BUDAYA  

Cerpen Sepatu Basah Ujang

Karya Neni Nurachman

FOTO SASTRA 7
Ilustrasi, (Foto: Kompas.com).

HARI berganti, liburan hampir usai. Tinggal menghitung waktu, 3 x 24 jam saja. Hiruk pikuk rumah akan berpindah ke sekolah. Seisi rumah mulai mencari seragam dan pekakas sekolah. Ade, gadis mungil kelas 3 SD tak kalah. Dia menyiapkan segala keperluan sekolah. Hari itu, dia selesai mencuci tas, sepatu, dan seragam sekolah untuk seminggu telah bertengger di lemari kayu kamarnya.

“Ade mah udah cuci sepatu, tas. Bukunya udah rapi, seragamnya udah diurutkan hari.” Dia melapor ke ambunya.

Ambu Iteung tersenyum dan mengelus kepala gadis kecil itu.

“Bagus, bageur pisan putri ambu.” Tak tertinggal Iteung memuji anaknya.

Ade pun anteng membaca komik, sambil nonton TV. Entahlah, padahal matanya tertunduk ke komik. Tapi saat TV di ubah chanel, dia menjerit. Tak seorangpun yang boleh mengubah chanel TV saat film kesayangannya tayang.

“Ujang, udah siap juga perangkat sekolahmu?” Iteung melirik bujang tanggungnya. Dia sedang asik memainkan games di HP abah Kabayan.
Ujang tak bergeming. Tetap anteng dengan HP.

“Ujang, sudah siap peralatan sekolahmu?” Iteung menjawil bahu Ujang.
Ujang terperanjat, hampir saja HP abahnya jatuh.

“Kulan, Ambu?” Malah kembali asik dengan HP, hanya sekadar melirik ambunya.

“Seragam dan pekakas sekolahmu sudah siap?” Iteung mengulang kali ketiga pertanyaanya.

“Udah,” sahut Ujang, santai.

“Sepatu sudah dicuci?” Iteung memastikan Ujang faham dengan jawabannya.

“Udah, masih bersih kok.” Ujang menjawab tanpa melirik dan tetap anteng dengan gamesnya.

“Tas sudah dicuci? Buku sudah disiapkan? Ikat pinggang, peci, seragam putih?” Berondong Iteung tanpa jeda.

“Udaahhh …” Lagi-lagi tanpa melirik, apalagi menatap. Ujang menyahut.

Iteung percaya, Ujang sudah mempersiapkan semua kepentingan sekolahnya lusa. Berubah juga setelah di kelas 6 SD. Pikir Iteung.

Dua hari berlalu. Malam Senin tiba. Iteung pun tetap cross ceck kesiapan belajar anak-anaknya.

“Ade, disiapkan buku untuk besok ya!” Iteung mengingatkan gadis bungsunya.

“Udah Ambu.” Ade menjawab, tetapi dia beranjak ke kamarnya. Membereskan buku dan memasukannya ke dalam tas sekolah. Meraut pensil dan membereskan pekakas lain. Tak tertinggal sepatu berpasangan dengan kaus kaki disimpan dekat pintu kamarnya. Seragam putih merah dari kerudung, baju dan rok digantungkan pada paku yang menancap di dinding kamarnya.

“Sip, bagus pisan Ade.” Iteung tersenyum bangga pada gadis mungil itu.

“Ujang, siapkan juga dong buku dan seragam untuk besok. Ade mah udah beres.” Iteung menoleh Ujang. Lagi-lagi sedang anteng maen games.

“Ujaaaanggggg…” Iteung menaikan volume. Hingga level 6.

“Eh, iya kulan, ada apa Mbu?” Ujang kaget.

“Baju, sepatu, buku, dan semuanya siapkan dong.” Iteung dengan volume masih level 6 mengingatkan ujang.

Ujang lekas ke kamarnya. Iteung mengintip di balik pintu kamar Ujang. Nampak Ujang membereskan buku dan segala pekakas ke dalam tas. Iteung bergegas ke ruang tengah. Lega, Ujang sudah mulai hideng. Walau alarm harus volume level 6 untuk mengingatkannya.

Selang berapa lama Ujang beranjak menuju kamar mandi. Lumayan lama.
Tak dihiraukan, mungkin sedang memenuhi panggilan alam.

Jam 9 malam telah dilewati 12 menit. Kantuk menyerang semuanya. Termasuk Iteung, Ujang, dan Ade. Kecuali Abah, masih anteng dengan tebal bukunya yang cermat dibaca sejak dua jam lalu. Iteung, Ujang, dan Ade pamit tidur ke Abah. Semua terlelap di dekap hitam malam yang makin pekat.

Keesokan harinya. Abah membangunkan Iteung setelah dia pulang dari masjid. Tepatnya memang Iteung tertidur lagi setelah dibangunkan Abah sebelum subuh. Kesibukan jelang sekolah pun kembali hadir. Morning job.

Ujang dan Ade mengaji subuh kembali. Iteung dan Abah berbagi pekerjaan pagi hari. Hingga waktu sarapan tiba, pukul 06.00. Ade sigap dengan seragamnya yang telah dipakai, Ujang juga. Iteung dan Abah pun telah siap berangkat berbarengan dengan anak-anak menjemput rezeki.

“Ayo, Ade dan Ujang pakai sepatunya. Biar abah siap-siap manasin motor, kalian dah siap berangkat.” Abah mengomando.

Ade cekatan memakai sepatu. Kali ini dia pakai dari kamarnya. Sepatunya bersih, tak nampak itu sudah berumur dua tahun setengah.

“Siappppp grak.” Ade keluar kamar dengan seragam rapi dan tas ransel ungu yang hampir lusuh.

“Ujang, udah siap belum. Hayu berangkat.” Abah memanggil bujang tanggung itu.

“Heyyyy, ngapain Ujang di balik kulkas?” Iteung heran melihat ujang mengendap-endap di dapur.

“He he he, ini Ambu, mau ambil sepatu.” Ujang cengar-cengir.

“Kenapa tikus membawa sepatumu hingga ke balik kulkas?” Iteung mulai jengkel.

“Eh, engga Ambu. Bukan sama tikus.” Ujang tetap cengengesan.

“Ini, malam ujang elap-elap sepatunya. Masih kotor, lupa ga dicuci. Biar kering Ujang simpan di belakang kulkas.” Ujang menjelaskan.

“Kaya di Upin Ipin. Kan belakang kulkas panas Ambu. Jadi sepatunya bisa kering.” Lanjutnya, tak menghiraukan Iteung yang menahan kesal.

“Kenapa ga di atas TV sekalian sepatumu disimpan?” Iteung menghardik, menahan volumenya agar tak sampai level 6. Malu lah pagi hari sudah pasang volume level 6.

“Kata ensiklopedia yang Ujang baca. Kulkas itu mesin pendingin. Panas dari benda-benda dalam kulkas dikeluarkan oleh kulkas. Nah tempat keluarnya sepertinya ya itu Ambu. Di belakangnya. Ujang sentuh, ternyata memang benar di sebelah sana yang paling panas.” Ujang malah panjang lebar menjelaskan ke Ambunya.

“Kalau istilahnya ensiklopedia, itu teh reservoir tinggi dan reservoir rendah gitu ya?ah lupa lagi. Biar nanti Ujang buka lagi bukunya.” Lanjut Ujang, malah ceramah 2 sks.

Gemerutuk gigi Iteung, tetapi heran juga si Ujang ada-ada aja. Menyambungkan cerita film kartun favoritnya dengan isi buku.

“Aeh-aeh … Ari Ujang, cepat sepatunya pakai! Ditungguin dari tadi.” Abah menghampiri dengan teguran volume level 5, tidak senyaring Iteung memang.
Ujang pun cepat memakai sepatu, walau masih sedikit basah. Dia tak mau protes, dan tak mengatakan sepatunya masih basah. Dapat dibayangkan dua volume level 6 dari Abah dan Ambunya akan beresonansi pagi ini. Biar selamat dan diantar sampai sekolah, Ujang memilih bersepatu basah ke sekolah.***

Neni Nurachman, guru SMA Negeri 1 Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.