PUISI Herry Supryono, Rudianto, dan Uun Nugraha

istockphoto 1318844300 170667a
Ilustrasi "Puisi Herry Supryono, Rudianto, dan Uun Nugraha". (Foto: iStock)

Puisi Herry Supryono

JELANG SETAHUN KEPERGIANMU

Untukmu yang terlahir hanya untuk menjalani praktik samsara,
Untukmu yang terkapar di tengah baris bait puisi Sang Ayah,
Untukmu yang selalu lantang menjerit di pagi buta merapalkan nama Penguasa Semesta saat semua masih terlena,
Demi Tuhan, engkau masih terlalu belia untuk semua derita, walau itu rahasiamu dengan Sang Pencipa,
Tapi kami manusia remuk redam, hancur, hampir mati berkalang tanah demi secuil senyummu yang nyata,

***

KISAH AYAH KEHILANGAN PUTRI

Kalau engkau belum pernah bertemu malaikat, suatu hari nanti akan membawamu menemuinya,
Benar, seperti yang diisyaratkan kitab-kitab suci, ia bersih tanpa dosa,
Mungkin saja engkau melihatnya tak bersayap, tapi senyumnya bisa membuatmu terbang mengitari jagad semesta,
Aku beritahu, ia akan menyapa siapapun yang menemuinya dengan senyum, meski ia sedang menahan perih tak terkira,
Ia akan membuatmu tetap tersenyum meski sedang menahan pedih tak terperi,
Iya, putriku akan selalu tersenyum apapun yang terjadi pada dirinya,

Tehran, Iran, 4 Oktober 2020

***

Puisi Rudianto

MENATAP WAJAH LANGIT

Tiba-tiba matahari menghubungiku lewat pesan singkat
“Tolonglah aku!”
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
“Singkirkanlah awan mendung dan mega-mega itu! Wajahku terhalang olehnya.”
Demikian pesan singkat yang agak panjang disampaikan matahari kepadaku

Sejujurnya aku juga rindu untuk bertemu matahari
Lama sekali tidak bertemu matahari
Setelah harus WFH, aku sendiri jarang ke luar rumah
Aku tidak tahu apakah matahari masih bersinar atau tidak
Aku hanya bisa melihat sinar lampu, sinar HP, sinar Laptop, dan sesekali kulihat ada sinar televisi.

Seiring datangnya pesan itu
Kusibak jendela, gulita
Kubuka pintu, hanya ada remang di sana
Ke mana matahari?
Seharusnya saat seperti ini dia ada di sini.

Kucoba menatap langit
Ada titik buram diselimuti awan pekat
Tapi aku tahu, kau memiliki sinar yang terang
Awan hitam dan mega pekat telah menutupi pesonamu

Aku coba menatap langit
Kusibak awan dengan peluh
kugeser mega dengan cinta
Kau pun tersenyum

Kini matahari sumringah

Kutatap lagi langit
Saat matahari menatap bumi begitu dalam

Aku berpaling
Aku menunduk
Aku menangis

***

SAAT KAMI TAK BOLEH MENGETUK PINTU RUMAH-MU

Panggilan-Nya sudah berkumandang
Namun kesibukan ini
Telah memaksaku untuk tetap tidak bergeming
Mungkin ini sebuah alasan
Padahal yang memanggilmu bukan sekadar yang memerintahkanmu
Dia yang menghidupkanmu, mematikanmu, menggerakkanmu, bahkan yang mebolak-balikanmu

Panggilan-Nya sudah berkumandang
Namun udara yang dingin dan mata lelah yang mengantuk
Begitu kuat membelenggu
Sampai akhirnya sorot matahari menampar wajahmu lewat jendela
Kau terbirit memenuhi undangan kantor dan pekerjaanmu

Dan kini
Panggilan-Nya tetap berkumandang
Bahkan panggilan itu kini bukan hanya sampai ke telinga
Panggilan itu bergema ke jantung, paru-paru, hati, darah, nadi, syaraf, bahkan sampai ke otak
Langkah kaki begitu kuat untuk memenuhi panggilan-Nya
Namun ada kuasa lain yang mencegahmu

Dan kini
Panggilan-Nya tetap berkumandang
Kami hanya bisa pasrah
Menyerah
“Ya Allah, hanya kepada-Mu kuserahkan diriku.
Terimalah ya Allah!”
“Aku belum siap untuk menerima panggilan terakhir untuk menghadap-Mu, ya Allah.”
Semoga Engkau masih berkenan ya Allah

Cirebon 8 Mei 2020 – 8 Mei 2021

***

Puisi Uun Nugraha

TENTANG

Televisi berkisah padaku;
Tentang pertambahan panjang jalan yang juga tinggi melewati pucuk pohon
Tentang perluasan dermaga untuk mengambil hati kapal-kapal pesiar
Tentang stok beras yang aman tersimpan di gudang Bulog
Tentang model-model kendaraan yang futuristik
Tentang industri komponen elektronika yang semakin canggih
Tentang smartphone meninabobokan para pengguna
Tentang perkembangan warga dunia maya makin hari makin membludak
Tentang debat kusir wakil kita yang makin bugar tak kurang suatu apa
Tentang dunia sinetron yang membuat keluarga duduk manis berjam-jam
Tentang pesta demokrasi berbiaya tebal
Tentang penangkapan yang dia sendiri bilang public figure
Tentang celotehan dukun masa kini memberi petuah pada pasien yang mengantri
Tentang lomba tarik suara yang mengundang decak kagum kadang dibumbui cemooh
Tentang aspal mulus seputaran istana-istana dan real estate
Tentang sandiwara.

Namun kubaca kisah di balik layar televisi; menjelang malam, dalam dingin gerimis, aku bertemu pedagang roti tawar memakai topi kebasahan, berkerudung plastik sobek, menuntun sepeda kempes ban belakangnya, di jalan menanjak agak terburu waktu, agar bisa cepat menemui anak istri, membeli satu liter beras dari laba roti satu hari itu ia berdagang, tanpa menguranginya, karena ia percaya;

Tentang senyuman dan sajian air putih hangat sang istri,
Tentang cerita si bungsu waktu main tadi sore tidak dipinjemin sepeda,
Tentang obrolan si penengah membantu merapihkan genting atap rumah tetangga,
Tentang usulan si cikal untuk ikut pamannya bekerja bangunan di kota,
setelah semua tertidur,

Ia menangis!

Bogor, 2019

***

ELEGI KOTA HUJAN

Gerimis petang kota hujan,
Menyeka debu jalanan,
Kususuri terus mengarah timur dan langkahku terhenti di bawah kenari,
Daun-daunnya jatuh ke telaga,
Disambut jingkrak katak di atas teratai,…nyanyiannya kudengar tentang ibu dan anak mendekap karung rongsokan, di sebelahnya ada sisa nasi di piring plastik, dingin.
Ceritanya tak pernah jadi berita,
Beritanya dianggap hanya cerita,
Mereka hanya cerita tentang mereka yang tak pernah bisa cerita.

— Lintas Kebun Raya Bogor.

Bogor, 2019

***

Herry Supryono, tengah berjalan-jalan di Timur Tengah.

Rudianto, penulis Buku Kumpulan Puisi Menunggu Matahari yang bekerja sebagai Pengawas SMP Disdik Kabupaten Cirebon.

Uun Nugraha, Kepala SDN Campedak, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.