Dosa Besar Modernitas (Kritik Fitrah atas Malthus, Eugenika, dan Harari)

WhatsApp Image 2026 06 24 at 13.00.11
Ilustrasi “Dosa Besar Modernitas (Kritik Fitrah atas Malthus, Eugenika, dan Harari)”, (Foto: LINKEDIN).

Oleh Achmad Tans

ADA satu benang merah yang diam-diam menjalar dalam sejarah modern. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk perang, tank, atau kamp konsentrasi. Kadang ia hadir dalam bentuk teori ekonomi, statistik populasi, jargon ilmiah, bahkan bahasa futuristik tentang teknologi dan kecerdasan buatan. Benang merah itu adalah pertanyaan dingin: “Apakah semua manusia masih  berguna”? Dari pertanyaan inilah lahir istilah-istilah menyeramkan: “surplus population” (kelebihan penduduk), “life unworthy of life”(kehidupan yang tak layak untuk hidup), “useless eaters” (pemakan yang tidak berguna), hingga “useless class” (kelas yang tidak berguna). Bahasanya berubah. Wajah zamannya berubah. Teknologinya berubah. Namun ruh pemikirannya sering kali sama: manusia dinilai berdasarkan utilitasnya. Jika berguna, dipertahankan. Jika tidak berguna, disingkirkan. Inilah kisah panjang bagaimana sebagian peradaban modern perlahan tergelincir dari memuliakan manusia menjadi menghitung manusia.

Ketika Manusia Mulai Dihitung

Pada akhir abad ke-18, Eropa sedang memasuki perubahan besar. Revolusi industri mulai bergerak. Kota-kota membesar. Kemiskinan urban meningkat. Pangan terasa terbatas. Dan elit Eropa mulai ketakutan terhadap ledakan populasi. Di tengah situasi itu muncullah Thomas Robert Malthus dengan bukunya yang terkenal: “An Essay on the Principle of Population”.

Malthus mengemukakan teori sederhana tetapi menggetarkan: populasi manusia tumbuh jauh lebih cepat daripada produksi pangan, sehingga kelaparan, wabah, dan perang dianggap sebagai mekanisme alami pengendali populasi.

Bagi sebagian orang, teori itu tampak ilmiah. Tetapi di baliknya tersembunyi perubahan cara pandang yang sangat besar. Kaum miskin tidak lagi dipandang terutama sebagai manusia yang perlu dibantu, melainkan sebagai tekanan demografis. Orang lapar mulai dibaca sebagai angka. Dari sini lahir ketakutan modern terhadap “kelebihan manusia”.

Dari Evolusi ke Darwinisme Sosial

Ketika Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species, dunia ilmu pengetahuan berubah drastis. Darwin sebenarnya berbicara tentang seleksi alam pada makhluk hidup. Namun sebagian pemikir kemudian membawa teori biologis itu ke ranah sosial dan politik. Tokoh seperti Herbert Spencer melahirkan apa yang dikenal sebagai Darwinisme sosial.

Dari sinilah muncul slogan terkenal: “survival of the fittest”. Awalnya terdengar seperti hukum alam. Tetapi dalam praktik sosial, ia berubah menjadi pembenaran brutal: yang kuat layak hidup, yang lemah dianggap gagal, kemiskinan dianggap kesalahan biologis, dan belas kasih dipandang menghambat evolusi masyarakat.

Perlahan manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk bermartabat, tetapi sebagai spesimen kompetitif dalam perlombaan sosial. Kasih sayang mulai dicurigai. Empati mulai dianggap melemahkan peradaban.

Francis Galton dan Lahirnya Eugenika

Lalu datang Francis Galton, sepupu Darwin. Ia memperkenalkan istilah: Eugenics, yakni gagasan bahwa kualitas manusia bisa “ditingkatkan” melalui kontrol reproduksi. Menurut Galton: orang cerdas sebaiknya lebih banyak bereproduksi, orang yang dianggap “rendah kualitasnya” sebaiknya dibatasi.

Inilah salah satu titik paling berbahaya dalam sejarah modern. Karena sejak saat itu, manusia mulai dipilah bukan berdasarkan akhlak atau kemanusiaan, tetapi berdasarkan standar biologis dan utilitas sosial. Yang miskin, yang cacat, yang sakit jiwa, yang lemah, bahkan yang berbeda secara etnis— mulai dipandang sebagai beban genetika. Ilmu pengetahuan perlahan berubah menjadi alat klasifikasi manusia.

Dari Laboratorium ke Negara

Awalnya eugenika tampak seperti teori akademik. Namun memasuki awal abad ke-20, ide ini menyebar luas ke Inggris, Amerika Serikat, Skandinavia, dan akhirnya Jerman. Di Amerika Serikat, ribuan orang mengalami sterilisasi paksa karena dianggap: “feebleminded” (lemah pikiran), miskin, atau “tidak layak secara genetik”. Ironisnya, banyak praktik ini terjadi atas nama sains dan kemajuan.

Peradaban modern mulai percaya bahwa manusia dapat “dioptimalkan” seperti mesin industri. Dan ketika manusia dipandang sebagai proyek biologis, maka muncullah pertanyaan mengerikan: “Apa yang harus dilakukan terhadap manusia yang dianggap tidak produktif”?

Nazi dan Mesin Dehumanisasi

Pertanyaan itu mencapai bentuk paling mengerikan di tangan rezim Adolf Hitler. Nazi tidak menciptakan semua ide tersebut dari nol. Mereka menggabungkan: Darwinisme sosial, eugenika, nasionalisme rasial, neo -Malthusianisme, dan obsesi terhadap kemurnian biologis. Lalu semuanya dijadikan kebijakan negara.

Dalam propaganda Nazi, sebagian manusia mulai disebut sebagai: beban bangsa, penguras pajak, parasit sosial, hingga “useless eaters”.

Frasa “useless eaters” — dalam bahasa Jerman sering dikaitkan dengan unnütze Esser atau nutzlose Fresser — adalah salah satu istilah paling gelap dalam sejarah modern. Ia bukan sekadar hinaan sosial, tetapi bagian dari bahasa ideologis yang dipakai untuk membenarkan pemusnahan manusia yang dianggap “tidak produktif”.

Bahasa menjadi senjata pertama. Karena sebelum manusia dibunuh, mereka biasanya lebih dulu dihapus kemanusiaannya melalui kata-kata. Program seperti Aktion-T4 membunuh: penyandang disabilitas, penderita gangguan mental, dan orang sakit kronis, atas nama efisiensi negara. Poster propaganda Nazi bahkan menghitung biaya makan seorang penyandang disabilitas selama hidupnya. Seolah nilai manusia hanya setara angka anggaran. Di sinilah modernitas memperlihatkan sisi paling gelapnya: ketika matematika kehilangan nurani.

Ecofascism dan Obsesi “Menyelamatkan Bumi

Yang menarik, Nazi juga memiliki sisi yang sering terlupakan. Mereka mendukung: konservasi alam, perlindungan hutan, romantisme pedesaan, dan ide “darah dan tanah” (Blut und Boden). Sebagian akademisi modern menyebut unsur ini sebagai: Ecofascism, yakni ketika isu lingkungan dipakai untuk membenarkan otoritarianisme dan pengorbanan manusia. Di titik ini muncul paradoks besar: atas nama menyelamatkan bumi, manusia justru dihancurkan. Padahal bumi tanpa kemanusiaan bukanlah peradaban. Ia hanya padang sunyi penuh ketakutan.

Abad ke-21: Bahasa Baru, Kecemasan Lama

Waktu berlalu. Kamp konsentrasi runtuh. Nazi kalah perang. Tetapi sebagian pola pikirnya ternyata tidak benar-benar mati. Ia berubah bahasa. Jika dulu manusia dianggap ancaman biologis, kini manusia mulai dianggap ancaman ekonomi dan data. Masuklah dunia digital, AI, otomatisasi, dan algoritma. Lalu muncullah Yuval Noah Harari dengan gagasannya tentang: “the useless class”, dalam bukunya Homo Deus.

Harari memprediksi bahwa AI dan otomatisasi dapat membuat jutaan manusia kehilangan relevansi ekonomi. Mesin menjadi lebih cepat. Algoritma lebih efisien. Robot lebih murah. Lalu muncul pertanyaan baru: “Jika AI dapat melakukan hampir semua pekerjaan manusia, apa fungsi sebagian besar manusia?” Di sinilah dunia mulai merasakan gema sejarah lama. Bahasanya berbeda. Tetapi getaran filosofisnya terasa mirip. Dulu: “useless eaters“. Kini: “useless class“.

Dari Biologi ke Algoritma

Jika abad ke-20 memandang manusia melalui genetika, abad ke -21 mulai memandang manusia melalui data. Manusia menjadi: profil digital, pola konsumsi, perilaku algoritmik, dan angka produktivitas. Yang tidak relevan dengan pasar bisa tersingkir. Yang kalah kompetisi teknologi bisa terpinggirkan. Bahkan sebagian futuris mulai berbicara tentang: manusia yang “obsolete” (usang), pekerjaan yang “punah”, dan populasi “tak relevan”. Ketika bahasa seperti ini dinormalisasi, muncul kekhawatiran besar: Apakah peradaban modern sedang mengulang kesalahan lama dalam bentuk baru?

Kesalahan Besar Pemikiran Mereka

Di sinilah letak kekeliruan mendasar dari garis pemikiran mulai dari Malthus hingga sebagian futurisme modern. Mereka melihat manusia terutama sebagai: mulut konsumsi, unit ekonomi, objek biologis, atau komponen sistem produksi. Padahal manusia bukan sekadar mahluk ekonomi. Manusia adalah mahluk ruhani. Ketika manusia direduksi menjadi angka, maka kasih sayang perlahan mati. Jika nilai manusia ditentukan oleh produktivitas, maka: bayi, lansia, orang sakit, penyandang disabilitas, bahkan pengangguran— akan kehilangan martabatnya. Padahal sering kali justru melalui merekalah manusia belajar: cinta, empati, kesabaran, pengorbanan, dan makna hidup. Seunit mesin mungkin lebih efisien daripada manusia. Tetapi mesin tidak bisa berdoa. Tidak bisa menangis karena cinta. Tidak bisa bertobat. Tidak bisa merasakan rahmat.

Kontemplasi Fitrah untuk Ummat Hari Ini

Di tengah dunia yang makin algoritmik, ummat manusia sedang menghadapi ujian besar: apakah kita masih memandang manusia sebagai amanah Ilahi, atau hanya sebagai variabel ekonomi? Peradaban modern terlalu lama terobsesi pada: pertumbuhan, efisiensi, kompetisi, dan produktivitas. Akibatnya manusia lupa bahwa kehidupan tidak hanya soal output. Hutan memang penting, Teknologi dan Ekonomi juga penting. Tetapi itu semua untuk melayani kebutuhan manusia dalam kadar mizan. Dalam pandangan fitrah, manusia bukan “beban bumi”. Manusia adalah khalifah bumi. Masalahnya bukan terlalu banyak manusia. Masalahnya adalah terlalu banyak keserakahan, ketidakadilan, dan kerusakan amanah. Bumi sebenarnya cukup luas. Laut cukup dalam. Tanah cukup subur. Langit cukup memberi hujan. Namun ketika segelintir manusia menimbun sumber daya, lalu menyalahkan populasi, di situlah lahir ketimpangan. Fitrah tidak mengajarkan membenci manusia demi bumi. Fitrah mengajarkan memperbaiki manusia agar bumi kembali lestari.

Karena itu tantangan terbesar abad ini bukan sekadar AI. Tetapi bagaimana menjaga ruh kemanusiaan di tengah dunia yang makin mekanistik. Jangan sampai manusia kalah bukan oleh robot, melainkan oleh hilangnya nurani. Sebab ketika manusia mulai percaya bahwa sebagian manusia “tak berguna”, maka sesungguhnya peradaban sedang berjalan menuju jurang yang sangat tua— jurang yang dulu pernah melahirkan kamp-kamp kematian, dan kini mungkin datang kembali dalam bentuk yang lebih halus, lebih digital, lebih sunyi, tetapi sama dinginnya. Dan mungkin di zaman inilah ummat perlu kembali mengingat satu prinsip fitrah yang sederhana namun agung: Nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa besar ia menghasilkan, tetapi oleh seberapa dalam ia memelihara amanah kehidupan. ***

Achmad TansXFITVAL (Explorer Fitrah Values).