendidikan Palestina, Sdr. Luthfie Maula Alfianto meminta saya untuk menjadi salah seorang narasumber pada Webinar Pendidikan Palestina dengan tema “Dari Empati ke Aksi Nyata”, saya penuhi dengan penuh suka cita. Ada tiga pertimbangan mengapa pembelajaran tentang Palestina, perlu dikaji secara sepenuh hati bagi generasi muda khususnya dalam konteks pendidikan formal ataupun pendidikan nonformal di Indonesia.

Pertama, kurikulum dan pembelajaran tentang Palestina bukan sekadar menambah pengetahuan tetapi pembelajaran tersebut harus mampu meningkatkan kesadaran dan menanamkan nilai kemanusiaan atas musibah bangsa Palestina. Dalam konteks Indonesia, bagaimana ikhtiar mendidik generasi muda kita agar mereka mampu meningkat kepedulian atas keprihatinan yang terjadi di Gaza dan Palestina atau negara lain yang sedang dilanda krisis kemanusiaan.

Kedua, Palestina sebagai negeri indah para Nabi, patut dijaga dan dilestarikan. Bagi umat Islam, Palestina dan Masjid Al Aqsa adalah peristiwa sejarah umat Islam, yaitu Isra Miraj. Palestina juga menjadi tempat para Nabi karena banyak Nabi dan Rasul yang lahir dan tinggal di sana. Nabi Ibrahim pernah hijrah ke Palestina bersama keluarga dan menikah dengan Siti Hajar di Palestina. Nabi Luth pernah diselamatkan oleh Allah SWT dari azab yang diturunkan Allah kepada kaumnya menuju Bumi yang diberkahi.

Dua perjalanan luar biasa yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yaitu: Isra, perjalanan Rosululloh dari Masjidil Haram, Mekah ke Masjidil Aqsa, Yerusalem Palestina dan Mi’raj, yaitu Rosululloh naik dari Masjidil Aqsa ke langit tertinggi hingga Sidratul Muntaha. Pada peristiwa itu, Rosululloh menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT. Isra miraj menjadi mukjizat terbesar yang diterima Rosululloh dan menjadi tonggak keimanan umat Muslim yang setiap tahun diperingati kaum Muslimin. Oleh sebab itu Masjidil Aqsa Palestina patut terus dijaga dan dirawat.

Ketiga, tragedi Gaza & Palestina merupakan musibah internasional yang paling memilukan. Masyarakat internasional tak cukup hanya berempati, tetapi masyarakat dunia termasuk Indonesia perlu aksi nyata untuk mengakhiri musibah kemanusiaan tersebut.

Berikut kajian singkat yang membahas bagaimana kurikulum dan pembelajaran tentang Palestina dalam perspektif Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, yang insyaAllah diselenggarakan melalui Webinar tanggal 28 Desember 2025.

B. Palestina Negeri Indah

Palestina merupakan wilayah yang terletak di bagian barat benua Asia dan membentuk bagian Tenggara dari Timur Tengah. Negara ini memiliki budaya yang kaya dan topografi yang beragam, serta iklim unik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Palestina diberikan julukan “Negeri Batu Kapur”, ungkapan itu mengacu pada lanskap pedesaan Palestina yang berbukit dan gua-gua yang indah. Umumnya Palestina menggunakan batu kapur sebagai bahan bangunan di negaranya.

Palestina, terkenal dengan negara yang memiliki iklim Mediterania subtropis. Iklim ini termasuk jenis iklim yang unik dan menarik, yang ditandai dengan empat musim yang berbeda. Palestina memiliki empat iklim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin.

Selain iklimnya yang khas, Palestina juga dikenal dengan kebudayaannya yang kaya dan beragam sebagai hasil akulturasi berbagai peradaban sepanjang zaman. Negara ini mayoritas dianut oleh agama Islam, dengan sekitar 85% penduduknya beragama Islam. Sedangkan agama minoritas yaitu Kristen, yang penduduknya sekitar 15% beragama Kristen.

Budaya Palestina terkenal dengan tradisi dan adat istiadat yang unik dan menarik. Beberapa di antaranya ragam kuliner yang khas. Para pelancong dapat menikmati makanan yang disajikan dengan beragam khas negara Palestina. Yaitu hidangan yang terbuat dari zaitun, hummus (sejenis bubur dengan saus khusus), falafel (bola kacang), dan knafeh (hidangan penutup manis).

Penduduk Palestina dikenal dengan keramahannya. Mereka dengan senang hati membantu dan menyambut wisatawan yang mengunjungi negaranya. Mereka juga senang berbagi tentang kebudayaan di Palestina.

Bagi penduduk Palestina, keluarga merupakan bagian yang penting di kehidupan mereka. Menurut mereka, keluarga adalah sumber kekuatan, dukungan, cinta dan kasih sayang. Di negara ini, momen pernikahan juga merupakan peristiwa penting. Ketika upacara pernikahan berlangsung mereka akan merayakannya selama beberapa hari, dengan berbagai musik, tarian, dan makanan.

Palestina juga dikenal memiliki tradisi seni dan musik yang kaya. Mereka dapat membuat karya-karya yang menarik. Selain itu, seni di Palestina bukan hanya tentang keindahan estetik tetapi juga tentang narasi, identitas, dan perlawanan. Bentuk seni yang beragam di antaranya seni rupa, berupa kaligrafi, lukisan, keramik dan bordir yang menggambarkan kehidupan sehari-hari, sejarah, maupun budaya.

Kesusastraan, menjadi ciri negara Palestina. Sastra Palestina kaya akan puisi, novel, dan cerita rakyat yang menceritakan kisah cinta, kehilangan. Karya ini mendokumentasikan pengalaman kolektif rakyat Palestina.

Sebelum invasi Israel, industri film Palestina berkembang pesat menghasilkan dokumenter, film pendek, film fitur yang mengeksplorasi tema sosial dan politik. Demikian juga seni pertunjukkan berkembang pesat. Beberapa jenis pertunjukkan antara lain festival rakyat seperti teater, tari, dan musik menjadi ruang untuk ekspresi budaya, persatuan, dan perlawanan.

Musik di Palestina juga sangat beragam, dengan genre musik yang tentunya diminati di berbagai kalangan seperti dabke, musik rakyat, musik religius dan musik modern. Salah satunya seni Dabke. Yaitu simbol perayaan dan kebersamaan dalam budaya Palestina. Tarian ini berupa tarian rakyat yang populer dengan iringan musik yang energik. Musik rakyat Palestina memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan, seperti perayaan, pernikahan, dan kerja. Lagu-lagu rakyat ini seringkali memiliki makna percintaan, kehilangan, perjuangan, dan harapan. Berkembang juga musik religius. Sebelum konflik, musik Palestina modern berkembang pesat, dengan menggabungkan elemen tradisional dan genre kontemporer seperti musik hiphop ataupun musik rock.

C. Negeri Para Nabi dan Masjid Aqsa

Palestina merupakan negeri yang banyak memiliki kisah para nabi. Palestina juga ditempatkan Allah di lokasi yang cukup strategis sehingga membuat wilayah ini memiliki daya tarik tersendiri baik dari segi sosial hingga penunjang ekonomi. Dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 21, terdapat seruan dari Nabi Musa a.s. untuk kaumnya: “Wahai Kaum-Ku! Masuklah ke Tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.” (Q.S Al-Maidah: 21).

Inilah salah satu ayat yang menjadi penjelasan tentang Palestina adalah bumi yang diberkahi. Palestina juga menjadi tempat para Nabi karena banyak Nabi dan Rasul yang lahir dan tinggal di sana. Nabi Ibrahim pernah hijrah ke Palestina bersama keluarga dan menikah dengan Siti Hajar di Palestina. Nabi Luth pernah diselamatkan oleh Allah Swt. dari azab yang diturunkan Allah kepada kaumnya menuju bumi yang diberkahi.

Palestina merupakan tanah tempat banyak nabi lahir, diutus, bertempat tinggal, dan dimakamkan, termasuk Nabi Ibrahim a.s, Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s, Nabi Zakaria as, Nabi Musa a.s, dan dan Nabi Isa a.s.

Palestina merupakan lokasi Masjidil Aqsa. Masjidil Aqsa di Yerusalem adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Nabi Muhammad SAW menjadi imam bagi seluruh nabi dan rasul saat Isra’ Mi’raj, serta tempat yang diberkahi. Surah Al Isra’ ayat 1 Allah SWT berfirman berfirman, “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Isra’ 17:1) Kisah Isra’ Mi’raj ini menjadi salah satu sejarah penting dalam sejarah agama Islam. Peristiwa ini tidak hanya memperlihatkan mukjizat besar Nabi Muhammad SAW, tetapi juga memberikan banyak pelajaran spiritual dan keagamaan bagi umat Muslim. Bagi umat Islam, Isra Mi’raj adalah peristiwa sejarah umat Islam dengan perjalanan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun diperingati kaum Muslimin. Oleh sebab itu wilayah Palestina patut terus dirawat.

D. Tragedi Gaza & Palestina: Musibah Memilukan

Sejarah Konflik Palestina -Israel bermula dari awal abad ke-20. Ketika Kesultanan Ottoman dikalahkan Inggris dalam perang dunia I, wilayah Palestina diambil alih oleh Inggris. Pada tahun 1917, Deklarasi Balfour mendukung pendirian rumah nasional Yahudi di Palestina. Hal ini mendorong bangsa Yahudi dari berbagai belahan dunia datang ke tanah Palestina.

Selama periode ini, imigrasi Yahudi meningkat, dan ketegangan antara komunitas Yahudi dan Arab Palestina tumbuh. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengambil alih mandat atas Palestina yang sebelumnya dikuasai oleh Inggris. PBB membagi wilayah tersebut menjadi dua negara, satu untuk orang Arab Palestina dan satu untuk bangsa Yahudi. Pembagian tersebut diadopsi sebagai Resolusi PBB Nomor 181 pada tahun 1947. Namun, Arab Palestina menolak pembagian tersebut, dan memicu Perang Arab Palestina dengan Israel pertama pada tahun 1948 yang dimenangkan oleh Israel, yang mengakibatkan pembentukan negara Israel dan pengungsian rakyat Palestina.

Israel menguasai wilayah yang dicaplok selama perang-perang dengan negara-negara Arab, seperti Tepi Barat, Jalur Gaza, dan bagian dari Yerusalem Timur. Ini menyebabkan konflik berkepanjangan tentang pemukiman Israel di wilayah-wilayah ini. Ratusan ribu rakyat Palestina terpaksa menjadi pengungsi yang sekarang tinggal di berbagai negara dan kamp pengungsian. Sementara 2 juta orang rakyat Palestina dikurung dalam penjara terbuka di jalur gaza dan west bank. Akses mereka terhadap sandang, pangan, dan pendidikan dibatasi. Hak hidup mereka dirampas oleh rezim Israel.

Upaya-upaya untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel telah ada selama puluhan tahun, di antaranya Perjanjian Oslo pada tahun 1993 antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), serta perundingan Camp David pada tahun 2000 yang hampir mencapai kesepakatan tetapi akhirnya gagal. Selain itu, banyak negara dan organisasi internasional telah mencoba berperan sebagai mediator dalam konflik ini, termasuk negara-negara Arab, Amerika Serikat, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Uni Eropa. Meskipun upaya-upaya ini telah dilakukan, konflik Palestina-Israel masih berlanjut. Indonesia sebagai negara yang menentang segala bentuk penjajahan, telah lama dikenal karena dukungannya terhadap Palestina dan hak untuk memiliki negara mereka sendiri.

Pemerintah Indonesia juga telah konsisten mengutuk pendudukan Israel atas wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur, serta pembangunan pemukiman Israel di wilayah ini.

E. Pendidikan tentang Palestina bagi Generasi Muda

* Pendidikan tentang Palestina bagi generasi muda dan masyarakat Indonesia, bukan sekadar menambah pengetahuan (knowledge) tentang negeri dan masyarakat Palestina. Palestina bukan sebatas wilayah geografis di Timur Tengah. Melalui pendidikan tentang Palestina diharapkan generasi muda mampu meningkatkan kesadaran dan menanamkan nilai kemanusiaan Indonesia (bahkan dunia) atas musibah kemanusiaan yang melanda bangsa Palestina.

Saat ini, situasi yang terjadi di Palestina lebih merupakan kejahatan kemanusiaan yang kompleks (complex crimes against humanity) yang dilakukan oleh Israel beserta dan negara pendukungnya. Pada awalnya, tahun 1947 telah terjadi pengusiran sebanyak sekitar 750.000 warga Gaza dari Palestina. Peristiwa ini dikenal dengan Nakbah, dan dalam praktiknya lebih mirip dengan kejahatan kemanusiaan. Kejahatan terstruktur tersebut terjadi sampai saat ini, tak hanya merampas kedaulatan wilayah. Kejahatan tersebut telah memporakporandakan adab internasional, hak azasi dan malahan menghancurkan kedaulatan kemanusiaan. Ratusan ribu atau mungkin lebih dari sejuta masyarakat Palestina terbunuh dan terluka dalam beberapa dekade terakhir ini.

Begitu panjang dan kompleksnya kejahatan yang dilakukan oleh Israel, kejahatan ini tidak sekadar kejahatan kemanusiaan, tapi juga merupakan kejahatan politik ekonomi, sosial, wilayah, dan juga agama, termasuk kejahatan terhadap hukum internasional (Prof.Sudarnoto, 2025). Saat ini seperti dilaporkan UNICEF (2025), hampir 6580 ribu siswa usia sekolah hampir tak mendapat kesempatan untuk belajar. Most of the 658,000 school age children have had limited access to face to face learning for over two academic years. Bagaimana ikhtiar untuk mendidik generasi muda, agar mereka mampu meningkat kepedulian atas keprihatinan yang terjadi di Gaza dan Palestina.

F. Peduli Palestina : Dari Empati ke Aksi Nyata

Apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara sebagai bentuk kepedulian atas tragedi kemanusiaan di Palestina tersebut? Reyhan Respati (2023) memberi saran, kita sebagai Bangsa Indonesia dapat mengambil sejumlah tindakan untuk mendukung kemerdekaan Palestina, yaitu antara lain melalui kegiatan sebagai berikut.

Pertama, meningkatkan kesadaran. Sebarkan informasi dan kesadaran tentang konflik Palestina-Israel melalui media sosial, blog, atau dengan berbicara dengan teman dan keluarga. Pendidikan dan pemahaman yang lebih baik tentang masalah ini penting untuk menggerakkan perubahan.

Kedua, mendukung Organisasi Kemanusiaan. Banyak organisasi kemanusiaan dan amal bekerja untuk membantu rakyat Palestina yang terdampak konflik. Sumbangan atau dukungan finansial kepada organisasi-organisasi ini dapat membantu memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan kepada warga Palestina.

Ketiga, mengambil bagian dalam kampanye dan petisi. Banyak kelompok advokasi dan organisasi bekerja untuk menggalang dukungan dan tindakan melalui kampanye dan petisi online. Dukungan kampanye semacam itu atau menandatangani petisi merupakan energi pada upaya perdamaian.

Keempat, menghubungi perwakilan Pemerintah. Yaitu antara lain mengirim surat atau menghubungi perwakilan pemerintah lokal atau nasional untuk menyampaikan keprihatinan tentang konflik Palestina-Israel dapat memberikan dukungan pada pemerintah untuk mengambil tindakan yang lebih proaktif dalam mendukung perdamaian di kawasan tersebut.

Kelima, partisipasi dalam demonstrasi damai. Bergabung dalam demonstrasi damai dan aksi protes non-kekerasan dapat memengaruhi opini publik dan menunjukkan dukungan terhadap perdamaian di Palestina. Pastikan demonstrasi tersebut berlangsung dalam kerangka hukum dan tidak melibatkan kekerasan.

Keenam, mempertimbangkan untuk melakukan boikot produk Israel. Beberapa aktivis mendukung boikot terhadap produk Israel sebagai cara untuk mengekspresikan ketidaksetujuan terhadap tindakan yang dilakukan. Hal di atas masih menimbulkan pro dan kontra serta perlu pertimbangan yang matang.

G. Kurikulum dan Pembelajaran Palestina

Pembukaan UUD 1945 alinea keempat mendeskripsikan tujuan negara Indonesia, yaitu “melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia; menegaskan bentuk negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat; serta menetapkan dasar negara Pancasila sebagai pedoman penyelenggaraan negara.”

Sedangkan Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 3) mengamanatkan pengembangan potensi peserta didik menjadi manusia beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, yang esensinya mendukung tujuan nasional, termasuk ketertiban dunia.

Ada benang merah yang menghubungkan antara Pendidikan Nasional dengan Ketertiban Dunia, yaitu:

(i) mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Pendidikan mencerdaskan bukan hanya untuk kepentingan nasional, tetapi juga untuk memahami isu global dan berkontribusi pada solusi internasional;

(ii) meningkatkan Pemahaman Global. Pendidikan memberikan pemahaman tentang hak asasi manusia, persahabatan antar bangsa, dan pentingnya ketertiban dunia;

(iii) membentuk Warga Negara Global. Generasi muda diharapkan menjadi warga negara yang tidak hanya cinta tanah air, tetapi juga mampu berinteraksi dan berkontribusi dalam percaturan global demi perdamaian dan keadilan; dan

(iv) mendukung Tujuan Negara. Menciptakan ketertiban dunia merupakan salah satu tujuan negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, dan pendidikan menjadi alat fundamental untuk mewujudkannya bersama pemerintah dan masyarakat.

Dalam konteks pengembangan kurikulum dan pendidikan Palestina (yang menjadi isu utama Diskusi ini), saya menggarisbawahi: “Sebagai pendidik, kita tidak sedang mengajarkan konflik politik, melainkan menanamkan nilai kemanusiaan dan empati global.” Oleh sebab itu ada beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan, yaitu :

* Melindungi forum dari kemungkinan tuduhan politisasi,

* Mengembangkan materi ajar yang selaras dengan kurikulum nasional,

* Menjaga suasana diskusi tetap dalam bingkai akademik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan 8 profil lulusan.

Menurut Undang-Undang (UU) No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Ini berarti kurikulum bukan hanya daftar mata pelajaran, tetapi sebuah sistem komprehensif yang mencakup :

(i) Tujuan (capaian pembelajaran, kompetensi, target),

(ii) Bahan (konten, materi),

(iii) Metode penyampaian (strategi, media) pembelajaran, dan

(iv) Asesmen.

Beberapa pertimbangan yang sepatutnya mendapat perhatian seksama dalam merencanakan dan mengembangkan kurikulum dan pembelajaran tentang Palestina. Rujuk Panduan dalam bingkai Kurikulum Pendidikan formal ataupun Nonformal yang sudah sesuai dengan sistem pendidikan nasional. Gunakan bahasa pedagogik dengan pembelajaran bermakna dan bukan pendekatan yang bercirikan agitatif, atau permusuhan.

Beberapa kata kunci aman dan bercirikan edukatif, antara lain, program ini menguatkan:
• nilai kemanusiaan
• pendidikan karakter
• warga dunia (global citizenship)
• empati sosial
• hak asasi manusia
• pendidikan damai (peace education)

Sebaiknya menghindari ungkapan yang bercirikan :
• perlawanan
• permusuhan
• balas dendam
• kebrutalan (lebih aman diganti: penderitaan kemanusiaan)

Pertimbangan Pertama: Utamakan meningkatkan kesadaran & nilai Kemanusiaan. Strategi penyampaian pembelajaran tentang Palestina tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diarahkan pada penguatan nilai empati dan kepedulian sosial, sebagaimana juga diamanatkan pada 8 profil lulusan.

Sesuai dengan Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025, terdapat Delapan Profil Lulusan yang patut dicapai murid, yaitu:

1) Keimanan & Ketakwaan,
2) Kewargaan,
3) Penalaran kritis,
4) Kreativitas,
5) Kolaborasi,
6) Kemandirian,
7) Kesehatan, dan
8) Komunikasi.

Dalam konteks ini, pembelajaran Palestina bisa dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu, misalnya hubungkan ke:
• PPKn: kemanusiaan yang adil dan beradab
• IPS: isu global & solidaritas
• PAI: Iman dan Takwa, akhlak sosial & kasih sayang
• Bahasa Indonesia: refleksi, narasi empatik

Dengan demikian, suasana dan pendekatan pembelajaran berfokus pada “Bagaimana anak belajar merasa, bukan membenci”.

Pertimbangan Kedua: Gunakan pendekatan kultural historis, dan bukan doktrinal. Hal ini juga dengan mempertimbangkan latar belakang siswanya ( Usia TK, SD, SMP, SMA, atau Perguruan Tinggi).

Topik Palestina kaitkan dengan nilai spiritual. Hal ini juga cukup sensitif, bila dikaitkan dengan hubungan antra bangsa dan geopolitik. Oleh sebab itu, sekali lagi, pertimbangkan untuk menggunakan pendekatan kultural historis sebagai warga global (global citizenship).

Contoh yang bisa dipertimbangkan ungkapan aman: “Dalam konteks pendidikan agama, Palestina dikenalkan sebagai bagian dari sejarah peradaban dan nilai spiritual umat, sebagai negeri para Nabi.

Utamakan, kajian dan contoh yang bermuatan:
• Nilai sejarah
• Nilai moral
• Nilai hak azasi manusia

Pertimbangan Ketiga: Dari empati ke Aksi Nyata.

Dalam program ini, sekolah dapat menumbuhkan kepedulian melalui aksi kemanusiaan non-politis, seperti penggalangan empati, doa lintas iman, dan edukasi perdamaian. Beberapa contoh aksi yang aman secara pendekatan pedagogis dalam konteks pengembangan kurikulum yaitu antara lain:
• Literasi kemanusiaan
• Donasi melalui lembaga resmi
• Proyek sosial
• Kampanye damai (tanpa simbol provokatif)

Bentuk lain, dalam pembelajaran integratif tematik, misal :
• IPS: Isu kemanusiaan global
• PPKn: Empati & keadaban global
• PAI: Kasih sayang & solidaritas
• Bahasa: Menulis refleksi kemanusiaan

Beberapa opsi topik yang dibahas, antara lain:
• Merawat simpati dan empati Murid
• Contoh praktik aman di sekolah
• Pendidikan sebagai Jalan damai
• Palestina sebagai isu kemanusiaan global.

Semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Berlianto. (2022). Sekolah Palestina Tolak Israelisasi Lewat Kurikulum. Sindonews, [online]. Dalam : https://international.sindonews.com/read/890795/43/sekolah-palestina-mogok-tolak-israelisasi-lewat-kurikulum-1663711773/ [Diakses 18 Desember 2022].

Bonyan Organization. (2022). Education Crisis in Palestine. [Online]. Tersedia : https://bonyan.ngo/education/education-crisis-in-palestine/ [Diakses 12 Desember 2022].

Buckland, P. (2005). Reshaping the Future: Education and Post-Conflict Reconstruction, Washington, D.C.: The World Bank.

Kementerian Agama RI. (2015) Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Romatika, Idha Ismalia (2022). Krisis Pendidikan di Palestina Tahun 2022: Telaah Diskursif Peran UNICEF. Jurnal ICMES V 717 Tersedia: Doi: https:// Tersedia: DOI: https://doi.org/10.35748/jurnalicmes.v7i1.149

Unicef (2025). After Two Years of War: Gaza’s Education System on the Brink of Collapse. Available at https://www.unicef.org/sop/stories/after-two-years-war UNICEF. (2022c). Country Office Annual Report 2022. [online]. Tersedia: https://www.
unicef.org/media/136531/file/Palestine-State-of-2022-COAR.pdf [Diakses 20 Juni 2023].

UNICEF. (2023). BRAVE students and educators break a violent cycle in Palestinian schools. [online]. Tersedia : https://www.unicef.org/sop/stories/ brave-students-and-educators-break-violent-cycle-palestinian-schools [Diakses 24 Juni 2023].

Wafa. (2022). Israeli settlers attack Palestinian school near Nablus. [online]. Dalam: https://english.wafa.ps/Pages/Details/132245

***

Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *