Menyelamatkan Umur Media Konvensional

FOTO ARTIKEL 22
Dono Darsono, Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi (Jurnalistik), UIN SGD Bandung, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Dono Darsono

KEMAJUAN teknologi intenet dan perangkatnya kini telah mampu mempermudah kita dalam mendapatkan informasi. Dalam hitungan detik berbagai informasi yang kita butuhkan yang bersifat penting, menarik, aktual, dan faktual bahkan informasi sekelas hoax pun dengan mudah dapat kita peroleh dengan sekejap mata. Cukup dengan memainkan jari di atas telepon seluler informasi pun bermunculan dan kita hanya tinggal menikmatinya.

Kehadiran internet bagi para pelaku bisnis media (Pers) tidak hanya menjadi kompetitor utama dalam penyebaran informasi, akan tetapi internet yang kini diwujudnyatakan dalam media sosial dan media online telah mampu mengacak-acak urat nadi kehidupan media konvensional baik pada tatanan kutub idealis maupun tatanan kutub bisnis. Dengan diobrak-abriknya kedua kutub tersebut secara manajemen umur Pers hanyalah tinggal menghitung hari. Percaya atau tidak itulah realitas yang tengah terjadi. Bahkan para peneliti memprediksi media konvensional seperti halnya media cetak akan segera tutup usia dalam petualangannya sebagai pendidik, penyampai informasi, kontrol sosial, dan sekaligus sebagai alat hiburan.

Hasil penelitian para peneliti itu nampaknya boleh dikatakan mendekati kebenaran. Pasalnya, di Indonesia sudah banyak media konvensional yang telah tiada akibat tak sanggup menahan badai dunia maya. Bahkan, media konvensional yang sudah mapan pun kini melakukan terobosan-terobosan dengan cara melapis media konvensional dengan media onlinenya (konvergensi media) sebagai salah satu alternatif untuk mempertahankan umur media induknya. Akankah konvergensi media mampu mempertahankan usia media konvensional yang sudah sekarat?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut hasil analisis penulis menunjukkan bahwa berakhirnya usia media konvensional sangat bergantung pada kecerdasan para pelaku Pers dalam memerankan manajemen bisnisnya. Jika para pelaku Pers sedikit lengah dalam menjalankan roda bisnisnya maka media tersebut akan segera tutup usia. Oleh karenanya, aspek manajemen masih tetap berkuasa dalam menjawab persoalan rumit yang menimpa dunia Pers.

Perspektif Manajemen Pers

Setidaknya ada dua aspek utama yang menjadi benteng pertahanan hidup media termasuk media cetak yakni kutub idealis dan kutub bisnis. Kutub idealis merupakan kutub yang bertanggung jawab dalam mengatur produk jurnalistik seputar news dan views yang dinakhodai oleh seorang Pemred, Redpel, Redaktur hingga ke Wartawan sebagai pemburu berita. Sedangkan kutub bisnis berperan untuk memasarkan komodite yang dihasilkan kutub idealis yang sebelumnya didandani oleh bidang percetakan. Dengan demikian, antara kutub idealis dan bisnis pada hakikatnya adalah dua kutub yang menyatu yang menjadi satu tubuh pers kokoh dalam berkarya.

Semenjak tumbuh suburnya media sosial dan media online tubuh idealis dan bisnis sebagai benteng pertahanan Persuratkabaran mulai goyah. Dunia iklan perlahan diculik oleh media sosial dan media online. Dalam hitungan bulan iklan mulai jual beli mobil, motor, rumah, kamar kontrakan, dan sebagainya tanpa terasa hijrah ke media internet. Tak terbayangkan sebuah koran lokal terkenal Jakarta yang biasanya menyajikan belasan halaman iklan baris kini nasibnya apes dan tersisa hanya satu setengah halaman. Hilangnya iklan baris otomatis memengaruhi ekonomi media tersebut sebab iklan merupakan nyawanya media. Jika media terbit dengan banyak iklan tertawalah sang empunya, dan jika media terbit dengan sedikit iklan murkalah sang empunya.

Dalam bisnis Pers untuk meraih iklan memang tidaklah semudah yang kita bayangkan. Karenanya, dalam perspektif manajemen untuk menggapai iklan bukan hanya membutuhkan sumber daya manusia yang profesional akan tetapi harus ditopang oleh kutub-kutub lainnya dalam lingkaran kehidupan bisnis Pers. Apakah artinya news bagus ketika tidak didukung percetakan, iklan, dan sirkulasi. Begitu pula sebaliknya, apalah artinya percetakan, sirkulasi, dan iklan bagus manakala news tidak menarik. Dengan demikian, antara kutub idealis dan bisnis harus agar dapat memperkokoh Pers yang profesional.

Pada hakikatnya Pers tiada lain merupakan lembaga bisnis yang di dalamnya mengandung unsur idealis (jurnalistik) dan unsur bisnis percetakan, iklan, dan sirkulasi. Dalam operasionalnya kedua unsur itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu unsur sakit maka akan memengaruhi unsur lainnya. Karenanya tidaklah berlebihan jika ada yang berpandangan bahwa antara Pers dan Junalistik merupakan satu kesatuan ibarat jiwa dan raga. Jika Pers sakit maka jurnalistik pun akan sakit begitu pula sebaliknya jurnalistik sakit maka Pers akan ikut sakit.

Di tengah boomingnya media internet seperti saat ini keadaan Pers tengah kritis. Media internet seperti online dan media sosial tidak hanya menggerogoti kutub bisnis tetapi kutub idealis pun kini dihajar sehingga kelangsungan hidup media konvensional ada dalam bahaya. Bahkan para pengamat media bependapat bahwa kehadiran media internet akan mengancam umur media konvensional (media cetak) jika media cetak tidak mengubah manajemen Persnya secara profesional.

Pendapat para pengamat mengenai ancaman kematian terhadap Pers konvensional tidaklah mengada-ada, terbukti di Indonesia sudah ada beberapa Koran nasional yang sudah tutup usia. Sebagian koran nasional lainnya yang tergolong maju kini tengah sakit lantaran lahan bisnisnya digerayangi media internet. Mungkin kita kaget keluhan koran lokal Jakarta yang biasanya menyajikan tiga belas halaman iklan baris jual beli kendaraan bermotor kini iklan itu hanya tersisa satu halaman setiap harinya. Semenjak hadirnya media internet para pemasang iklan kabur dan mereka ramai-ramai pindah ke media internet tersebut.

Eksodusnya para pemasang iklan ke media internet membuat kalang kabut Pers konvensional. Dengan dalih menyelamatkan para pelanggan mereka pun sontak membangun media online sebagai kekuatan pelapis media konvensional. Nampaknya upaya itu nyaris tak membuahkan hasil, karena konten berita pada media online sebagai pelapis tak jauh berbeda dengan media konvensional. Sehingga kedua media itu tak memiliki nilai jual di mata khalayak pembacanya. Kedua Pers itu tidak mampu memberikan kepuasan sehingga pembaca harus mencari media alternatif untuk memenuhi kebutuhannya yakni melalui media sosial.

Tak bisa dipungkiri, media sosial kini bergerak lebih cepat dibanding media online dan media konvensional. Kecepatan media sosial dalam menyebarluaskan peristiwa acapkali dijadikan sumber rujukan para jurnalis dalam menghunting peristiwa. Oleh karenanya, pesaing terberat media konvensional dan online adalah media sosial yang beperan sebagai citizen journalism yang mampu memberikan beragam informasi yang dibutuhkan masyarakat dan disembunyikan media konvensional. Dengan demikian, media sosial berhasil merebut pangsa pasar yang selama ini dimiliki media konvensional.

Suka atau tidak, media sosial kini sudah dicintai masyarakat. Terlepas informasi yang dilansir media sosial itu hoax atau tidak bagi masyarakat bukan persoalan. Terpenting, mereka berpandangan media sosial mampu memberikan informasi yang dibutuhkannya. Setiap peristiwa yang menyangkut penguasa terlebih berbau politik yang seolah disembunyikan Pers dapat dikupas tuntas di media sosial. Bahkan, setiap peristiwa penting yang dimanipulasi atau dihilangkan oleh Pers senantiasa muncul di media sosial. Karena keterbukaan itulah media sosial kini menjadi rujukan masyarakat dalam berpikir dan bependapat. Pergeseran inilah yang menjadi salah satu penyebab ketidakpercayaan masyarakat terhadap Pers.

Oleh karena itu, fenomena sebagaimana dijelaskan sudah tersirat dalam model Uses and Gratification yang dicetuskan Katz dan kawan kawan. Model komunikasi massa ini mengisyaratkan khalayak aktif, dan dia akan menggunakan atau membaca media selaras dengan kepuasannya. Jika media sosial dipandang cukup memuaskan maka ia akan terus membaca dan memantau media tersebut. Ia tak segan-segan untuk meninggalkan media lain jika dinilai tidak memberikan kepuasan.

Model ini jika direnungi pada hakikatnya merupakan sebuah jawaban bahwa jika media konvensional ingin tetap panjang usia harus memberikan kepuasan pada khalayak pembacanya. Kepuasan ini yang selama ini sulit diberikan Pers dengan berbagai alasan. Pers konvensional sudah lama sekali ikut berdrama dengan penguasa sehingga berpotensi untuk menghilangkan sebuah peristiwa. Celakanya perilaku konyol itu pun mulai menular pada media online.

Rasanya sulit untuk menyelamatkan Pers konvensional jika tidak berani mengubah perilaku buruk yang sudah lama dianutnya. Padahal Pers yang dilahirkan sebagai penyampai kebenaran secara obyektif dan kontrol sosial harus berani menyatakan kebenaran walaupun pahit. Jika saja Pers masih tetap menyembunyikan jatidirinya sudah barang tentu jangan berharap masyarakat merasa membutuhkannya.

Dalam menghadapi situasi kritis seperti ini Pers harus muncul sebagai pahlawan dalam kerangka membela kebenaran yang obyektif dan bukan yang subyektif. Biarkan media online dan media sosial mengangkat sebuah peristiwa tapi Pers konvensional harus berani mengangkat di balik peristiwa dan mengupas tuntas mengenai mengapa dan bagaimananya peristiwa itu bisa terjadi secara benar dan obyektif sehingga masyarakat bisa terpuaskan. Prinsip Pers seperti inilah yang diinginkan masyarakat sebagaimana tertuang dalam hasil penelitian Bill Kovach yang terkenal dengan sembilan prinsip jurnalisme Bill Kovach.***

Penulis adalah pengamat, praktisi media, dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung