UIN Bandung Kukuhkan 17 Guru Besar Baru, Rektor: Bukan Sekadar Seremoni Akademik

dies58 9
Sebanyak 17 Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari berbagai disiplin ilmu resmi dikukuhkan, di Gedung Anwar Musaddad, Selasa, 7 April 2026, (Foto: Dok. UIN Bandung).

ZONALITERASI.ID Sebanyak 17 Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung dari berbagai disiplin ilmu resmi dikukuhkan, di Gedung Anwar Musaddad, Selasa, 7 April 2026. Menyusul pengukuhan 17 guru besar ini, kini UIN Bandung memiliki 101 guru besar.

Pengukuhan guru besar ini menjadi bagian dari perhelatan Dies Natalis UIN Bandung ke-58.

Adapun ke-17 Guru Besar UIN Bandung yang dikukuhkan yaitu:

1. Prof. Dr. H. Engkus, M.Si. (Guru Besar Bidang Ilmu Administrasi Publik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik);

2. Prof. Dr. Mohamad Agus Salim, Drs., MP. (Guru Besar Bidang Ilmu Fisiologi Tumbuhan pada Fakultas Sains dan Teknologi);

3. Prof. Dr. Hj. Qiqi Yuliati Zaqiah, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum pada Pascasarjana);

4. Prof. Dr. Isop Syafe’i, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab pada Pascasarjana);

5. Prof. Dr. Ir. Cecep Hidayat, MP. (Guru Besar Bidang Ilmu Agronomi pada Fakultas Sains dan Teknologi);

6. Prof. Dr. K.H. Mustofa, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir Ahkam pada Fakultas Syariah dan Hukum);

7. Prof. Dr. H. Dadang Kuswana, M.Ag. (Guru Besar bidang Ilmu Sosiologi Agama pada Pascasarjana);

8. Prof. Dr. Ending Solehudin, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Halal Tourism, pada Pascasarjana);

9. Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.Ag., M.Pd., M.E.Sy. (Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam);

10. Prof. Dr. Hj. Dedah Jubaedah, M.Si. (Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Hukum pada Pascasarjana);

11. Prof. Dr. H. Cecep Wahyu Hoerudin, M.Pd. (Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa Indonesia pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan);

12. Prof. Dr. Beni Ahmad Saebani, M.Si. (Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Agama pada Fakultas Syariah dan Hukum);

13. Prof. Dr. H. Usep Dedi Rostandi, Lc., MA. (Guru Besar Bidang Pendidikan Islam Indonesia pada Fakultas Ushuluddin);

14. Prof. Dr. Karman, S.Ag., M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir pada Pascasarjana);

15. Prof. Dr. H. Hariman Surya Siregar, M.Ag. (Guru Besar Bidang Ilmu Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan);

16. Prof. Dr. Betty Tresnawaty, S.Sos., M.I.Kom. (Guru Besar dalam Bidang Ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi);

17. Prof. Dr. Ara Hidayat, M.Pd. (Guru Besar Bidang Ilmu Pembiayaan Pendidikan pada Pascasarjana).

Rektor UIN Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag, saat menyampaikan pidato pengukuhan besar menyebutkan, setelah resmi mengukuhkan 17 guru besar baru, saat ini UIN Bandung memiliki 101 guru besar.

“Mudah-mudahan dengan bertambahnya Guru Besar, menjadi 101 diharapkan lahir lebih banyak inovasi, riset unggulan, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa,” katanya.

Lanjut Prof. Rosihon, pengukuhan guru besar bukan sekadar seremoni akademik, tetapi mengandung amanah besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.

“Dalam tradisi akademik perguruan tinggi, pengukuhan guru besar tidak hanya menjadi pengakuan atas capaian akademik seseorang, tetapi merupakan amanah untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat tradisi ilmiah, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan peradaban dunia,” ujarnya.

Prof. Rosihon mengungkapkan, guru besar merupakan benteng keilmuan, mercusuar moralitas yang menjaga arah perjalanan perguruan tinggi. Kampus, sebagai taman peradaban ilmu, tempat benih-benih gagasan ditanam, dipelihara, dan dikembangkan hingga berbuah menjadi kebijaksanaan bagi kehidupan manusia.

“Di taman peradaban itulah para guru besar berdiri sebagai penjaga nilai, penggerak pemikiran, penuntun generasi agar ilmu pengetahuan tidak kehilangan arah etik dan kemanusiaannya,” terangnya.

“Para guru besar terus menjadi teladan dalam menjaga integritas akademik, menyalakan semangat intelektual, serta menginspirasi sivitas akademika untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kolaborasi yang semakin luas dan kontribusi yang semakin mendalam, perguruan tinggi keagamaan Islam diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai tantangan zaman,” beber Prof. Rosihon.

Pada kesempatan sama Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. H. Mahmud, M. Si., mengatakan, dalam tradisi akademik perguruan tinggi, guru besar bukan sekadar jabatan struktural dalam jenjang karier akademik.

“Guru besar adalah lambang wibawa perguruan tinggi, simbol kedalaman ilmu, sekaligus penanda kematangan intelektual sebuah institusi kampus,” ujarnya.

Menurut Prof. Mahmud, kehadiran guru besar menjadi cermin kualitas keilmuan sebuah universitas, karena dari merekalah lahir pemikiran, arah, dan inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

“Guru besar dapat dipandang sebagai penjaga gawang akademik. Mereka menjaga agar tradisi ilmiah tetap berjalan dalam koridor kejujuran intelektual, integritas akademik, serta komitmen terhadap kebenaran ilmiah,” jelasnya.

Kata dia, dalam dunia yang terus berubah dengan sangat cepat, ilmu pengetahuan berkembang dan teknologi bergerak tanpa henti, peran guru besar menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa kemajuan ilmu tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan.

“Kebesaran seorang guru besar tidak hanya diukur dari jumlah karya ilmiah atau kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Kebesaran itu tercermin dari keteladanan moral dan intelektual yang ditunjukkannya kepada seluruh warga kampus,” ucapnya.

Prof. Mahmud menambahkan, seorang guru besar seharusnya menjadi figur yang menyalakan obor semangat keilmuan, menumbuhkan budaya akademik yang sehat dan menginspirasi generasi muda untuk terus mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Dalam kearifan lokal masyarakat sunda terdapat ungkapan pindah cai pindah tampian. Ini mengajarkan setiap tempat dan setiap posisi membawa tanggung jawab yang berbeda,” pungkasnya. (des)***