Tentang Dbrug, Charlie ST12, Dede April, dan Ekonomi Kreatif

605724794 1240182914670892 516472738672075012 n
Dari Dbrug banyak belajar, bahwa sebenarnya kita tidak kekurangan anak-anak muda berbakat dan kreatif, (Foto: Mahpudi).

Oleh Mahpudi

Tepat di depan rumah ibu kami di kampung halaman ada sebuah jembatan kecil, kami menyebutnya brug (ternyata ini kata serapan dari Brugg, dalam bahasa Belanda yang juga artinya jembatan). Jembatan itu tak lebih dari 2-3 meter panjangnya, melintasi selokan kecil dan menghubungkan dua jalan utama kampung. Ketika remaja, itulah tempat saya bersama sebaya duduk-duduk (nongkrong tepatnya), kebetulan jalanan ini tidak terlalu ramai meski menjadi tempat perlintasan siapa pun yang hendak pergi ke pasar yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari rumah. Brug menjadi sangat favorit bila hari beranjak malam, menjadi tempat rendevouz teman sebaya, meski tak diterangi lampu listrik. Berkumpul dan bercanda usai belajar mengaji di langgar Kyai Sama atau menunggu waktu sebelum pergi menerobos sembunyi-sembunyi pagar rusak Bioskop Mulya, satu-satunya tempat hiburan waktu itu, yang jaraknya tak lebih dari 300 meter dari jembatan kecil itu.

D Brug: dari Jembatan ke Ruang Kreatif

Saya suka musik. Itu sebabnya ketika saya mendapat beasiswa untuk pertama kali, kebetulan saya menjadi salah satu bintang pelajar di SMP, maka saya habiskan beasiswa itu dengan membeli sebuah gitar. Saat itu, pengambilan beasiswa dilakukan di kantor BRI yang ada di kota Cirebon, Jauhnya 30 kilometer dari kampung. Dan begitu beasiswa itu saya terima tanpa pikir panjang saya pergi ke sebuah toko musik di daerah Pasuketan membeli apa yang saya idam-idamkan itu.

Saya turun dari kendaraan angkutan antar kota dengan bangga memanggul kotak gitar baru itu. Ayah saya yang seorang guru SMP dan ibu saya yang seorang pedagang pasar yang hidup sederhana demi mengetahui itu hanya tertawa saja tak berkomentar apa-apa. Saya tahu mereka bangga dengan prestasi saya namun baru mengerti di kemudian hari kenapa diam saja dan mereka tak marah, karena ternyata ayah saya dulu juga pandai bermain gitar dan pada masa mudanya memiliki gitar.

Apakah saya pandai bermain gitar? Tentu tidak. Justru karena tidak bisa bermain gitar, maka saya ingin mempelajarinya. Dan karena itu pula, saya membeli gitar. Dengan gitar itulah, kini brug menjadi lebih ramai setiap malamnya. Teman-teman sebaya berkumpul, menyaksikan saya bergaya memetik gitar, turut menyanyi, bahkan ikut mencoba memainkannya berbekal buku panduan belajar memainkan gitar. Tak ada kursus musik di kampung saya.

Namun kemudian, setelah beberapa pekan, gitar itu hanya dimainkan genjrang-genjreng tanpa chord atau petikan yang jelas. Beberapa teman memang ada yang sudah mulai bisa. Jujur saja, saya hanya bisa memetik gitar kord pembuka fur elise -nya Beethoven. Setelah itu saya bosan dan lebih tertarik membaca buku dan novel sewaan dari Taman Bacaan Munsen yang terletak tepat di seberang Bioskop Mulya. Atau ikut berlatih akting pada sebuah kelompok teater yang baru saja dibentuk oleh senior saya yang sudah berkuliah di ITB, Teater STEPA namanya. Konon nama dan gaya pelatihannya mengadopsi Teater STEMA yang merupakan teater mahasiswa dari kampus ternama di kota Bandung.

Tapi tidak dengan teman-teman saya. Mereka terus mengulik gitar itu. Sampai akhirnya, sang gitar dipinjam berkeliling selama berhari-hari. Dan ketika saya terpaksa meninggalkan kampung halaman, karena harus pergi ke Sindanglaut yang jaraknya 35 kilometer dari kampung, untuk melanjutkan pendidikan tingkat SMA, keinginan belajar bermain gitar itu pun ditinggalkan.

Gitar itu jatuh ke tangan salah satu adik saya, Memet panggilannya, Ahmad Fajari nama lengkapnya. Ketika Memet beranjak remaja ia juga menjalani ritus yang sama seperti saya sebelumnya, kumpul-kumpul bersama sebaya di jembatan kecil itu, sambil genjrang-genjreng memainkan gitar. Kali ini, ia berhasil. Boleh jadi bakat ayah menurun kepadanya. Begitulah, saya mendengar Memet bersama kawan-kawannya dengan memanfaatkan salah satu ruangan di rumah kami membentuk kelompok musik yang diberi nama D’Brug.

Saat itu saya sudah berjarak 130 kilometer dari rumah ibu. Lagi pula sarana teknologi dan komunikasi belum secanggih hari ini, karenanya praktis jarang pulang, hanya saat mudik lebaran saya bisa pulang ke kampung halaman. Itu pun hanya beberapa hari saja. Meski demikian saya terus mengikuti perkembangan D’Brug yang selalu disampaikan Memet. Dengan peralatan seadanya, D’Brug menjadi group band yang bukan hanya terkenal di wilayah Cirebon tetapi juga Tegal dan sekitarnya, maklum kampung halaman kami tepat di perbatasan antara dua provinsi yakni Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Setiap ada lomba atau kompetisi musik di kedua wilayah Dbrug selalu jadi juara. Bahkan yang bikin kami bangga, D’Brug menjadi group band pembuka pada pentas musik band ternama seperti Jamrud, Koes Plus, dan Panbers. Tentu saja Memet sebagai pemimpin kelompok itu menjadi banyak kenal dekat dengan musisi ibukota. Bersyukur adik saya ini berhasil menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Saya yakin ia mendapat ilmu tentang Community Development dari pendidikan tinggi milik Departemen Sosial era Mbak Tutut itu. Ilmu inilah yang kelak digunakan Memet untuk mengubah Dbrug lebih jauh dari sekadar kelompok musik.

Charlie dan Hadirnya Ruang Kreatif

Memet justru memilih meneruskan profesi ayah kami, menjadi guru. Saat itu tidak mudah memperoleh lowongan kerja, apalagi sebagai pegawai negeri sipil. Dan ketika peluang itu ada, Memet tak menyia-nyiakan, meski latar belakang pendidikannya berbeda. Ironis, harusnya sayalah yang melakukan itu karena saya dididik di pendidikan tinggi terbaik dalam bidang keguruan, IKIP Bandung, untuk jurusan pendidikan yang tergolong langka lagi Pendidikan Kimia. Tapi ketika lulus saya malah memilih menjadi penulis dan penyunting buku, lalu jurnalis, menggelandang dalam dunia seni sastra, sambil menyelesaikan pendidikan public relations di kampus saya yang kedua Universitas Padjadjaran. Pokoknya menuruti kata hati semata.

Konon, ada salah satu murid Memet yang saban hari datang ke studio musik Dbrug. Namanya Carli, orang dari Balagedog, sebuah kampung terpencil yang jaraknya lebih dari 5 kilometer dari rumah. Ia berjalan kaki ke studio agar bisa belajar musik, bermain gitar. Saya pernah beberapa kali menyaksikannya bernyanyi dan memetik gitar. Suaranya bagus. Isabela dari Ami Search merupakan lagu yang kerap dinyanyikan Carli sehingga saya sampai hafal mendengarkannya. Carli kelak menjadi generasi pertama dari Dbrug yang berhasil meraih impiannya menjadi penyanyi sekaligus musisi ternama dengan nama panggung Charlie van Houten alias Charlie ST12.

Dbrug kemudian menjalani transformasi seiring dengan aktivitas Memet sebagai guru yang tak mau menanggalkan kegemarannya bermain berkesenian. Dbrug mulai bergeser dari sekadar penggalang anak-anak remaja yang nongkrong di jembatan menjadi kelompok musik, lalu menjadi tempat anak-anak berbakat menempa diri meski masih menggunakan ruangan kecil di rumah.

Saya percaya, selalu saja ada anak-anak berbakat berlahiran di negeri ini, tak terkecuali di kampung halaman kami. Dan studio Dbrug dibuka oleh Memet sebagai tempat anak-anak yang masih belia ini menemukan bakatnya dan mengasah diri. Mereka datang dan pergi seiring berjalannya waktu. Setiap angkatan ada saja yang kemudian tampil berprestasi, sebut saja Veline Chu dan Ayu KDI, Nunung, Dewi Mahira, bukan hanya di panggung musik tapi juga seni budaya lainnya, dan bahkan dunia olahraga. Alma Nebucadnezar adalah atlet tenis meja yang mewakili Indonesia dalam berbagai kompetisi internasional pada mulanya adalah penyanyi dalam asuhan Dbrug yang kemudian atas arahan Memet bergeser menjadi atlet tenis meja.

Lompatan besar dilakukan Memet dengan Dbrug-nya ketika menggelar Festival Budaya Losari, sebuah festival seni budaya yang merangkum dua provinsi Jawa Barat-Jawa Tengah. Ia melakukan kerja komunitas dengan mengumpulkan lebih dari 20 jenis seni tradisi yang masih tumbuh dan berkembang, meski sebagian besar hampir punah dimakan usia, ditampilkan kembali dan didokumentasi. Ia berkolaborasi dengan Nani, salah satu pelaku seni dari kampung kami yang juga sudah mendunia, menggelar masal Tari Topeng Losari. Ia juga mengarak karya kreatif leluhur kami, Pangeran Losari , yakni Kereta Singa Barong dan Paksi Naga Liman. Pada titik ini, Dbrug sudah menjelma menjadi community organizer di kampung halaman.

Dede April dan Fromula Triple T

Jangan bayangkan tempat Dbrug beraktivitas seperti layaknya sebuah studio modern. Itu cuma ruang bekas warung kelontong yang terbengkelai sejak ibu kami wafat, ukurannya 2 X 3 meter dan menempel di rumah keluarga. Mengingat aktivitasnya semakin besar, kami merelakan sebagian halaman belakang yang lebih luas dibangun semacam selasar untuk jadi tempat anak-anak kampung meraba bakat dan merenda mimpinya. Bersyukur, para seniornya yang sudah sukses seperti Charlie menyumbang perangkat alat musik, sementara gitar saya entah sudah terbang ke mana. Ada juga buku-buku tertumpuk di rak baca, sebagian hasil karya saya.

Anak-anak remaja itu memang perlu ruang kreatif bagi pencarian dan pengasahan dirinya dan Dbrug mendedikasikan dirinya sebagai Creative Space. Tapi bukan ala Creative Hub yang mewah, megah dan birokratis sebagaimana bermunculan belakangan ini. Ini ruang di mana anak-anak yang masih belia dan papa sekalipun memberanikan diri untuk datang dan mengekspresikan potensi kreatifnya. Bertemu dengan community developer atau talent scout yang antusias dan sigap mencarikan jalan bagi pengembangan bakat-bakat itu tanpa prosedur birokratik serta mengharap imbalan. Itulah yang terjadi ketika Memet menjumpai Dede April.

Ya, Dede April yang sedang heboh itu adalah bintang terang yang melesat bak meteor di panggung hiburan musik dangdut hari ini. Ia meraih sukses sebagai Juara ketiga D Academie 7, kompetisi paling bergengsi dalam ajang pencarian bakat stasiun televisi Indosiar. Hari ini, Dede sedang diarak dan dielu-elukan warga yang mengagumi dan merayakan keberhasilannya. Kisah Dede Aping, begitu panggilan akrabnya di sebuah pedukuhan bernama Kasungka, sekira 7 kilometer dari rumah kami, tak lepas dari Dbrug. Aping yang sejak belia menjadi pengamen, sebagai bagian dari pengasahan bakat dirinya sekaligus mencari penghidupan dalam ekonomi yang serba terbatas, suatu hari datang ke Studio Dbrug menemui Memet, mengajukan diri untuk mendapat arahan agar mimpinya untuk mengikuti jejak para seniornya dapat diwujudkan.

Inilah proyek berikutnya Memet bersama Dbrug. Ia menghubungkan Dede dengan sejumlah peluang, baik dengan mengikuti lomba maupun membuka ruang untuk bisa tampil di panggung publik. Mengenalkan kepada para seniornya untuk mendapat motivasi, hingga menggalang orang-orang untuk memberikan dukungan ketika Dede melangkah masuk ke panggung Dangdut Academy Indosiar.

Dari Dbrug saya banyak belajar, bahwa sebenarnya kita tidak kekurangan anak-anak muda berbakat dan kreatif. Hanya saja, anak-anak muda itu butuh ruang kreatif yang dapat memandu mereka menemukan dan menajamkan bakat kreatifnya. Tak hanya itu, mereka juga memerlukan fasilitas (dan bukan birokrasi) yang memungkinkan mereka mampu mengekspresikan diri, yang dengan demikian itu membuat mereka bisa memperbaiki ekonominya tanpa harus pergi jauh ke negeri seberang.

Saya teringat rumus Triple T dari Richard Florida, ahli pembangunan wilayah berbasis ekonomi kreatif dari Pittsburg University. Menurutnya, sebuah wilayah akan maju secara ekonomi bila di sana berdiam orang-orang kreatif (Creative Class). Semakin banyak orang kreatifnya, semakin besar potensi pertumbuhan ekonominya. Namun agar orang-orang kreatif bisa tinggal dan berkembang di sana, maka daerah itu perlu mengembangkan tiga pilar pembangunan yakni Teknologi (fasilitas yang memungkinkan orang kreatif berkarya), Talenta (orang-orang berbakat bisa mengasah diri dan mengekspresikan kerativitasnya), dan Tolerance (dukungan dan keleluasaan dari lingkungan atau masyarakat sekitar bagi orang-orang kreatif itu dalam berkreasi). Saya membaca, lahirnya Charlie hingga Dede April dalam asuhan Dbrug sedikit banyak karena terpenuhinya Triple T ini. ***

Mahpudi, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jawa Barat 2021-2026.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *