SAJAK-SAJAK KEMATIAN
1
aku berlari
dari pertanyaan-pertanyaan filosofis
sebab tak hendak bersusah-susah dengan pertanyaan filosofis tak berujung
aku menghindar
dari pertanyaan-pertanyaan filosofis
sebab tidak mau kehabisan waktu dengan berpikir
dan ditertawakan orang-orang
aku berhenti
dari menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis
sebab aku tidak pernah siap memasuki jawaban
yang berakhir di tanah merah
selamat jalan sahabatku
kau telah menemukan jawaban filosofis di keabadian
meninggalkan kebersamaan, khayalan-khayalan remaja, james bond dan liwet pesantren
hik …aku masih bersikeras
belum mau menyelami kedalaman filosofis
hanya tetes air mata
untuk kepergianmu Jat
2
Jat, kamu mati ya
Padahal istrimu cantik
Anak-anak dalam perjuangan
Dan usahamu melangkah maju
(Aku sedang sholawat kepada Muhammad
Mendoakan Ibrahim dan para shalihin
Di samping orang berjubah
Merunduk di hadapan-Nya
Tapi aku teringat kamu)
Jat, jasadmu dikubur bumi ya
Terus aku harus gimana
Apakah akan dikubur juga
Aku sedang bersujud
Tapi ingat kamu yang suka bolos
Hanya untuk nonton For Your Eyes
Dan aku hanya mengikut
Jat, jasadmu tidak lagi melangkah di tanah ya
Bapaku juga
Sampaikan salam dan permohonan maaf
Aku belum pernah berbakti
***
KEMBALI KE ALLAH
ketika beban pekerjaan terasa berat
ketika setumpuk teori tidak lagi menuntun
ketika makan terasa hambar
ketika bantal tidak lagi membawa mimpi
ketika sahabat tidak lagi mengundang senyum
ketika ujung dunia terasa di depan mata
Saatnya kembali kepada Allah
bersujud dan menyerahkan segala
Di persimpangan
melihat jejak
menghapus jarak
menenggelamkan langkah kelam
sebab hidup
berujung di keabadian
26 Oktober 2015
***
NOL
(13 Pebruari 2020 – 18.42)
Dari masjid ke belantara
Kembali ke paimbaran
Dari pemandian ke lumpur
Kini mandi di tujuh sumur
Dari kampung ke rantau
Saatnya kembali ke kelahiran
Hidup bermula dari nol
Kembali menuju nol
Eksistensial
Kekasih
Engkau menuju Barat
Aku berjalan arah sendiri
Engkau terbangi gumpalan mega
Aku menyelami samudera
Kekasih
Di hadapan Nya kita adalah Aku
Dan kami adalah Kamu
Lima Puluh Lima Takbiran
Bagai mahasiswa
Menerbangkan mimpi
Hanyut dalam lamunan
Keseharian
Hanyalah sedikit menahan lapar
Tidak ke pesta
Atau berebut permaisuri
Setelah limapuluh lima takbiran
Saatnya Kembali ke kesederhanaan
***
PUISI SENJA
Melayang di atas mega
mengintip ratu hendak turun ke telaga
— mengapa matamu melirik dan melempar senyum kecil —
Terbang menjelajah langit
menampak putri meniti pelangi
menenteng sekeranjang pakaian
hendak mencuci di danau sunyi
—mengapa selendangmu melambai-lambai–
……………………..
(Dan aku pun kembali ke bilik pertapa
***
Suheryana Bae, lahir di Rancah, Ciamis 14 Agustus 1964. Menulis puisi sejak SMA dan puisi-puisinya kerap dimuat di koran Pikiran Rakyat Edisi Ciamis. Selain menulis puisi, dia menulis artikel dan dimuat antara lain di Harian Umum Pikiran Rakyat dan Zonaliterasi.id. Kini Suheryana Bae tinggal di Ciamis Jawa Barat.





