ZONALITERASI.ID – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat menyelenggarakan “Rembuk Merah Putih” bertema “Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis, dan Cinta Tanah Air”, di Pendopo Kota Bandung, pada Jumat, 14 November 2025.
“Rembuk Merah Putih” dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai unsur, termasuk pemuda, mahasiswa, jurnalis, organisasi kepemudaan, lintas agama, dan perwakilan pemerintah daerah.
Kegiatan ini bertujuan mendorong generasi muda menjadi agen perubahan yang mampu melahirkan gagasan kreatif dan karya positif dalam upaya pencegahan terorisme dan radikalisme.
Ketua FKPT Jawa Barat, R.R. Desy Priatni, S.H., M.H., menjelaskan, FKPT Jawa Barat sebagai mitra Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berperan melakukan pencegahan radikalisme melalui pendekatan edukatif, kultural, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kehadiran FKPT di seluruh provinsi memastikan upaya pencegahan berjalan efektif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” jelasnya.
Desy menuturkan, Rembuk Merah Putih merupakan langkah strategis untuk memperluas literasi kebangsaan dan pencegahan terorisme.
Mengingat pentingnya menanamkan nilai kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari sebagai fondasi untuk memperkuat persatuan bangsa.
“Kasih sayang tidak hanya mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga antarsesama manusia dan lingkungannya,” ujarnya.
“Dengan adanya Rembuk Merah Putih diharapkan dapat merawat nilai kemanusiaan, empati, peduli, serta penghormatan antarumat beragama sebagai bagian dari pembentukan karakter pemuda Indonesia,” tambah Desy.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Pemuda adalah garda terdepan bangsa, sehingga perlu dibentuk menjadi generasi yang unggul, tangguh, agamis, dan amanah. Terciptanya rasa aman bagi seluruh warga melalui semangat kolaborasi dengan jejaring komunitas dan kerja bersama lintas agama,” tuturnya.
Adi menekankan pentingnya menghapus stereotip, melawan propaganda radikal, memaksimalkan peran media sebagai alat edukasi di mana pemuda dapat menjadi produsen konten positif atau “influencer kebaikan”.
Menurutnya, ancaman terhadap bangsa tidak hanya berupa penjajahan fisik, tetapi bisa muncul kapan saja dan dari siapa saja, sehingga diperlukan semangat menjaga perdamaian, menolak kekerasan, dan menghadirkan kepahlawanan modern melalui tindakan nyata.
“Pemuda harus berani berdiri menjaga keutuhan bangsa dengan menjadi pribadi yang cerdas, kritis, inklusif, dan cinta Indonesia,” jelasnya.
“Dalam konteks ini, memanfaatkan media sangat penting untuk menghasilkan konten positif sebagai bentuk kepahlawanan modern. Menjadi pahlawan masa kini bukan berarti turun ke medan perang, tetapi menjaga perdamaian melalui tindakan nyata mulai dari menjaga persatuan, menolak kekerasan, sampai melindungi sesama,” sambung Adi.
Dukungan BNPT: Kolaborasi sebagai Kunci
Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto, S.E., M.Han., saat membuka kegiatan mengatakan, BNPT selama 15 tahun telah fokus menguatkan edukasi di berbagai lingkungan, termasuk pendidikan.
Pertama, melawan terorisme membutuhkan kolaborasi dan kerja sama lintas sektor.
Kedua, negara berkewajiban melindungi, mengayomi, memastikan, dan memulihkan masyarakat dari ancaman terorisme.
Ketiga, di era digital, penyebaran konten radikal sangat cepat, bahkan melalui gim dan ruang digital lainnya.
Sudaryanto menegaskan pentingnya wawasan kebangsaan dan kreativitas positif melalui tulisan serta konten digital yang mempromosikan toleransi dan persaudaraan antaragama, suku, dan budaya.
Dengan pendekatan kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat, FKPT dan BNPT berharap generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang toleran, kritis, dan cinta tanah air. Pemuda diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai kedamaian serta menjaga kerukunan sebagai bagian dari penguatan ketahanan nasional.
“Kasih sayang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Dengan nilai ini, pemuda Indonesia akan menjadi benteng utama dalam menjaga persatuan dan mencegah paham ekstrem,” pungkas Sudaryanto. (des)***





