SEKOLAH Dasar Negeri (SDN) Miangas, boleh jadi merupakan sekolah paling utara di Indonesia. Sekolah ini terletak di Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Secara geografis, sekolah ini unik karena berada di beranda Lautan Pasifik, berhadapan langsung dengan kota Davao Filipina. Sekolah ini termasuk sekolah di wilayah 3 T (tertinggal, terdepan, terluar). Dalam suatu kesempatan Kepala SDN Miangas, Ibu Elisa Mangoli, pernah berujar bahwa sekolah yang yang dipimpinnya memiliki tiga orang guru dengan jumlah siswa sebanyak 57 orang. Seperti lazimnya sekolah di daerah 3 T, sarana prasarana sekolah relatif terbatas, namun komitmen tak pudar. “Sekolah kami ingin mengantarkan generasi muda Miangas menjadi pribadi yang tangguh, berpengetahuan, berketerampilan dan menjadi warga negara yang menjunjung NKRI. Tugas mulia ini tak mudah, tetapi amanah ini akan terus kami lakukan.”
Sebagai pulau yang paling utara, Miangas berbatasan langsung dengan Filipina. Interaksi bisnis dan budaya warga Miangas dengan warga Filipina sangat intensif. Dalam perniagaan di Pulau Miangas, sering mata uang peso (mata uang resmi Filipina), lebih dominan ketimbang rupiah. Dalam perniagaan antarpenduduk, sering juga dilakukan dengan sistem barter. Tiga bahasa juga menjadi alat komunikasi antarwarga yaitu bahasa lokal Talaud, bahasa Tagalog dan bahasa Indonesia. Banyak juga kosakata bahasa Tagalog yang memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia misalnya : tolong = tulong, tengah hari = tanghali, sumpah = sumpa, sakit = sakit, payung = payong, bulan = buwan; cinta = sinta, batu = bato, daun = dahon. Kemampuan berbahasa Tagalog ini sangat penting bagi masyarakat Miamas. Hal ini untuk memudahkan proses barter, atau jual-beli dan interaksi sosial dengan masyarakat Filipina.
Mayoritas masyarakat Pulau Miangas adalah Suku Sangir. Mereka bermatapencaharian sebagai nelayan. Sedangkan, sebagian masyakarat lainnya menanam kelapa untuk dijadikan kopra, cengkih, hingga pala untuk dijual. Interaksi yang intensif antara dua kelompok warga yang berbeda negara, menimbulkan persoalan tersendiri, baik dalam akulturasi budaya, proses sosial ekonomi, ataupun politik dan hankam. Hal ini juga menjadi tantangan serius dalam proses pendidikan di sekolah. Bagaimana generasi muda Miangas tetap berhati merah putih dan terus menggelorakan NKRI: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.
Salah seorang sahabat, guru SMAN di Beo Talaud, Mas Albert Salibana bertutur, tantangan alam di Kepulauan Talaud sangat ekstrem. Keadaan cuaca di Kepulauan Talaud saat ini sering berubah drastis. Pagi hari cerah, sore hari langsung berkabut tebal bergayut. Malam hari bisa turun hujan lebat sampai semalam suntuk. Lautan pun yang berhadapan dengan Lautan Pasifik sering berulah dengan menampakkan keperkasaannya. Laut yang tenang tiba-tiba berombak tinggi dengan tiupan angin sangat kencang. Badai sering menerpa perumahan kami. Dampak perubahan iklim sangat berpengaruh dalam cuaca di daerah kami. Cuaca sering berubah dalam waktu yang cepat. Ketika musim badai, masyarakat lokal yang umumnya nelayan dan petani dalam posisi siaga. Mereka posisi waspada tingkat tinggi. Nelayan tak melaut, karena ombak laut bisa mencapai 2 sampai 3 meter tingginya. Petani pun banyak mengurung diri. Bagi kami, para guru di Kepulauan Talaud, tiada pilihan lain. Kami harus siaga. Kepala sekolah mewanti-wanti agar para guru dalam kondisi kewaspadaan tinggi, di sekolah ataupun di luar sekolah. Termasuk waspada menjaga lingkungan, dan meyakinkan para siswa tidak sedang berada pada posisi bahaya.
Kepulauan Talaud
Kabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara. Jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Talaud sebanyak 109.150 jiwa pada akhir tahun 2024. Kabupaten Kepulauan Talaud juga sering disebut kabupaten bahari, karena luas laut mencapai 95% dan luas daratan hanya 5 % saja.
Pulau Miangas sebagai salah satu pulau di gugus Kepulauan Talaud. Pulau ini menjadi pos terdepan Indonesia di wilayah perbatasan utara. Pulau Miangas sangat berdekatan dengan Filipina. Jarak pulau ini hanya sekitar 80 kilometer dari kota Davao di Filipina, dengan perjalanan selama 4 -5 jam dengan perahu bermotor. Sementara jarak Miangas ke Manado, mencapai lebih dari 500 kilometer dengan perjalanan kapal laut, dengan lama sekitar sekitar 12 -14 jam. Bila badai sedang tinggi, ombak besar, perjalanan kapal laut bisa lebih lambat lagi mencapai 16 -19 jam.
Di Kabupaten Kepulauan Talaud, Kemdikbud (2020) mencatat saat ini terdapat 117 SD dan sekolah yang sederajat dengan jumlah guru SD sebanyak 475 orang. Sebagian besar sekolah tersebar di pulau besar antara lain Pulau Karakelang, Pulau Salilabu, Pulau Kabaruan, Pulau Karatung, Pulau Marampit, Pulau Kakorotan, dan Pulau Miangas (pulau paling utara) di Talaud. Puluhan pulau lainnya tak berpenghuni, atau penghuninya yaitu para nelayan dan keluarga dengan jumlah yang terbatas.
Di pulau-pulau kecil dan wilayah pulau 3T, fasilitas kesehatan dan pendidikan sangat terbatas. Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, guru honor (P3K) menjadi solusi, dalam mengatasi kekurangan guru di Kabupaten Talaud. Mereka adalah pahlawan nyata yang mengabdi secara terus-menerus untuk mencerdaskan generasi muda di daerah terpencil. Sebagai perbandingan, untuk seorang guru tidak tetap/honor di SMA Beo Talaud, sekolah hanya mampu membayar honor Rp30.000 per jam untuk 4 x pertemuan dalam sebulan. Artinya bila seorang guru honor SMA mengajar 25 jam, ia akan mendapat honor bulanan sebanyak Rp750.000 per bulan. Itulah dedikasi guru honor di SMA di Talaud. Bagi guru honor SD bisa lebih rendah lagi uang bulanannya, bergantung dari kemampuan sekolah melalui dana BOS yang diterima sekolah. Itulah sisi lain potret pencerdas generasi muda di negeri ini.
Saisote Sampate Pate
Talaud merupakan salah satu kabupaten bahari. Banyak pulau yang tak berpenghuni. Kondisi Kabupaten Talaud termasuk dalam 199 daerah tertinggal di Indonesia. Sebagian besar wilayahnya masih terisolasi dengan berbagai keterbatasan infrastruktur dasar, sosial ekonomi, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, bahkan pertahanan keamanan. Di tengah kondisi daerah 3T yang masih bercirikan serbakekurangan, optimisme masyarakat Talaud tetap terjaga. Kebersamaan dan kekompakan menjadi ciri masyarakat Talaud yang umumnya sebagai nelayan tangguh (taft fishermen) dan petani tradisional (local farmers) dengan lahan yang terbatas.
Semangat dan semboyan leluhur warga lokal Talaud diukir dalam tradisi Sansiote Sampate Pate. Artinya masyarakat Talaud yang selalu “mengutamakan kebersamaan dalam persatuan” di berbagai aktivitas. Mereka tidak neko-neko. Warganya senantiasa berupaya mengutamakan kepentingan bersama dalam kehidupan kemasyarakatan. Hal ini tercermin juga dalam tradisi etnopedagogis dan pembelajaran di sekolah. Banyak sekolah yang mengusung muatan lokal bercirikan kebersamaan dalam persatuan. Warga Talaud yang secara geografis dan kultural sangat dekat dengan negara Filipina, tetap seia sekata dan menjunjung tinggi terbinanya NKRI. Tanah Porodisa, demikian warga Talaud menyebut daerah leluhurnya. Masyarakat Talaud tetap berkhidmat pada Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.
Bumi Porodisa
Bila para pembaca telah berkunjung ke Taman laut Bunaken, Menado, Sulawesi Utara, lanjutkan perjalanan wisata bahari ke Taman laut di Kepulauan Talaud. Rasakan sensasinya. Nikmati keindahan alamnya. Sungguh merupakan perjalanan wisata bahari yang eksotik, spektakuler, memukau, dan unik.
Warga setempat menyebut Talaud sebagai Bumi Porodisa, yang dalam bahasa Spanyol berarti “surga” atau paradiso. Kepulauan yang terhampar permadani pasir putih, laut biru dengan fauna bahari yang beragam, terumbu karang dengan jenis ikan melimpah, serta kerlap-kerlip warna-warni ikan menjadi suguhan menarik. Kepulauan Talaud yang “perawan” bagai sorga dunia. Itulah Bumi Porodisa yang indah di ujung utara persada Nusantara.
Pulau Kabaruan merupakan gugus pulau kecil terluar (PPKT) dan melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017 telah ditetapkan sebagai pulau-pulau kecil terluar. Salah satu gugus karang dikenal dengan Pulau Napombaru. Pulau karang dengan hamparan pasir putih sehalus tepung serta pemandangan bawah laut yang eksotik dengan ciri pasir vulkanik yang menakjubkan. Ekosistem Talaud sangat terjaga. Wilayah aman untuk habitat burung Maleo yang melegenda. Laut di Talaud ini juga merupakan daerah favorit dan terindah untuk destinasi snorkling dan sea diving. Ayo berkunjung ke Talaud. Hisap aroma alaminya yang menyegarkan. Rasakan lezatnya ragam seafood yang memanjakan lidah, dan nikmati sensasi deburan ombaknya yang menakjubkan. ***
Dinn Wahyudin, Guru Besar Ilmu Pengembangan Kurikulum Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wakil Rektor I Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN University).





