ZONALITERASI.ID – Berdasarkan survei Ipsos Global Trustworthiness Index 2024, tingkat kepercayaan publik terhadap profesi guru di Indonesia mencapai angka tertinggi, yakni 74%. Posisi selanjutnya ditempati dokter yang mencapai 73 persen dan ilmuwan sebesar 70 persen.
“Angka ini (kepercayaan publik terhadap profesi guru) menjadi modal sosial yang besar di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, mulai dari adaptasi teknologi hingga ekspektasi orang tua,” kata Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Muhammad Thohir, pada webinar Peran Guru Memperkuat Pendidikan Karakter dan Kewarganegaraan dalam Membangun Masyarakat yang Kohesi, Senin, 12 Januari 2026.
Sebagai informasi Ipsos merupakan salah satu perusahaan riset yang beroperasi di 90 negara. Survei tersebut dilakukan di 32 negara dengan melibatkan 23.530 responden berusia 18–74 tahun.
Di Indonesia, jumlah responden sebanyak 500 orang dengan latar belakang kalangan urban, terdidik, dan terkoneksi digital.
Tantangan Guru Menghadapi Keberagaman
Pada kesempatan sama Prof. Thohir mengatakan, ruang kelas bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan miniatur sosial yang mencerminkan wajah asli Indonesia.
Realitas menunjukkan, Indonesia terdiri atas 6 agama, lebih dari 1.300 suku, 700 bahasa daerah, serta tersebar di 17.000 pulau. Hal tersebut menjadikan pengelolaan keberagaman sebagai tantangan sekaligus keniscayaan bagi para pendidik.
“Kelas adalah miniatur sosial dan keberagaman. Hadirnya guru menjadi keharusan yang dituntut perannya untuk menjadi bagian penting dalam melakukan rekayasa sosial budaya, demi membangun karakter dan peradaban,” ungkap Thohir.
Prof. Thohir menekankan, tantangan terbesar justru ada pada bagaimana guru menjadikan perbedaan sebagai ruang belajar. Keberagaman harus dimaknai sebagai sarana melatih empati dan kepekaan sosial siswa.
Kata dia, ada tiga tahapan penting yang harus diciptakan guru di sekolah.
Pertama, titik temu atau menciptakan perjumpaan yang positif antar identitas yang berbeda.
Kedua, titik kompromi, yaitu kemampuan mencairkan suasana dan mengurangi potensi konflik akibat perbedaan.
Ketiga, titik keberadaban yang mewujudkan sekolah sebagai ruang tumbuh masyarakat yang damai dan beradab.
“Pendidikan toleransi tidak akan berhasil jika guru sendiri gagal menjadi teladan. Ketika guru saja gagal berempati dengan perbedaan antar diri dan sesama teman seprofesi, maka jangan harap bisa mengondisikan kelas yang kondusif,” kata Prof. Thohir. (des)***





