Momentum Bersejarah, Mulai Tahun Ini Ada Hari Pustakawan Indonesia

kemendikdasmen resmikan hari pustakawanan indonesia 1751877006638 169
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti, meresmikan Hari Pustakawan Indonesia yang akan diperingati setiap tanggal 7 Juli, (Foto: detikcom/Devita Savitri).

ZONALITERASI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meresmikan Hari Pustakawan Indonesia yang akan diperingati setiap tanggal 7 Juli.

Peresmian yang berlangsung di acara Gelar Wicara dalam Memperingati Hari Pustakawan Indonesia dan Hari Ulang Tahun ke-52 Ikatan Pustakawan Indonesia, di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, pada Senin 7 Juli 2025 ini, menjadi momentum bersejarah dalam perkembangan pustakawan di Indonesia.

Sebagai informasi, Hari Pustakawan Indonesia ditetapkan Kemendikdasmen dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 81/M/2025.

Hari Pustakawan Indonesia merupakan tindak lanjut Kongres XV Ikatan Pustakawan Indonesia pada 1-4 November 2022 di Surabaya dan memperkuat peran perpustakaan dan pustakawan dalam peningkatan literasi dan kualitas pendidikan nasional.

“Para pustakawan Indonesia adalah insan-insan yang memiliki totalitas pengabdian. Menyelamatkan buku, menyelamatkan naskah adalah menyelamatkan peradaban bangsa dan menyelamatkan generasi muda,” kata Mu’ti, saat menyampaikan sambutan.

Menurut Mu’ti, pustakawan bukan sekadar berperan sebagai fasilitator informasi dan penjaga buku. Mereka juga sosok penjaga dokumen pribadi dan pengarsip perjalanan hidup tokoh inspiratif, hingga catatan-catatan sejarah bangsa.

Dalam menjalankan fungsinya, lanjutnya, menjadi pustakawan tidak hanya soal hafal letak koleksi buku. Lebih dari itu, mereka harus menjadi ‘perpustakaan berjalan’.

“Pustakawan itu, dirinya sendiri adalah perpustakaan juga. Sehingga kalau orang bertanya tentang apa, yang jawab itu pustakawannya dulu,” ucap Mu’ti.

Peran Pustakawan

Terkait peran pustakawan, Mu’ti punya pengalaman sendiri saat jadi pustakawan tidak resmi di bangku kuliah hingga berstatus sebagai dosen.

Ia mengatakan, di satu sisi, menentukan kode sebuah buku bukanlah hal yang mudah. Ketika buku terbit, pustakawan akan membacanya secara keseluruhan dan berdebat di mana seharusnya buku itu ditempatkan. Di sisi lain, ia menyorot peran pustakawan sebagai tempat bertanya.

“Nah karena itu, menurut saya pustakawan itu harus meningkat (fungsinya). Dari sekadar insan-insan yang memang mereka itu membantu pembaca menemukan di mana letak buku tapi dia sendiri adalah perpustakaan berjalan karena dia sudah membaca buku sebelum pembaca menemukan buku itu,” lanjutnya.

Mu’ti menjelaskan, pustakawan adalah sosok pertama yang membaca buku terbaru, bahkan sebelum buku tersebut mendapatkan International Standard Book Number atau ISBN. Dengan begitu, mereka mengenal dengan baik isi dan informasi penting setiap buku sebelum diterbitkan dan diletakkan di dalam ruangan perpustakaan.

Kemampuan ini, kata Mu’ti, bisa dikembangkan lebih jauh. Salah satu caranya dengan menulis kembali karakter maupun perjalanan hidup tokoh-tokoh inspiratif yang selama ini lebih banyak ditulis dari sudut pandang pemikirannya.

“Jadi kalau pustakawan setelah itu mau merangkum, menulis ulang, juga bisa karena ada sisi-sisi manusiawi tokoh yang kadang-kadang juga perlu diungkap sebagai inspirasi. Tidak harus semuanya berupa pemikiran,” katanya.

Pada kesempatan sama, Kepala Perpustakaan Nasional Endang, Aminudin Aziz, mengatakan, penetapan Hari Kepustakaan Indonesia dari Kemendikdasmen menjadi bagian penting dalam sejarah kepustakawanan Indonesia.

Ia mengatakan, pustakawan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Momentum ini juga menjadi pengingat agar pustakawan terus menjadi bagian dari gerakan pembangunan bangsa.

“(Resminya Hari Pustakawan Indonesia) menjadi peluang besar untuk meningkatkan kapabilitas pustakawan Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global,” kata Aminudin. (haf)***

Sumber: detikEdu