PUISI Suheryana Bae

664xauto 50 caption senja yang indah dan penuh makna jadi semakin rindu pujaan hati 210401r
Ilustrasi "Puisi Suheryana Bae". (Foto: Dream.co.id)

KEKASIH

I

Aku ingin membuat sajak untukmu
Yang teramat indah
Sebab kau tak boleh hilang
Tertelan waktu

Kau adalah Cahaya kehidupanku
Adalah nafasku
Adalah jantungku
Adalah nadiku
Adalah tanganku
Adalah karyaku
Adalah matahariku
Adalah rembulanku
Adalah anggurku
Adalah hidupku

II

Seperti bayi
Aku merengek di pangkuanmu
Aku menangis di pangkuanmu
Aku tertawa di pangkuanmu

Seperti bayi
Ah, aku mencintamu sepenuhnya
Mengertikah kau kekasih

III

Biar
Kuterjang ombak
Biar
Kutembus hujan
Biar

Kuserap nafas
Kutelan angin
Kuisap debu
Kuinjak duri
Kugapai langit

Kekasih
Demi kau kupersembahkan bulan
Demi kau kupetik anggur

Kekasih
Demi kau kekasih

IV

Kekasih, aku ingin jadi lelaki yang bijak
Yang tidak cemburu ketika kau dicium lelaki lain
Yang tidak menangis ketika kau menginjak-injak cintaku
Yang tidak marah ketika kau menampar wajahku
Yang tidak meradang ketika kau membunuh cintaku

Aku ingin menjadi lelaki yang bijak
Yang membutuhkanmu
Tapi tidak mengikatmu
Yang dibutuhkan kamu
Tapi tidak terikat olehmu

Sungguh kekasih
Aku ingin jadi lelaki sejati
Yang mampu menikmtai keindahan cinta
Yang tidak mudah goyah dan tegak pada kedirian

V

Matamu, duh
Bibirmu, duh

Senyummu, duh
Mabuk, mabuk aku
Karena-Mu kekasih

Langit, laut, gunung, bumi, pelangi, danau
Biarlah lumat jadi abu
Asal kau tetap dalam dekapan

***

SETENGAH ABAD CINTA

1

Menunggumu
adalah menunggu abad yang berlalu
aku memilih kopi
di abad kekinian
sebab seperti kemaren kau bisikan
waktu dan pilihannya sudah berubah

2

Gemerlap jendela kota Jakarta
menemaniku melesat dari masa ke masa
dan aku pun terduduk di sisa-sisa hari
dengan kearifan seorang sufi
bahwa keterbatasan di matamu
adalah energi menembus batas
ketika kau berbisik bahwa kau dan aku punya hari, ruang, dan jalan
Aku pun mengangguk
dan dengan segenap rasa aku menghapus rasa
melangkah tanpa masa lalu

3

Menuju matahari terbenam
meninggalkan keceriaan pagi
pesona sunset menghilang
bayang keperakan tersisa

4

ketika kau menatapku
aku melihat kerutan
ketika aku menatapmu sahabat
kau berkata lirih tuk meninggalkanmu di alam mimpi
dan akupun menyongsong purnama
tanpamu
tanpa masa lalu

5

Biarkan menikmati kesunyian
atau boleh jadi hanya bertahan dalam kesunyian

Biarkan menikmati kepedihan ini
atau boleh jadi hanya mencoba berdiri tegak di tengah kepedihan

Tersebab hidup hendak membaik
pada usia yang berkurang
sedang perasaan dan nafsu tidak pernah menjadi tua

6

gemercik hujan
kegelapan malam
iklan tv di ruang piket sebelah
: ahhh …

***

KEMBALI KE ALLAH

ketika beban pekerjaan terasa berat
ketika setumpuk teori tidak lagi menuntun
ketika makan terasa hambar
ketika bantal tidak lagi membawa mimpi
ketika sahabat tidak lagi mengundang senyum
ketika ujung dunia terasa di depan mata

Saatnya kembali kepada Allah
bersujud dan menyerahkan segala
Di persimpangan
melihat jejak
menghapus jarak
menenggelamkan langkah kelam

sebab hidup
berujung di keabadian

26 Oktober 2015

***

NOL
(13 Pebruari 2020 – 18.42)

Dari masjid ke belantara
Kembali ke paimbaran

Dari pemandian ke lumpur
Kini mandi di tujuh sumur

Dari kampung ke rantau
Saatnya kembali ke kelahiran

Hidup bermula dari nol
Kembali menuju nol

Eksistensial
Kekasih
Engkau menuju Barat
Aku berjalan arah sendiri

Engkau terbangi gumpalan mega
Aku menyelami samudera

Kekasih
Di hadapan Nya kita adalah Aku
Dan kami adalah Kamu

Lima Puluh Lima Takbiran
Bagai mahasiswa
Menerbangkan mimpi
Hanyut dalam lamunan

Keseharian
Hanyalah sedikit menahan lapar
Tidak ke pesta
Atau berebut permaisuri

Setelah limapuluh lima takbiran
Saatnya kembali ke kesederhanaan

***

Suheryana Bae, terlahir di desa. Berangan menjadi penulis, penyair, atau novelis tetapi dalam perjalanan hidupnya tercatat sebagai ASN di Timor Timur, Ciamis, dan Pangandaran. Kini memasuki masa purnabakti di Ciamis Jawa Barat.