ZONALITERASI.ID – Saat pembukaan ‘Pekan Bahasa Sunda SMA YAS Bandung’, di kampus SMA YAS, Jalan P.H.H. Mustofa, Rabu, 16 Februari 2022, dihelat ‘Nobar dan Diskusi Film Preserving The Seke’.
Pembicara yang tampil yaitu Irwan Zabonk (Sineas, Sutradara Film) dan Yadi Black (Ketua Komunitas CAI/Cinta Alam Indonesia).
‘Pekan Bahasa Sunda SMA YAS Bandung’ yang digelar pada 16 sampai 22 Februari 2022 sendiri, diselenggalarakan dalam rangka memperingati ‘Hari Basa Indung Sadunya’.
Diketahui, Film Preserving The Sèkè merupakan film dokumenter pendek karya anak muda Komunitas CAI dan berbagai pihak pendukung.
Film ini pertama kali diputar dalam ajang bergengsi International Festival Film Manhattan New York pada 14 Oktober 2021 dan berhasil meraih penghargaan Best Director ‘Gerry Ballasta Advocacy Award’.
Film ‘Preserving The Sèke’, menggambarkan ‘sèkè’, dalam bahasa Sunda lebih dikenal dengan nama ‘air kabuyutan’ (mata air) yang mulai tergerus keberadaanya karena pengaruh urbanisasi yang hilang kendali.
Film ini hendak menyampaikan pesan moral pada pemangku kebijakan agar berusaha lebih kuat dan serius menjaga alam.
Sebelum film ditayangkan ada diskusi dengan para narasumber mengenai latar belakang pembuatan film, maksud, dan tujuan film tersebut dibuat.
Pengawas di Lingkungan Yayasan Atikan Sunda, Tanti Brahmawati, S.S., mengungkapkan, pihak Yayasan terus mendorong unit-unit yang berada di bawah naungan Yayasan Atikan Sunda untuk terus melakukan kegiatan yang tidak lepas dari visi misi melestarikan budaya Sunda.
“Ini wajib dilakukan. Hal ini akan menjadi pembeda dengan sekolah umum lain, selain meneruskan cita-cita para pendiri,” ujarnya.
Menurut Tanti, film tersebut ditampilkan pada siswa siswi SMA YAS dengan tujuan untuk menambah wawasan dan mengapresiasi karya nonoman Sunda.
“Film ini dituturkan dengan bahasa Sunda, setting tempat di Kota Bandung, tempat kita tinggal. Tentu saja merupakan suatu kebanggaan tersendiri, karena ternyata Bahasa Sunda bisa mendapatkan ‘tempat’ di kancah Internasional,” terangnya.
“Diharapkan, ini menjadi inspirasi untuk para siswa sebagai penerus bangsa agar terlahir sifat ‘ngamumule budaya dan alam Sunda,” pungkas Tanti. (des)***











