ZONALITERASI.ID – Sistem peringatan dini gempa dan tsunami di Jepang dapat menjadi model bagi Indonesia dalam memperkuat mitigasi bencana, khususnya di kawasan rawan gempa dan tsunami.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB dan pakar gempa, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., menyikapi respons Jepang dalam menghadapi gempa yang menimpa wilayah Kamchatka, Rusia, pada Rabu, 30 Juli 2025.
Sebagai informasi, dengan magnitudo mencapai 8,7, gempa di wilayah Kamchatka berpotensi memicu guncangan kuat, khususnya di kawasan sekitar. Diperkirakan, di bagian utara Hokkaido, Jepang, intensitas guncangan bisa mencapai skala 8 hingga 9 dalam skala intensitas gempa.
Prof. Irwan mengungkapkan, menghadapi kondisi itu, Jepang memiliki sensor berdasarkan pressure yang bisa mendeteksi tsunami sebelum sampai ke garis pantai. Di pantai pun mereka memiliki sensor tambahan, misalnya berbasiskan pada pengamatan pasut, dan itu memberikan warning jauh lebih akurat bagi masyarakat di sekitar pesisir.
“Saya terus memantau informasi dan menjalin komunikasi dengan kolega di Jepang. Di pantai utara Tohoku, ketinggian tsunami sudah mencapai 60 cm, sementara di bagian selatan sekitar 40–50 cm,” kata akademisi yang pernah melakukan studi langsung ke wilayah Kamchatka ini.
Gempa Awalan dan Susulan
Prof. Irwan mengatakan, gempa utama yang terjadi pada Rabu, 30 Juli 2024, diawali oleh gempa awal (foreshock) dengan magnitudo 7 yang terjadi lebih dari seminggu sebelumnya. Status foreshock baru dapat dipastikan jika kemudian diikuti oleh gempa utama.
“Setelah gempa utama, kita umumnya akan menghadapi gempa-gempa susulan (aftershock). Dalam beberapa kasus, gempa susulan justru bisa lebih besar, seperti yang terjadi di Lombok tahun 2018,” ujarnya.
“Namun jika mengikuti pola umum, gempa susulan di Kamchatka diperkirakan akan memiliki magnitudo yang lebih kecil,” tambahnya.
Kamchatka Pernah Alami Gempa Besar
Menurut Prof. Irwan, gempa yang terjadi di wilayah Kamchatka berada di zona seismic gap—wilayah yang pernah mengalami gempa besar secara historis, namun dalam kurun waktu lama tidak menunjukkan aktivitas signifikan.
Dia mengatakan, di wilayah bagian utara Kamchatka pernah mengalami gempa dengan magnitudo 9 pada 1950-an, dan bagian selatan magnitudo 8,1 pada 1960–1970-an. Kamchatka sendiri dalam 80–100 tahun terakhir belum pernah mengalami gempa di atas magnitudo 8.
“Kamchatka dari segi tektonik mirip dengan kawasan pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, dan utara Halmahera di Indonesia. Artinya, potensi terjadinya gempa besar sangat mungkin terjadi,” katanya. (oky adiana)***





