UPI Kukuhkan Tujuh Guru Besar dari FPMIPA, Rektor: Jadi Penyala Peradaban

5089
Pengukuhan Guru Besar UPI memasuki hari ketiga, Kamis, 22 Mei 2025. Pada kegiatan yang berlangsung di Gedung Achmad Sanusi UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung ini, sebanyak 7 guru besar dari FPMIPA menyampaikan pidato pengukuhan. (Foto: Istimewa)

ZONALITERASI.ID – Pengukuhan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memasuki hari ketiga, Kamis, 22 Mei 2025. Pada kegiatan yang berlangsung di Gedung Achmad Sanusi UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung ini, sebanyak 7 guru besar dari Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) menyampaikan pidato pengukuhan.

Pengukuhan Guru Besar dipimpin oleh Rektor UPI, Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A. Selanjutnya, kutipan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tentang Kenaikan Jabatan Akademik atau Fungsional Dosen dibacakan  Wakil Rektor Bidang Keuangan, Sarana, dan Prasarana, Prof. Dr. H. Adang Suherman, M.A.

Adapun 7 guru besar yang dikukuhkan kali ini yaitu:

1. Prof. Didik Priyandoko, M.Si., Ph.D. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Biomedicines, menyampaikan pidato pengukuhan “Fungsi Medis Fitokimia untuk Kesehatan Manusia”);

2. Prof. Dr. rer. nat. Adi Rahmat, M.Si. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Psikologi Kognitif dalam Pembelajaran Biologi, menyampaikan pidato pengukuhan “ Memfasilitasi Peserta Didik Belajar Biologi Bermakna dengan Memperhatikan Teori Model Memori dan Teori Beban Kognitif”);

3. Prof. Dr. Wiji, M.Si. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Intertekstualitas Pembelajaran Kimia, menyampaikan pidato pengukuhan Intertekstualitas Pembelajaran Kimia sebagai Alternatif Pendekatan Deep Learning”);

4. Prof. Dr. Dadan Dasari, M.Si. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Sains Didaktik Statistika, menyampaikan pidato pengukuhan “Rekayasa Didaktik dalam Kajian Sains Didaktik Statistika”);

5. Prof. Dr. Hendrawan, M.Si. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Kimia Material Pelepasan Lambat-Terkendali, menyampaikan pidato pengukuhan “Inkorporasi Sumber Daya Hayati dan Mineral Lokal pada Pengembangan Material Pelepasan Lambat-Terkendali: Upaya Mewujudkan Praktik Pertanian Ramah Lingkungan”);

6. Prof. Heli Siti Halimatul Munawaroh, M.Si., Ph.D. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Biokimia Molekuler, menyampaikan pidato pengukuhan “Eksplorasi Senyawa Bioaktif dari Alga dan Limbah Ikan: Kontribusi Biokimia Molekuler bagi Industri Farmasi Berkelanjutan”);

7. Prof. Dr. Winny Liliawati, S.Pd., M.Si. (Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam [FPMIPA] dalam ranting ilmu/kepakaran Pendidikan Bumi dan Antariksa, menyampaikan pidato pengukuhan “Inovasi Pembelajaran Bumi dan Antariksa Melalui Adaptif-Diferensiasi untuk Mendukung Education for Sustainable Development”).

Ketua Dewan Guru Besar (DGB) UPI, Prof. Dr. Didi Suryadi, M.Ed., mengungkapkan, setiap pidato para guru besar setidaknya terdapat dua hal yang bisa diambil yakni mengenai perjalanan hidup dan perjalanan akademik serta karya yang telah dihasilkan dari proses akademik tersebut.

“Para guru besar yang menyampaikan pidatonya pada hari ini berasal dari FPMIPA yang terkadang kajian dan riset keilmuannya fokus pada keilmuan dasar sehingga tidak dapat dilihat dampaknya secara langsung. Namun sejatinya ilmu-ilmu dasar tersebut adalah ilmu-ilmu yang menopang perkembangan berbagai macam teknologi dan ilmu pengetahuan yang berkembangan di zaman sekarang ini,” ujarnya.

“Kita yakin bahwa pengetahuan suatu saat akan ada manfaatnya. Karena pengetahuan dihasilkan berdasarkan proses-proses pemikiran dengan justifikasi, perseptual, memorial, introspektif, dan apriori, sehingga kita meyakini sebagai suatu kebenaran. Kita berani untuk mempertanggungjawabkannya secara akademik, sehingga kita para ilmuwan ini mencoba menyampaikan hasil-hasil temuan itu secara nasional dan internasional dalam berbagai jurnal,” tambah Prof.  Didi.

Jadi Penyala Peradaban

Pada kesempatan sama Rektor UPI, Prof. Dr. H. M. Solehuddin, M.Pd., M.A., sebagai pimpinan sidang menyampaikan bahwa pengukuhan guru besar  yang sudah berlangsung memasuki hari ketiga ini bukan sekadar pengakuan atas keilmuan, tetapi juga sebuah ikrar kepada umat manusia bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi menara gading dan harus menjadi tangga bagi peradaban.

Pemaparan para guru besar di hari ketiga ini, lanjutnya, mengajak untuk menjelajah kehidupan alam tubuh manusia, alam tubuh pembelajaran dan pendidikan, serta alam semesta yang harus dijaga bersama.

“Para guru besar yang dikukuhkan pada hari ini, menegaskan kembali jati diri Universitas Pendidikan Indonesia sebagai rumah besar keilmuan yang tidak hanya mendidik tapi juga melahirkan solusi dan peradaban. UPI tidak boleh hanya menjadi pengamat zaman, UPI harus menjadi pengarah masa depan, dan masa depan itu yang berkelanjutan, masa depan yang tidak mengorbankan alam demi teknologi, tidak mengabaikan hati demi data, tidak meninggalkan nilai demi efisiensi,” ucapnya.

Prof. Solehuddin menambahkan, menjadi guru besar bukan sekadar menjadi ahli, tetapi menjadi penyala peradaban. Menjadi pelita bagi generasi yang sedang tumbuh dalam kabut krisis, agar mereka tahu bahwa sains dan pendidikan bukan hanya untuk hidup lebih cerdas, tetapi untuk hidup lebih bijak.

“Kita membutuhkan lebih banyak keilmuan yang menyembuhkan, bukan melukai. Lebih banyak pengetahuan yang memberdayakan, bukan mendominasi. Lebih banyak guru besar yang menjadi guru kehidupan.  Dan masa depan itu adalah masa depan yang berkelanjutan. Masa depan yang tidak mengorbankan alam demi teknologi, tidak mengabaikan hati demi data, tidak meninggalkan nilai demi efisiensi,” tandas Prof. Solehuddin.

Sementara Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UPI, Komjen. Pol. (Purn) Drs. Nanan Soekarna, mengatakan, guru besar bukan hanya tentang gelar akademik tetapi maknanya adalah menjaga integritas intelektual, etika ilmiah, dan teladan moral. Dengan keteladanan para guru besar, dengan kolaborasi antar-organ, dan dengan kesetiaan kepada nilai-nilai, UPI akan menjadi contoh dalam prestasi dan juga integritas.

Selanjutnya Nanan menuturkan, tantangan sekarang bukan hanya globalisasi atau digitalisasi, Artificial Intelligence, tapi tantangan terbesar adalah krisis nilai.

“Kita melihat di berbagai level,  kepemimpinan kehilangan arah, institusi kehilangan ruh, bahkan dunia pendidikan pun kadang ikut larut dalam gelombang fulus, posisi, dan popularitas. Yang dikejar bukan mutu, tapi laba. Yang dibanggakan bukan karakter, tapi angka. No values, just value. Ini bukan sekadar frasa, ini gejala nyata,” tutur Nanan.

“Tapi UPI tidak boleh ikut tenggelam. UPI harus menjadi penjaga api nilai di tengah zaman yang semakin gelap ini. Dan untuk itulah guru besar hadir. Guru besar bukan hanya gelar akademik,  tetapi adalah penjaga integritas intelektual, etika ilmiah, dan teladan moral,” ujar Nanan. (des)***