Oleh Nunu A. Hamijaya
GENERASI Milenial terlebih G-Z tak kenal apa itu ‘tarum’? Tapi mungkin, nama ‘tarumanegara’ dan ‘citarum’ lebih dikenal mereka. Namun, tahukah, bahwa ‘tarum’ ini memiliki jejak sejarah yang berdimensi luas : politik, ekonomi, dan sains teknologi tekstil.
Dalam ingatan kolektif rakyat Tatar Sunda, ‘tarum’ menyimpan sejumlah kenangan, traumatik, konflik, yang berdampak hingga saat ini,seperti persoalan DAS Citarum, yaitu pencemaran berat (sampah domestik dan limbah industri), erosi lahan kritis, dan sedimentasi tinggi yang menyebabkan banjir serta penurunan kualitas air. Yang berdampak pada 35 juta jiwa di 13 kabupaten/kota, diperparah oleh kurangnya infrastruktur pengolahan limbah dan kesadaran masyarakat.
Bagi masyarakat Cianjur, yang memeroleh informasi tentang ingatan kolektif sejarah ‘heroisme’ seorang tokohnya : Haji Prawatasari yang tidak terlepas dengan ‘tarum’ ini.
Tarum: dari Tarumanegara ke Citarum
Kata ‘tarum’ terkoneksi dengan nama ‘Tarumanegara’, kerajaan Hindu tertua di Jawa bagian barat pada abad ke-4. Nama kerajaannya menggunakan kata ‘tarum’. Tanaman ‘tarum’ ini menghasilkan warna yang disebut ‘indigo’ yang berasal dari kata ‘indikon’ dalam bahasa Yunani yang berarti India.
Ada tujuh warna pelangi yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Indigo adalah warna di antara biru dan ungu atau yang juga sering disebut nila. Mengutip Newscientist, sekitar tahun 1665, ilmuwan Isaac Newton menambahkan warna oranye dan indigo dalam warna pelangi yang dihasilkan oleh prisma. Sebelumnya orang hanya mengenal lima warna pelangi, yaitu merah kuning, hijau, biru, dan ungu.
Mengapa? Sebab India sejak dulu adalah penghasil komoditas ‘indigo’ atau pewarna pakaian alam. Tanaman indigo di India, khususnya indigofera tinctoria, adalah sumber pewarna biru alami kuno yang sangat penting, digunakan sejak 2500 SM untuk tekstil. Tumbuh subur di iklim tropis, tanaman ini (dikenal sebagai nila atau true indigo) diolah dari daun melalui fermentasi dan oksidasi. Budidaya utamanya berada di wilayah seperti India Utara dan Karnataka.
Tatkala, pendatang dari India datang ke kawasan Jawa bagian barat, lalu berinteraksi hingga menguasai kawasan tersebut dan mendirikan Kerajaan Tarumanegara. Pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah Maharesi Jayasingawarman asal India. Ia datang ke Nusantara karena kekacauan dan penjajahan oleh pasukan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.
Kata ‘tarum’ memberikan indikasi bahwa di wilayah itu penghasil ‘tarum’ yang berlimpah-ruah. Masih perlu penelitian, apakah tanaman ‘tarum’ ini dibawa oleh orang India saat itu atau memang di Tatar Sunda (Jawa Barat) sudah ada tanaman tersebut namun belum dibudayakan atau hanya merupakan tanaman liar saja.
Bukan kebetulan, bahwa Kerajaan Tarumanegara terletak di kawasan sungai besar yang kemudian disebut Citarum. Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua kedua di Nusantara (abad ke-4 hingga ke-7 M), berpusat di wilayah barat Pulau Jawa, meliputi wilayah modern Banten, Jakarta, Bekasi, Bogor, hingga Cirebon. Pusat pemerintahannya diyakini berada di sekitar Sungai Citarum, dengan ibu kota di Sundapura (sekitar Bekasi/Bogor sekarang). Ini mengiungatkan pada pusat kebudayaan India berawal dari kehidupan agraris di Sungai Gangga.
Citarum, berasal dari kata ci artinya air, dan ‘tarum’, sejenis tanaman untuk mewarnai kain menjadi indigo. (Indigofera tinctoria L.). Tinggi tumbuhan tarum mencapai 1,5 meter, dengan cabang banyak dan bisa muncul di batang bawah. Daunnya seperti membelah, berwarna hijau, terletak di samping kanan dan kiri. Ujung daun meruncing. Bunganya berwarna ungu. Tanaman yang masuk keluarga Fabaceae ini panjang polongnya sekitar 3 cm, dengan biji sekitar 2 mm.
Citarum adalah sungai di Jawa Barat yang sebagian bantaran sungainya ditumbuhi tarum. Pada zaman kolonial Hindia Belanda, (1918-1925), kawasan yang disebut West Java, mengekspor indigo. Ini menjadi bukti tumbuhan pewarna alami pernah dibudidayakan di sini.
Di Tanah Air, tumbuhan tarum ini dikenal luas. Selain daun dan batangnya digunakan sebagai bahan pewarna alami, banyak peternak memanfaatkannya sebagai pakan ternak. Selain itu secara tradisional, daunnya digunakan sebagai obat epilepsi, kecemasan, dan menyembuhkan luka. ***
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.





