HARI Raya Iduladha merupakan pesan langit yang mendarat di bumi. Pesan itu difirmankan Allah SWT belasan abad lalu kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS. Peristiwa tersebut merupakan pesan simbolik agama untuk mengajak umat Islam terus meneladani kesalehan pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketegaran jiwa Nabi Ismail.
Iduladha adalah satu dari dua hari raya yang sangat istimewa bagi umat Islam. Hari Raya Idulfitri dilaksanakan kaum muslimin setiap tanggal 1 Syawal tahun Hijriyah. Sedangkan Hari Raya Iduladha dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah.
Iduladha sering juga disebut Idulkurban dan disusul dengan hari Tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah. Pada hari raya dan tiga hari Tasyrik ini, umat Muslim tidak diperbolehkan berpuasa. Pada saat hari Idulkurban dan tiga hari Tasyrik, daging hewan qurban mulai dibagikan dan umat Muslim ataupun non-muslim dipersilahkan untuk menikmatinya.
Generasi Ismail Abad 21
Kisah Nabi Ismail AS sangat istimewa. Nabiullah Ismail diabadikan Allah SWT dalam Al Quran sebanyak 12 ayat. Sosok Nabi Ismail adalah buah dari do’a Nabi Ibrahim yang meminta anak saleh kepada Allah Ta’ala. Doa beliau diabadikan dalam Alquran surah As Saffat 100, Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shaleh.
Saat Nabi Ismail beranjak remaja, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT lewat mimpi untuk menyembelih anaknya. Jawaban Nabi Ismail AS dengan tegas mengatakan, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” Dialog ini tercatat dalam Alqur’an surah As Saffat 103.
Pesan simbolik pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan kepatuhan Nabi Ismail AS menjadikan Idulkurban dan hari Tasrik merupakan momen istimewa bagi umat Muslim. Bagi umat Islam khususnya “Generasi muda Ismail” abad 21 saat ini, minimal ada lima pelajaran yang bisa kita petik atas peristiwa Idulkurban.
Pertama, spirit Idulkurban hakekatnya perlunya umat Islam untuk terus meneladani kesalehan pengorbanan seorang ayah yaitu Nabi Ibrahim dan ketegaran putranya Nabi Ismail. Spirit Idulkurban bagi generasi muda saat ini atau generasi Z, dan generasi Alpha adalah sisi lain untuk lebih meningkatkan kompetensi spiritual (spiritual competencies) kepada Sang Khalik. Dalam konteks kekinian, generasi muda dituntut menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berbudi luhur dengan bercirikan pribadi yang mandiri, kreatif, dan bernalar kritis untuk kemaslahatan bangsa.
Kedua, refleksi ketaatan hamba kepada Sang Khalik. Firman Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail AS merupakan uji ketaatan dan keihklasan hamba kepada Sang Khalik. Bagi generasi muda Ismail Abad 21, semangat ketakwaan kepada Allah SWT dan kesetiaan kepada orangtua, seperti ditunjukkan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim patut terus ditingkatkan.
Ketiga, perlunya peningkatan empati dan pengendalian diri. Pengelolaan diri dan peduli terhadap sesama adalah ciri utama seorang Muslim. Ibadah kurban adalah pengejawantahan diri untuk berbuat kebaikan, memuliakan sesama, menghargai orang lain, dan berempati terhadap lingkungan sekitar. Ibadah penyembelihan kurban sebagai bentuk penghambaan dan ketakwaan kepada Sang Kholik, tak hanya berdimensi ibadah personal, namun juga memiliki makna ibadah sosial. Yaitu melalui distribusi daging hewan kurban kepada segenap kaum Muslimin dan juga masyarakat non-muslim untuk bersama-sama mengkonsumsi dan menikmati masakan protein hewani yang berasal dari daging hewan kurban.
Keempat, Idulkurban merupakan ibadah sosial. Ritual kurban merefleksikan seorang hamba yang mampu menyiapkan hewan kurban. Hewan kurban tersebut disembelih dan dibagikan kepada yang berhak. Di hari Iduladha dan hari Tasyrik, saatnya umat Islam bersyukur, bersuka ria bersama dengan mengkonsumsi makanan, minuman, nutrisi hewani dari hewan kurban secara bersama. Spirit tolong-menolong, saling menyantuni termasuk berbagi daging kurban merupakan ibadah sosial yang paling nyata. Manfaat kurban dirasakan banyak pihak, mulai dari para peternak, pedagang hewan, distributor hewan, jasa angkutan, jagal penyembelih, sampai pada lapisan masyarakat.
Kelima, ibadah kurban merupakan refleksi kesetiakawanan global. Perayaan Idulkurban dan hari Tasyrik, dilaksanakan oleh segenap kaum muslimin di setiap negara di berbagai belahan dunia. Peduli sesama merupakan penciri Iduladha, merupakan fondasi tumbuhnya kewargaan global (global citizenship) yang dilandasi oleh kepedulian sesama, saling hormat menghormati, dalam merawat warga dunia yang damai, sejahtera lahir batin.
Itulah hikmah Iduladha sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Khalik. Spirit Idulkurban perlu terus dikumandangkan, agar umat Islam terus meneladani kesalehan pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketegaran jiwa Nabi Ismail. Melalui ibadah Qurban, yuk kita wujudkan lahirnya Generasi Ismail Abad 21!! ***
Dinn Wahyudin, Guru Besar Ilmu Pengembangan Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wakil Rektor I Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN University).





