Sejarah Hari Pramuka Indonesia 14 Agustus, Berawal dari Gerakan Kepanduan

gerakan pramuka
Hari Pramuka Indonesia atau Hari Pramuka Nasional diperingati setiap tanggal 14 Agustus. Kehadiran Hari Pramuka ini tidak lepas dari perkembangan gerakan kepanduan Tanah Air sejak zaman Hindia-Belanda, (Foto: Pramuka.or.id).

ZONALITERASI.ID – Hari Pramuka Indonesia atau Hari Pramuka Nasional diperingati setiap tanggal 14 Agustus. Kehadiran Hari Pramuka ini tidak lepas dari perkembangan gerakan kepanduan Tanah Air sejak zaman Hindia-Belanda.

Sebelum kemerdekaan, gerakan kepanduan di Indonesia terpecah-pecah pada berbagai organisasi. Namun, pascakemerdekaan berlangsung Kongres Kesatuan Kepanduan di Surakarta yang menjadi sebuah momen penting.

Mengutip laman Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Indonesia, Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta berlangsung pada 27-29 Desember 1945. Kongres itu menghasilkan Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan Indonesia.

Baru 3 tahun berjalan, Pandu Rakyat ditentang keberadaannya karena agresi militer Belanda pada 1948. Organisasi ini dilarang beroperasi terutama pada daerah-daerah yang sudah dikuasai Belanda.

Akibatnya, muncullah organisasi lain, seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM). Berangkat dari hal ini, kepanduan Indonesia kembali terpecah menjadi 100 organisasi.

Namun, berbeda dengan zaman Hindia-Belanda, 100 organisasi ini tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo). Jumlah perkumpulan kepramukaan yang mencapai seratus organisasi ini dinilai tak sebanding dengan jumlah anggota perkumpulannya.

Keadaan ini menarik perhatian Presiden Soekarno. Menggandeng Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang kala itu merupakan Pandu Agung, ia ingin organisasi kepanduan dilebur dalam satu wadah.

Ia kemudian mengumpulkan tokoh dan pemimpin gerakan kepanduan di Indonesia. Dari proses tersebut, terciptalah nama Pramuka. Mengutip Direktorat SMP Kemendikdasmen, Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana yang berarti “rakyat muda suka berkarya”.

Nama Pramuka diusulkan oleh sang Bapak Pramuka Indonesia, Sultan Hamengkubuwono IX. Inspirasinya dari kata poromuko, yang artinya pasukan terdepan dalam perang.

Pada 9 Maret 1961, nama Pramuka benar-benar diresmikan. Peresmian nama itu kemudian diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka setiap tahunnya.

Sebelas hari kemudian, atau 20 Mei 1961 terbit Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka. Momen ini kemudian dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.

Selanjutnya, pada 20 Juli 1961, para wakil organisasi kepanduan Indonesia mengeluarkan pernyataan di Istana Olahraga Senayan, untuk meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka. Momen akbar ini disebut sebagai sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka.

Adapun penetapan 14 Agustus 1961 sebagai Hari Pramuka, mengacu kepada momen saat gerakan Pramuka diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat luas dalam upacara di halaman Istana Negara.

Saat itu, Sultan Hamengkubuwono IX menerima Panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno. Panji itu lalu diteruskan Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada suatu barisan defile yang terdiri dari para Pramuka di Jakarta, dan dibawa berkeliling kota.

Pada 2025, Hari Pramuka diperingati yang ke-64 tahun dengan tema “Kolaborasi untuk Membangun Ketahanan Bangsa”.

Tema ini menyoroti dan menegaskan peran strategis Gerakan Pramuka dalam mendorong kolaborasi lintas sektor. Dengan tema ini, Pramuka diharapkan terus mengukuhkan posisinya sebagai agen perubahan positif, pilar kekuatan bangsa, dan organisasi yang relevan serta adaptif. ***