ZONALITERASI.ID – Ketua Umum Akar Desa Indonesia, Rifqi Nuril Huda, menegaskan, pembangunan Indonesia tidak akan pernah mencapai keadilan yang sesungguhnya apabila pemuda desa masih ditempatkan sebagai objek pembangunan, bukan sebagai pelaku utama pembangunan.
“Selama ini banyak pihak berbicara mengenai bonus demografi Indonesia, namun belum cukup banyak yang memberikan perhatian terhadap potensi besar pemuda desa yang sesungguhnya menjadi fondasi sosial, ekonomi, dan budaya bangsa,” kata Rifqi, dalam Community Gathering 17th SATU Indonesia Awards 2026 bertajuk “Terhubung Lewat Aksi: Mengubah Langkah Kecil Komunitas Menjadi Dampak Nyata Nasional”, di Jakarta, Sabtu, 20 Juni 2026.
Menurut Rifqi, Indonesia tidak kekurangan anak muda hebat. Indonesia tidak kekurangan ide besar. Yang masih kurang adalah keberanian untuk melihat desa sebagai pusat solusi dan pemuda desa sebagai penggerak perubahan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda Indonesia mencapai 64,22 juta jiwa pada tahun 2024 atau sekitar 22,99 persen dari total penduduk Indonesia. Data yang sama menunjukkan bahwa sebagian besar pemuda Indonesia berada pada usia produktif yang akan menentukan arah pembangunan nasional dalam beberapa dekade mendatang.
Rifqi mengungkapkan, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan kekuatan sosial yang sangat besar apabila dikelola melalui pendidikan, pemberdayaan, kolaborasi, dan penguatan kepemimpinan di tingkat akar rumput.
“Kalau kita berbicara tentang masa depan Indonesia, maka kita harus berbicara tentang desa. Dan kalau kita berbicara tentang desa, maka kita harus berbicara tentang pemuda desa,” ujarnya.
Melalui Akar Desa Indonesia, Rifqi bersama jaringan pemuda desa dari berbagai daerah terus mendorong berbagai gerakan pemberdayaan masyarakat, pendidikan publik, penguatan ketahanan pangan, transisi energi, keadilan iklim, pengembangan kepemimpinan pemuda desa, hingga promosi tokoh-tokoh inspiratif dari desa.
Bagi Rifqi, desa bukanlah wilayah pinggiran yang menunggu bantuan dari luar, melainkan ruang tumbuh lahirnya inovasi dan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Desa bukan halaman belakang Indonesia. Desa adalah halaman depan masa depan Indonesia,” ucapnya.
Dalam forum yang dihadiri ratusan penggerak komunitas dari berbagai daerah tersebut, Rifqi juga mengingatkan pentingnya membangun budaya kolaborasi antarkomunitas dan organisasi kepemudaan.
Menurutnya, banyak program sosial berhenti bukan karena kekurangan ide ataupun kekurangan semangat, tetapi karena para penggeraknya bekerja sendiri-sendiri dan tidak memiliki ekosistem yang saling menguatkan.
“Dampak besar tidak lahir dari kompetisi antarkomunitas. Dampak besar lahir dari gotong royong. Gotong royong adalah teknologi sosial paling canggih yang dimiliki bangsa Indonesia,” tuturnya.
Sebagai organisasi yang mengusung semangat “Dari Pemuda Desa untuk Indonesia”, Akar Desa Indonesia meyakini bahwa kemajuan Indonesia pada tahun 2045 tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan bangsa dalam melahirkan generasi muda desa yang berdaya, berpengetahuan, dan memiliki keberanian untuk memimpin perubahan.
Menutup pemaparannya, Rifqi mengajak seluruh komunitas dan anak muda Indonesia untuk tidak meremehkan langkah kecil yang mereka lakukan di lingkungan masing-masing.
“Jangan pernah merasa programmu terlalu kecil. Indonesia dibangun oleh jutaan langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Ketika pemuda desa bergerak, desa akan maju. Ketika desa maju, Indonesia akan berubah,” pungkasnya. (des)***











