ZONALITERASI.ID – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mendesak pemerintah agar melakukan evaluasi terhadap universitas dan fakultas keguruan. Desakan itu disampaikan JPII menyikapi jebloknya hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025 jenjang SMA/sederajat.
Sebagai informasi, nilai rata-rata nasional TKA untuk tiga mata pelajaran wajib masih berada pada angka rendah. Mulai dari Matematika hanya 36,10; Bahasa Inggris 24,93; dan Bahasa Indonesia 55,38.
“Itu bukan gurunya yang bermasalah, emang sistem pendidikan kita bermasalah gitu. Mulai dari LPTK-nya (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) harus kita evaluasi. Fakultas-fakultas keguruan, universitas-universitas keguruan harus kita evaluasi,” kata Koordinator JPPI, Ubaid Matraji, dalam diskusi Catatan Akhir Tahun Rapor Pendidikan 2025 yang digelar JPPI di Bakoel Kopi Cikini, Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Desember 2025.
Selanjutnya Ubaid menyinggung soal rekrutmen guru hingga kesejahteraan guru. Sebagai guru, ia melihat banyak rekan honorernya yang belum mendapatkan gaji layak.
“Kalau guru enggak sejahtera, digaji 300-200, siapa yang tertarik jadi guru gitu? Artinya anak-anak terbaik bangsa enggak mungkin jadi guru kalau melihat karier, nasib, kesejahteraan,” tuturnya.
Ubaid mengingatkan, untuk meningkatkan kemampuan akademik dan karakter siswa bukanlah perkara mudah. Perlu ada kerja sama antara banyak pemangku seperti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Agama (Kemenag), dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Jadi sebenarnya masalahnya sangat kompleks, kalau menyalahkan anak, menyalahkan guru tentu itu mencari kambing hitam semata ya,” katanya.
Sebelumnya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengungkapkan, harus ada evaluasi untuk jurusan pendidikan di perguruan tinggi.
“Menghasilkan guru itu kan sebagian guru kita, guru-guru itu kan berasal dari perguruan tinggi keguruan. Nah ini yang akan coba kita lihat, kita evaluasi, apa yang harus lebih didorong,” kat Brian, di Gedung D Kemdiktisaintek, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Desember 2025.
Menurut Brian, kualitas siswa tidak bisa terlepas dari kualitas guru. Tak hanya itu, Brian juga mendorong peningkatan kompetensi di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematia (STEM).
“Nah ini kan juga nantinya tidak terlepas dari bagaimana proses pengajaran ya, menghasilkan guru,” katanya.
Sering Terjadi Saat Ujian Nasional
Menurut Ubaid, selain nilai TKA jenjang SMA-sederajat pada tahun ini yang jeblok, rendahnya hasil tes akademik sudah sering terjadi pada tes-tes sebelumnya yakni saat diberlakukan Ujian Nasional (UN). Ia juga membandingkan nilai-nilai UN hingga TKA dari setiap masa kabinet yang berbeda.
“Yang pertama, karena ini TKA lagi ramai, jadi slide pertama TKA. Jadi TKA yang buruk itu ternyata saya hitung, saya refleksikan dari 10 tahun terakhir, itu ternyata ya sama-sama aja gitu. 10 tahun terakhir kita punya empat menteri,” ujarnya.
Kata Ubaid, pada 2014-2015 saat UN masih diberlakukan, nilai rata-rata nasional UN sempat menyentuh angka 59. Lalu terus menurun hingga berada di kisaran 49 pada era berikutnya.
“Pak Anies di 2015 itu tertinggi 59, kemudian 2016 turun menjadi 55. Kemudian di era Pak Muhadjir 2016 pertengahan, kemudian UN 2017 turun menjadi 50. Masih di era Pak Muhadjir 2018 turun lagi 46, turun lagi di akhir Pak Muhadjir 2019, 49,” sebutnya.
Lalu Ubaid menghitung rata-rata dari semua mata pelajaran TKA SMA/sederajat dan mendapati rata-ratanya hanya 49. Artinya, nilai TKA tak jauh rendahnya dari UN-UN di tahun sebelumnya.
“Ternyata saya bikin rata-rata dari semua mata pelajaran yang ada itu ternyata skornya 49. Jadi sebenarnya hasilnya sama, sama dengan yang terjadi di era UN zaman Pak Muhadjir, atau enggak jauh-jauh beda dengan UN zaman Pak Anies gitu,” katanya. (des)***
Sumber: detikEdu





