Prodi Ilmu Politik UIN Bandung-KBM UGM, Kaji Diaspora di Diskusi Buku ‘Gerak Kuasa’

962534f0 0ca7 4aa5 a210 2bacba807ce7 980x400 1
Diskusi Buku Gerak Kuasa bertajuk "Wacana Diaspora dan Siasat Ruang Ambang: Paul Gilroy dan Homi Bhabha", diselenggarakan Jumat (27/11/2020), (Foto: Humas UIN Bandung).

ZONALITERASI.ID – Diskusi Buku Gerak Kuasa bertajuk “Wacana Diaspora dan Siasat Ruang Ambang: Paul Gilroy dan Homi Bhabha”, diselenggarakan melalui aplikasi zoom meeting, Jumat (27/11/2020).

Acara itu digelar Program Studi (Prodi) Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Prodi Kajian Budaya dan Media (KBM) Sekolah Pascasarjana Univeritas Gadjah Mada (UGM).

Tampil menjadi narasumber Dr. Kris Budiman (UGM) dan Dr. Ikwan Setiawan (Universitas Jember). Sementara pembahas yaitu Asep M Iqbal, Ph.D. (Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung) dan Prof. Rachmi Diyah Larasati (Dosen University of Minnesota, USA. Diskusi buku dipandu oleh Dr. Muslim Mufti, M.Si. (Dosen Prodi Ilmu Politik FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Dekan FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Ahmad Ali Nurdin, MA., Ph.D., sangat mengapresiasi kegiatan ilmiah dengan model kolaborasi antarlembaga untuk menjadi tradisi yang baik bagi pengembangan kelembagaan.

“Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tinginya atas kerja sama antara Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM. Saya kira ini tradisi bagus kolaborasi antara dua lembaga, mudah-mudahan bisa terus ditingkatkan,” tuturnya, saat pembukaan diskusi buku.

Prof. Ali menuturkan, kolaborasi lembaga ini diharapkan dapat berkontribusi bagi pengembangan keilmuan, termasuk bidang ilmu politik dan ilmu-ilmu sosial lainnya.

“Kerja sama ini penting sebagai ikhtiar kita dalam menyebarkan ilmu. Oleh karena itu, kolaborasi ini perlu ditindaklanjuti. Jika kerja sama ini dimulai dengan diskusi buku, maka selanjutnya bisa kerja sama dalam bidang penelitian dan bidang lainnya,” tegasnya.

Ketua Prodi Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Asep A. Sahid Gatara, M.Si, mengatakan, dasar dan sasaran diselenggarakannya kolaborasi diskusi buku Gerak Kuasa yaitu, kehadiran diskusi buku Gerak Kuasa ini bertujuan untuk membuka sinergi penguatan dekolonisasi produksi pengetahuan yang selama ini tengah terus digulirkan oleh Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM.

“Alhamdulillah, kegiatan diskusi buku yang didukung penuh oleh Centre for Asian Social Science Research (CASSR) itu diikuti pendaftar lebih dari 350 orang. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan atmosfir civitas akademik yang lebih baik. Suasana pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang untuk melakukan tradisi bedah buku dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran dan mutu akademik,” pungkasnya.

Geografis dan Teoritis

Dr. Kris Budiman, salah satu penulis buku Gerak Kuasa, menyampaikan, dalam kajian pascakolonial diaspora mengacu kepada fenomena geografis sekaligus konsep teoretis: suatu cara pandang atas pergerakan manusia, kapital, dan informasi global.

“Politika diaspora (diaspora politics): diaspora bukan sekadar perpindahan atau pengembaraan, sebab ada faktor kekerasan (perang, kelaparan, perbudakan, dll.) yang menjadi unsur integralnya. Puitika diaspora (diaspora poetics): dimensi kewacanaan diaspora, seperti tampak pada wacana kesastraan dan ekspresi artistik lainnya, yang menjadi kekuatan budaya ekspresifnya,” kata Dosen Kajian Budaya dan Media UGM ini.

Narasumber lainnya, Dr. Ikwan Setiawan, penulis buku/Dosen Universitas Jember, mengajak semua peserta diskusi buku untuk akrab dengan kebudayaan.

“Mari kita kemudian memahami detil-detil kebudayaan kita, karena banyak hal yang kita anggap biasa, kita remehkan, yang ternyata bisa memunculkan berbagai macam kompleksitas, dan kita bisa berteori dari hal-hal yang kita remehkan tersebut,” tuturnya.

Pembahas Asep M Iqbal, Ph.D., Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung, memberikan penghargaan terhadap isi buku Gerak Kuasa.

“Buku ini dapat menjadi pegangan bagi para pengkaji ilmu sosial dengan pendekatan lintas disiplin ilmu.

“In general, telah berhasil menjadi pengantar yang baik bagi cultural studies, dan kajian budaya dan media. Kontribusi bagi khazanah kajian budaya di Indonesia. Buku langka di Indonesia: handbook, reader. In particular, kontribusi Bhabha bagi kajian postcolonial studies. Kontribusi Bhabha bagi kajian diaspora,” ungkap Direktur Centre for Asian Social Science Research (CASSR) ini.

Pembahas lainnya, Prof. Rachmi Dyah Larasati, guru besar University of Minnesota, USA menilai, buku ini ada keunggulan dan memiliki kekuatan tersendiri dari pemikiran Paul Gilroy maupun Homi K Bhaba. Tentunya, dijumpai juga titik-titik kelemahannya. (des)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *