Remaja Pengguna Media Sosial Punya Kemampuan Membaca yang Buruk

ilustrasi media sosial
Ilustrasi remaja tengah asyik bermain media sosial, (Foto: Getty Images/iStockphoto).

ZONALITERASI.ID University of Georgia merilis studi terbaru terkait dampak media sosial terhadap remaja. Dalam studi itu ditemukan, remaja yang main media sosial memiliki kemampuan membaca yang buruk dari waktu ke waktu.

Fakta itu diambil berdasarkan data studi Pengembangan Kognitif Otak Remaja pada lebih dari 10.000 remaja selama 6 tahun.

Dikutip dari laman University of Georgia, Sabtu, 4 April 2026, para peneliti menemukan, penggunaan media sosial secara teratur pada awal masa remaja berkaitan dengan kemampuan membaca dan kosakata. Semakin bertambah usia, kemampuan membaca dan kosakata mereka semakin buruk.

Penulis utama studi, Cory Carvalho, mengatakan, otak mirip dengan otot. Semakin sering digunakan, semakin banyak perubahan yang terjadi sesuai dengan cara seseorang menggunakannya.

“Jika anak-anak menghabiskan lebih dari delapan jam sehari menggunakan media sosial, itulah yang akan diadaptasi dan diprogram oleh otak mereka,” ujar Carvalho.

Selain kemampuan membaca dan kosakata yang buruk, remaja yang lebih sering menggunakan media sosial juga kesulitan berkonsentrasi.

Peneliti memperkirakan remaja semakin sulit berkonsentrasi karena notifikasi yang terus mengalihkan perhatian mereka.

Namun, ada dampak positif dari remaja yang menggunakan media sosial: mereka memproses informasi lebih cepat. Selain itu, mereka juga memiliki waktu reaksi yang lebih singkat.

Media sosial juga membantu remaja tetap terhubung dengan orang lain, terutama jika mereka berada di lingkungan di mana berteman itu sulit.

Saran Peneliti

Untuk mengurangi efek negatif media sosial, para peneliti menyarankan untuk membatasi waktu layar bagi remaja, terutama sebelum tidur. Mereka juga merekomendasikan untuk menunggu hingga anak-anak lebih besar untuk membeli ponsel pintar.

Jika orang tua perlu tetap berhubungan dengan anak-anak mereka, disarankan untuk membeli ponsel biasa yang tidak dapat mengakses media sosial.

“Anda lihat banyak negara bagian, negara, dan organisasi yang berbeda akan mencoba berbagai hal. Mudah-mudahan, kita menetapkan beberapa norma yang bermanfaat bagi anak-anak dan bukan untuk keuntungan,” kata Carvalho. (haf)***