KEKASIH
I
Aku ingin membuat sajak untukmu
Yang teramat indah
Sebab kau tak boleh hilang
Tertelan waktu
Kau adalah Cahaya kehidupanku
Adalah nafasku
Adalah jantungku
Adalah nadiku
Adalah tanganku
Adalah karyaku
Adalah matahariku
Adalah rembulanku
Adalah anggurku
Adalah hidupku
II
Seperti bayi
Aku merengek di pangkuanmu
Aku menangis di pangkuanmu
Aku tertawa di pangkuanmu
Seperti bayi
Ah, aku mencintamu sepenuhnya
Mengertikah kau kekasih
III
Biar
Kuterjang ombak
Biar
Kutembus hujan
Biar
Kuserap nafas
Kutelan angin
Kuisap debu
Kuinjak duri
Kugapai langit
Kekasih
Demi kau kupersembahkan bulan
Demi kau kupetik anggur
Kekasih
Demi kau kekasih
IV
Kekasih, aku ingin jadi lelaki yang bijak
Yang tidak cemburu ketika kau dicium lelaki lain
Yang tidak menangis ketika kau menginjak-injak cintaku
Yang tidak marah ketika kau menampar wajahku
Yang tidak meradang ketika kau membunuh cintaku
Aku ingin menjadi lelaki yang bijak
Yang membutuhkanmu
Tapi tidak mengikatmu
Yang dibutuhkan kamu
Tapi tidak terikat olehmu
Sungguh kekasih
Aku ingin jadi lelaki sejati
Yang mampu menikmtai keindahan cinta
Yang tidak mudah goyah dan tegak pada kedirian
V
Matamu, duh
Bibirmu, duh
Senyummu, duh
Mabuk, mabuk aku
Karena-Mu kekasih
Langit, laut, gunung, bumi, pelangi, danau
Biarlah lumat jadi abu
Asal kau tetap dalam dekapan
***
SETENGAH ABAD CINTA
1
Menunggumu
adalah menunggu abad yang berlalu
aku memilih kopi
di abad kekinian
sebab seperti kemaren kau bisikan
waktu dan pilihannya sudah berubah
2
Gemerlap jendela kota Jakarta
menemaniku melesat dari masa ke masa
dan aku pun terduduk di sisa-sisa hari
dengan kearifan seorang sufi
bahwa keterbatasan di matamu
adalah energi menembus batas
ketika kau berbisik bahwa kau dan aku punya hari, ruang, dan jalan
Aku pun mengangguk
dan dengan segenap rasa aku menghapus rasa
melangkah tanpa masa lalu
3
Menuju matahari terbenam
meninggalkan keceriaan pagi
pesona sunset menghilang
bayang keperakan tersisa
4
ketika kau menatapku
aku melihat kerutan
ketika aku menatapmu sahabat
kau berkata lirih tuk meninggalkanmu di alam mimpi
dan akupun menyongsong purnama
tanpamu
tanpa masa lalu
5
Biarkan menikmati kesunyian
atau boleh jadi hanya bertahan dalam kesunyian
Biarkan menikmati kepedihan ini
atau boleh jadi hanya mencoba berdiri tegak di tengah kepedihan
Tersebab hidup hendak membaik
pada usia yang berkurang
sedang perasaan dan nafsu tidak pernah menjadi tua
6
gemercik hujan
kegelapan malam
iklan tv di ruang piket sebelah
: ahhh …
***
KEMBALI KE ALLAH
ketika beban pekerjaan terasa berat
ketika setumpuk teori tidak lagi menuntun
ketika makan terasa hambar
ketika bantal tidak lagi membawa mimpi
ketika sahabat tidak lagi mengundang senyum
ketika ujung dunia terasa di depan mata
Saatnya kembali kepada Allah
bersujud dan menyerahkan segala
Di persimpangan
melihat jejak
menghapus jarak
menenggelamkan langkah kelam
sebab hidup
berujung di keabadian
26 Oktober 2015
***
NOL
(13 Pebruari 2020 – 18.42)
Dari masjid ke belantara
Kembali ke paimbaran
Dari pemandian ke lumpur
Kini mandi di tujuh sumur
Dari kampung ke rantau
Saatnya kembali ke kelahiran
Hidup bermula dari nol
Kembali menuju nol
Eksistensial
Kekasih
Engkau menuju Barat
Aku berjalan arah sendiri
Engkau terbangi gumpalan mega
Aku menyelami samudera
Kekasih
Di hadapan Nya kita adalah Aku
Dan kami adalah Kamu
Lima Puluh Lima Takbiran
Bagai mahasiswa
Menerbangkan mimpi
Hanyut dalam lamunan
Keseharian
Hanyalah sedikit menahan lapar
Tidak ke pesta
Atau berebut permaisuri
Setelah limapuluh lima takbiran
Saatnya kembali ke kesederhanaan
***
Suheryana Bae, terlahir di desa. Berangan menjadi penulis, penyair, atau novelis tetapi dalam perjalanan hidupnya tercatat sebagai ASN di Timor Timur, Ciamis, dan Pangandaran. Kini memasuki masa purnabakti di Ciamis Jawa Barat.





