Prahara Sumedanglarang

WhatsApp Image 2025 05 31 at 18.59.16
Sajian drama musikal “Prahara Sumedang Larang” oleh Teater Ahasveros XI Sastra Inggris 2023 - FISS Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, di Gd. Rumentangsiang Bandung, Sabtu, 24 Mei 2025. Drama musikal ini disutradarai Rosyid E. Abby. (Foto: Doddi Ahmad Fauji).

Naskah dan Sutradara ROSYID E. ABBY, 24 Mei 2025, Gd. Rumentangsiang Bandung.

SINOPSIS

Embah Jayaperkosa (Sanghyang Hawu) sebagai senapati terakhir sebelum runtuhnya Kerajaan Pakuan Pajajaran, bersama ketiga adiknya (Embah Nangganan/Batara Dipati Wiradijaya, Sanghyang Kondanghapa, Embah Terongpeot/Batara Pancar Buana) berhasil menyelamatkan mahkota kerajaan (Mahkota Binokasih), serta atribut kerajaan lainnya. Benda-benda pusaka tersebut diserahkan pada Raja Sumedanglarang. Dan sejak itu, keempatnya menjadi Senapati Kerajaan Sumedanglarang dengan sebutan Opat Kandaga Lante.

Persoalan Prabu Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya menjadi sebuah perselisihan antara Kerajaan Sumedanglarang dengan Kerajaan Cirebon, hingga Cirebon mengirim pasukannya menyerang Kutamaya, pusat pemerintahan Sumedanglarang.

Sebelum pergi menghadang pasukan Cirebon, Jayaperkosa menanam pohon hanjuang di Alun-alun Kutamaya dan beramanat, ”Seandainya pohon hanjuang daunnya layu, tandanya hamba telah gugur. Sebaliknya kalau pohon hanjuang tumbuh subur, tandanya hamba unggul perang.”

Saat peperangan, Jayaperkosa terpisah dari ketiga saudaranya yang turut dalam peperangan itu. Nangganan menduga bahwa Jayaperkosa telah gugur dalam pertempuran tersebut, hingga mereka memutuskan kembali ke Kutamaya, dan menyarankan Prabu Geusan Ulun agar memindahkan pusat Pemerintahan Sumedanglarang dari Kutamaya ke tempat yang aman. Prabu Geusan Ulun menyetujuinya dengan memilih lereng Gunung Rengganis (Dayeuhluhur) sebagai basis pertahanan yang sangat strategis.

Jayaperkosa yang kembali dari medan perang menemukan Kutamaya telah ditinggalkan. Dia sangat menyesalkan tindakan Prabu Geusan Ulun, dan sesampainya di Dayeuhluhur dibunuhnya Nangganan, adik kandungnya sendiri, atas kesalahannya itu. Hal tersebut dilakukan karena Embah Jayaperkosa merasa kecewa, bahwa harapannya untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Pakuan Padjajaran melalui Kerajaan Sumedanglarang, telah gagal.

Sementara pohon hanjuang yang ditanam oleh Embah Jayaperkosa, sampai saat ini masih tumbuh subur di Kutamaya (sekarang Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara).

ULASAN

Di tengah makin maraknya tayangan konten di media digital yang sering kali menawarkan tontonan pseudo realistik (palsu) terutama instagram yang mengedepankan citra visual (baik foto maupun video), maka menonton teater konvensional di panggung prosenium, kita diajak untuk melihat kenyataan yang lebih realistik, tentang upaya para aktor teater dalam menghidupkan lakon yang tengah mereka bawakan. Pertunjukan teater secara riil di panggung, sudah berabad silam hingga ini, di negara-negara sejahtera seperti Eropa dan Amerika, masih marak hingga kini, tak peduli seberapa revolusionernya pengaruh sosmed membuat orang-orang mager (malas bergerak). Karena pertunjukan teater, mengajak pemirsa untuk berhimpun dalam komunal yang langsung, offline, dan terjadi silaturahmi estetik yang kaya nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, ketika saya diundang oleh penulis naskah dan sutradara Rosyid E. Abby untuk menyaksikan drama musikal teranyar ‘Prahara Sumedang Larang’, saya menyempatkan hadir untuk menyimak, meski tubuh sedang kurang fit untuk mengapresiasi pertunjukan teater.

Apa yang tersaji di panggung, memuaskan atau ada yang kurang, bukanlah hasil editan kamera ponsel yang canggih, namun sebuah pertunjukan yang diramu dengan proses latihan yang panjang. Teater mengajarkan kepada kita, untuk tidak ujug-ujug, meski dalam pertunjukan teater terkadang dibutuhkan improvisasi yang mengharuskan berlaku ujug-ujug untuk menyiasati keadaan.

Sajian drama musikal oleh Teater Ahasveros XI Sastra Inggris 2023 – Fakultas Imu Seni dan Sastra (FISS) Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, itu cukup menghibur saya sebagai penonton. Panggung tidak bisa membohongi, bahwa permainan karakter para aktor/aktris tampak masih dalam proses belajar akting. Jam terbang manggung dalam teater, sepanjang yang pernah saya tonton sejak tahun 1990-an, selalu terlihat apakah para aktor sudah terlatih atau baru tahap belajar. Namun kurang atau lebih dari yang disajikan hampir dua jam itu, tetap memberi makna yang mendalam bagi saya yang belakangan ini sudah kehabisan waktu untuk menyimak pertunjukan teater.

Tata kostum, artistik, properti, mobilisasi bloking aktor, sudah tampak menghibur mata. Juga alunan musik, syahdu untuk dikuping, apalagi jika totalitas para aktor dalam menyanyikannya sudah makin terasah, pertunjukan ini akan menyodorkan tontonan yang memikat.

Tema yang diusung berlatar sejarah, Prahara Sumedanglarang, mengajak saya untuk merenungi masa lalu kerajaan-kerajaan di Jawa Barat bagian Timur, ternyata sarat dengan pergolakan. Sejarah yang dituturkan dalam pertunjukan, memberikan gambaran versi lain dari bentangan sejarah yang selama ini disusun oleh pemenang dalam rebutan politik kekuasaan. Pertunjukan ini terasa kontekstual dengan niatan pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan, yang berencana menyusun sejarah baru Indonesia versi penguasa. Apakah kisah-kisah di Sumedanglarang akan terkemot dalam buku Sejarah Indonesia yang dirancang mencapai 10 bab itu? Kita tunggu saja, seperti apa negara menyusun sejarah, lengkap atau corencang?

KARAKTER:

PRABU GEUSAN ULUN, Raja Sumedanglarang
RATU HARISBAYA, selir Panembahan Ratu Cirebon, kekasih Prabu Geusan Ulun OPAT KANDAGA LANTE, Patih dan Senapati Kerajaan Sumedanglarang: EMBAH JAYAPERKOSA (SANGHYANG HAWU)
EMBAH NANGGANAN (BATARA DIPATI WIRADIJAYA) SANGHYANG KONDANGHAPA
EMBAH TERONGPEOT (BATARA PANCAR BUANA)
WIRALODRA, Panglima Kerajaan Cirebon SURADIPATI, Senapati Kerajaan Cirebon
NYI KUNTI, dayang Ratu Harisbaya
NYI SARPI, dayang Ratu Harisbaya
NYI KARTI, dayang Ratu Harisbaya
NYI ITOH, dayang Ratu Harisbaya
PARA BIDADARI, PARA PRAJURIT KERAJAAN SUMEDANGLARANG, PARA PRAJURIT KERAJAAN CIREBON

***

Doddi Ahmad Faujisastrawan cum wartawan.