Oleh Dinn Wahyudin
MELALUI wawancara imajiner, ada sepuluh pesan penting (ten focal points) pernah disampaikan Prof. Mr. Mohammad Yamin (Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI, 1953 -1955) tentang pendidikan guru, tantangan guru masa depan, dan pengembangan kurikulum pendidikan guru sesuai dengan tantangan zaman.
Pertama, pendidikan guru adalah fondasi kebangsaan dan kepribadian nasional. Bagi Mohammad Yamin, pendidikan—termasuk pendidikan guru—bukan semata urusan teknis pengajaran, melainkan instrumen pembentukan kepribadian bangsa. Guru harus dipersiapkan sebagai pendidik yang menanamkan rasa kebangsaan, persatuan, dan identitas Indonesia. Dalam konteks era digital, penguasaan teknologi tidak boleh mengikis orientasi kebangsaan, tetapi justru memperkuat jati diri nasional dalam ruang global.
Kedua, guru adalah pendidik manusia merdeka, bukan penghapal pengetahuan. Yamin menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia merdeka dalam berpikir dan bertindak. Oleh karena itu, pendidikan guru harus menyiapkan pendidik yang mampu membangkitkan daya cipta, daya nalar, dan kesadaran kritis peserta didik. Di era digital, guru dituntut membimbing peserta didik agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi subjek yang berpikir reflektif dan kreatif.
Ketiga, kurikulum pendidikan guru harus berakar pada kebudayaan bangsa. Mohammad Yamin memandang kebudayaan sebagai jiwa pendidikan nasional. Kurikulum pendidikan guru tidak boleh terlepas dari sejarah, bahasa, dan kebudayaan Indonesia. Dalam era digital yang cenderung global dan homogen, kurikulum pendidikan guru harus menjadi benteng kultural yang menanamkan nilai-nilai lokal dan nasional secara kontekstual dan relevan.
Keempat, guru harus menguasai ilmu pengetahuan sekaligus jiwa pendidik. Menurut Yamin, kemajuan bangsa hanya dapat dicapai jika guru memiliki penguasaan ilmu pengetahuan yang kuat dan semangat pengabdian yang tulus. Pendidikan guru harus menyeimbangkan penguasaan keilmuan dengan pembentukan karakter pendidik. Tantangan era digital menuntut guru menguasai teknologi pendidikan, namun tetap menjunjung etika dan tanggung jawab moral.
Kelima, bahasa adalah kunci peradaban dan pendidikan. Sebagai tokoh bahasa, Yamin menegaskan peran strategis bahasa dalam pendidikan. Guru harus menjadi penjaga mutu bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu dan persatuan. Dalam era digital, pendidikan guru perlu membekali calon guru kemampuan literasi digital dan kebahasaan agar bahasa Indonesia tetap berdaya saing di tengah dominasi bahasa global.
Keenam, pendidikan guru harus bersifat visioner dan berjangka panjang. Yamin berpandangan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan bangsa. Kurikulum pendidikan guru harus dirancang dengan visi jangka panjang, bukan sekadar menjawab kebutuhan sesaat. Di era digital yang berubah cepat, visi pendidikan guru harus melampaui tren teknologi dan berfokus pada pembentukan manusia Indonesia masa depan.
Ketujuh, guru adalah teladan moral dalam kehidupan publik. Bagi Mohammad Yamin, guru bukan hanya pendidik di kelas, tetapi figur moral dalam masyarakat. Pendidikan guru harus membentuk kepribadian yang berintegritas, beretika, dan bertanggung jawab sosial. Tantangan era digital—hoaks, ujaran kebencian, dan krisis etika—menuntut guru menjadi teladan literasi etis dan digital citizenship.
Kedelapan, pendidikan guru harus menumbuhkan semangat persatuan dan toleransi. Sebagai perumus gagasan kebangsaan, Yamin menempatkan persatuan sebagai tujuan utama pendidikan. Guru harus dipersiapkan sebagai agen pemersatu bangsa yang majemuk. Dalam era digital yang rawan polarisasi, pendidikan guru perlu membekali calon guru dengan kemampuan dialog, toleransi, dan pendidikan multikultural berbasis nilai Pancasila.
Kesembilan, guru harus adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan arah ideologis Mohammad Yamin tidak menolak kemajuan, tetapi menekankan pentingnya arah ideologis pendidikan. Guru harus adaptif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi, namun tetap berpijak pada cita-cita nasional. Kurikulum pendidikan guru era digital harus menanamkan kemampuan adaptasi kritis, bukan sekadar keterampilan teknis.
Kesepuluh, masa depan Indonesia ditentukan oleh mutu pendidikan guru. Bagi Yamin, kemerdekaan dan kemajuan bangsa hanya dapat dijaga melalui pendidikan yang bermutu, dan kunci mutu pendidikan terletak pada guru. Oleh karena itu, pendidikan guru harus menjadi prioritas utama negara. Di era digital, investasi pada pendidikan guru—baik kurikulum, kapasitas, maupun karakter—menjadi syarat mutlak untuk menjaga kedaulatan intelektual bangsa.
Konstruktif-Interpretatif
Jika ditafsirkan secara konstruktif-interpretatif, sepuluh pesan Mohammad Yamin membentuk satu bangunan pemikiran yang utuh tentang pendidikan guru sebagai proyek peradaban, bukan sekadar sistem pelatihan profesi. Pendidikan guru, dalam kerangka ini, diposisikan sebagai ruang strategis untuk memastikan kesinambungan nilai kebangsaan, kebudayaan, dan kemanusiaan Indonesia di tengah arus transformasi digital global. Dengan demikian, kurikulum pendidikan guru era digital perlu dibangun di atas fondasi ideologis yang jelas, agar inovasi teknologi tidak berujung pada dehumanisasi atau kehilangan orientasi kebangsaan.
Guru masa depan bukan pendistribusi konten, melainkan fasilitator pengembang intelektual dan karakter. Oleh karena itu, pendidikan guru harus menyiapkan calon pendidik yang mampu mengembangkan daya nalar kritis, kreativitas, dan refleksi etis peserta didik dalam menghadapi limpahan informasi digital.
Literasi digital, dalam konteks ini, bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi kompetensi berpikir dan bersikap. Perhatian Yamin terhadap kebudayaan sebagai jiwa pendidikan memberikan arah konstruktif bahwa kurikulum pendidikan guru harus bersifat glokal: terbuka pada perkembangan global, tetapi berakar kuat pada budaya nasional. Di era digital yang cenderung menyeragamkan nilai dan praktik pendidikan, kurikulum pendidikan guru berfungsi sebagai benteng kultural yang menjaga keberlanjutan sejarah, bahasa, dan identitas Indonesia melalui pendekatan pedagogik yang kontekstual.
Perlunya keseimbangan antara penguasaan ilmu, teknologi, dan jiwa pendidik yang ditegaskan bahwa profesionalisme guru tidak dapat direduksi menjadi kompetensi teknis semata. Dalam interpretasi kontemporer, pendidikan guru harus mengintegrasikan penguasaan teknologi pendidikan dengan etika profesi, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral. Guru digital yang dikehendaki Yamin adalah guru yang cakap teknologi sekaligus matang secara etis.
Bahasa sebagai kunci peradaban memberikan dasar kuat bagi penguatan literasi kebahasaan dan digital dalam pendidikan guru. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa ilmu dan persatuan, harus tetap menjadi medium utama produksi dan diseminasi pengetahuan di ruang digital. Pendidikan guru, dengan demikian, bertugas menjaga kedaulatan bahasa sekaligus meningkatkan daya saing intelektual bangsa. Kurikulum pendidikan guru era digital harus melampaui logika respons cepat terhadap perubahan teknologi, dan berfokus pada pembentukan manusia Indonesia masa depan yang berkarakter, berpengetahuan, dan berdaya adaptif. Dengan demikian, posisi guru sebagai teladan moral publik semakin relevan di era digital yang ditandai krisis etika, disinformasi, dan polarisasi sosial.
Pendidikan guru era digital harus membekali calon guru dengan kemampuan dialog lintas budaya, pendidikan multikultural, dan pengelolaan keberagaman, agar ruang digital tidak menjadi medan konflik identitas, melainkan sarana penguatan kohesi sosial bangsa. Tuntutan adaptasi kritis tanpa kehilangan arah ideologis menempatkan kurikulum pendidikan guru sebagai ruang pembentukan kesadaran reflektif. Guru harus adaptif terhadap perubahan ilmu dan teknologi, tetapi tetap berpijak pada cita-cita nasional. Ini menegaskan bahwa kompetensi digital harus selalu disertai dengan kompas nilai.
Keseluruhan pesan Yamin bermuara pada satu tesis utama: Mutu pendidikan guru adalah penentu masa depan Indonesia. Dalam era digital, investasi pada pendidikan guru tidak hanya menyangkut infrastruktur teknologi, tetapi terutama menyangkut kualitas kurikulum, kapasitas intelektual, dan karakter pendidik. Pendidikan guru yang bermutu adalah syarat mutlak bagi terjaganya kedaulatan intelektual, budaya, dan moral bangsa.
Pemikiran Mohammad Yamin tidak bersifat historis-normatif semata, melainkan relevan secara konseptual untuk merumuskan profil kompetensi guru era digital. Kurikulum pendidikan guru—termasuk PPG Prajabatan—dapat menggunakan kerangka ini untuk memastikan bahwa penguatan kompetensi digital selalu berjalan seiring dengan penguatan nilai kebangsaan, kebudayaan, dan moralitas profesi.
Semoga bermanfaat. ***
(Sumber: Bahan disitasi dari berbagai dokumen karya Prof. Mr. Mohammad Yamin dan dibantu untuk dianalisis oleh Chat GPT).
Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wakil Rektor I Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN University).





