ZONALITERASI.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang membuka “Pagelaran Warisan Budaya Sumedang”, di lingkungan Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Jumat, 25 April 2025. Pagelaran ini merupakan salah satu agenda dalam memperingati Hari Jadi ke-447 Kabupaten Sumedang.
Sejumlah tokoh penting hadir pada pembukaan pagelaran. Mereka antara lain Sekda Jabar Herman Suryatman, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aldila, Sekda Sumedang Tuti Ruswati, Forkopimda, Rektor ISBI Retno Dwimarwati, dan musisi kenamaan berdarah Sumedang, Gilang Ramadhan.
Pagelaran dibuka oleh anak-anak hingga remaja dengan menampilkan tarian khas Sumedang seperti Tari Ronggeng Sadunya, Karinding dan Celempungan, Seni Terbang Buhun, Tari Klasik Kasumedangan, Seni Koromong, Calung, Kacapi Ciul/Celempungan, Ketuk Tilu, dan lainnya.
Penampilan anak-anak dan remaja dalam pagelaran ini menarik perhatian Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila. Ia manyampaikan mengapresiasi atas penampilan anak-anak yang masih belia dan anak dengan kebutuhan khusus pada ajang tahunan ini.
“Tadi bisa kita lihat anak kecil dari umur 2 sampai 3 tahun masya Allah sudah ikut. Bahkan tadi juga ada anak yang berkebutuhan khusus mereka juga ikut serta bahkan menarikan tarian tersebut dengan baik. Inilah harus kita apresiasi, kita jaga, kita rawat budaya Sunda ini,” ujar Fajar saat membuka pagelaran.
Fajar mengungkapkan, budaya Sunda khususnya yang berasal dari Kabupaten Sumedang harus tetap eksis meskipun saat ini berada di era budaya global.
“Jangan sampai kita terkikis oleh budaya-budaya kontemporer walaupun memang di era sekarang banyak yang lebih hits seperti budaya barat, budaya Korea, budaya Jepang. Kita tetap harus berpegang teguh untuk melestarikan budaya Sunda,” katanya.
Sementara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang hadir di arena pagelaran pada Jumat, 26 April 2025, malam, tampil di atas panggung di tengah perhelatan wayang golek dengan dalang Yogaswara Sunandar Sunarya. Di acara itu juga tampil sejumlah seniman, seperti serta sejumlah seniman seperti Ohang, Ade Batak, dan Mang Radja.
Dalam suasana penuh keakraban, Gubernur tidak hanya berinteraksi hangat dengan masyarakat, namun juga memanfaatkan momentum itu untuk menyampaikan sejumlah pesan penting terkait kepemimpinan, pelestarian lingkungan, dan penguatan nilai-nilai budaya Sunda.
Di hadapan ribuan warga yang memadati area pagelaran Gubernur menekankan pentingnya karakter kuat dalam diri seorang pemimpin. Ia menyebut, pemimpin sejati harus memiliki keberanian yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan eksternal.
Terkait pelestarian lingkungan, Gubenur menegaskan, pemerintah harus berani mengambil langkah tegas demi menjaga kelestarian lingkungan yang kini semakin terancam.
Pada kesempatan sama Gubernur menyoroti pendidikan era kini. Menurutnya, pendidikan tidak harus mahal dan mewah.
“Yang terpenting adalah isi dan nilai yang diajarkan. Pendidikan harus tetap berpijak pada nilai-nilai kebersamaan dan kesederhanaan,” ucapnya.
Gubernur juga mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan ajaran Pancaniti, sebuah konsep luhur dalam budaya Sunda yang mengajarkan etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, ajaran ini bukan sekadar idealisme, tetapi panduan konkret dalam menjaga keseimbangan antara manusia, masyarakat, dan alam.
“Pancaniti tidak akan lekang oleh waktu. Ajaran ini harus dihidupkan kembali agar jati diri Sunda tetap terjaga di era modern,” tandasnya.
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake
Salah satu rangkaian paling simbolik dalam “Pagelaran Warisan Budaya Sumedang” yaitu Kirab Panji dan Mahkota Kemaharajaan Sunda (Mahkota Binokasih Sanghyang Pake).
Perjalanan kirab yang dimulai dari Ciamis, melewati Bogor, dan berakhir di Sumedang ini tidak hanya memperlihatkan lintasan geografis, tetapi juga menggambarkan lintasan historis serta keterikatan batin masyarakat Sunda terhadap nilai-nilai leluhur.
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake adalah pusaka yang sarat makna. Benda ini bukan sekadar artefak, melainkan representasi kesinambungan nilai-nilai Sunda.
Mahkota peninggalan Kerajaan Pajajaran ini, diwariskan kepada Kerajaan Sumedang Larang pada akhir abad ke-16 sebagai bentuk estafet legitimasi dan tanggung jawab budaya.
Peran penting kemudian diemban oleh Karaton Sumedang Larang, yang menjadi penjaga resmi warisan budaya tersebut. Hingga hari ini, Mahkota Binokasih tersimpan dan dirawat di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang.
Museum ini bukan hanya tempat penyimpanan, tapi juga ruang edukasi dan penguatan identitas kultural. Karaton Sumedang Larang dan Yayasan Nadzir Wakaf Pangeran Sumedang yang menaunginya terus berkontribusi aktif dalam pelestarian adat, seni, serta sejarah lokal.
Mahkota Binokasih berfungsi sebagai simbol kolektif masyarakat Sunda dalam mengonstruksi kembali jati diri mereka di tengah zaman yang berubah cepat. Kirab tersebut memperkuat makna mahkota sebagai pemersatu kultural.
Selain sebagai pengingat sejarah, mahkota juga merepresentasikan nilai etika kepemimpinan, spiritualitas, dan harmoni antara manusia dan lingkungannya.
Dalam kirab ini, mahkota hadir sebagai elemen simbolik yang mempertemukan kembali masyarakat dengan akar tradisinya.
Kegiatan kirab lintas wilayah juga menciptakan pemaknaan baru terhadap sejarah Sunda yang tersebar. Wilayah seperti Ciamis dan Bogor yang terlibat dalam prosesi ini seakan merekatkan kembali fragmen-fragmen sejarah kerajaan Sunda. (des/berbagai sumber)***





