Anggaran Dana Desa Berkurang, Konsep Pemotongan oleh Pusat Terkesan Tak Adil

WhatsApp Image 2026 06 27 at 10.51.46
Kepala Desa Kawunghilir, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, Hj. Yosa Novita, (Foto: Herik Diana).

ZONALITERASI.ID – Anggaran Dana Desa yang telah mengalami pengurangan drastis dari total Rp1 miliar menjadi hanya Rp300 juta atau Rp400 ratus juta (bergantung besaran anggaran di desa tersebut) menimbulkan reaksi protes dan kritik dari sejumlah kepala desa yang ada di Kabupaten Majalengka.

Alasannya cukup banyak, termasuk ketika pemerintah desa bersama perangkat dan warganya punya usulan untuk mengatasi persoalan pengairan lahan pertanian pada musim kemarau. Pemerintah Desa Kawunghilir, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, tak bisa mewujudkan keinginan warganya karena keterbatasan anggaran.

Kepala Desa Kawunghilir, Hj. Yosa Novita, mengungkapkan, dirinya kebingungan menghadapi musim kemarau ini. Sebab, uang dana desa Kawunghilir telah dipangkas sekitar Rp600 juta, dengan alasan pemerintah pusat untuk pembangunan KDMP.

“Dari tahun 2025 itu sudah terpotong. Sementara pembangunan KDMP-nya ini belum dilaksanakan, tapi uangnya sudah. Saya bingung, pusing, lieur, ” ungkapnya, usai makan bersama warganya dalam rangka menyambut tahun baru Hijriah di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Kepala Desa yang akrab disapa Bunda Yosa ini menambahkan, pihaknya telah menyediakan lahan, untuk pembangunan KDMP, titiknya telah ada namun belum ada pembangunan hingga saat ini.

“Lahan telah kami siapkan. Tapi pembangunan KDMP belum. Saya mendukung adanya KDMP, namun sebaiknya dalam hal pemotongan anggaran, sebaiknya bagi yang sudah ada pembangunan Gerai KDMP saja,” ucapnya.

Karena kebutuhan untuk warganya, Bunda Yosa telah mengeluarkan anggaran dari saku pribadinya, untuk membantu warganya mengalirkan air ke lahan sawah.

Anggaran untuk ketahanan pangan ini membutuhkan sedikitnya Rp300 juta lebih untuk memperbaiki talang air di Blok Dawuan. Dirinya rela mengelola dana tersebut yang penting untuk kebutuhan warganya.

“Tujuannya untuk dialirkan ke sawah warga. Dengan adanya KDMP, uangnya sudah dipotong, dibangunnya belum. Saya udah nggak walakaya (nggak bisa apa-apa) sebagai kepala desa,” tandasnya.

Sementara saat ini, pemerintah pusat menggembar-gemborkan untuk pembangunan KDMP di tiap desa dan kelurahan. Sementara persoalan lainnya termasuk program ketahanan pangan kurang mendapat sentuh an anggaran.

“Uangnya udah enggak ada? Pemerintah Desa Kawunghilir hanya menerima uang Rp200 juta sekian. Itupun sudah digunakan untuk perbaikan saluran air yang rusak,” ujarnya.

Bunda Yosa menuturkan, dengan keterbatasan minimnya anggaran, akan sulit bagi pemerintah desa untuk mewujudkan dan membantu para petani dalam hal pengairan sawah tersebut.

“Saya meminta, memohon, memohon dengan sangat, ke pemerintah, untuk tolonglah kalau KDMP-nya, pembangunannya belum dilaksanakan, uangnya jangan dipotong dulu. Karena kita desa sangat sekali membutuhkan dana desa tersebut. Jadi saya mohon kepada pemerintah untuk diperhatikan, sebelum dibangunnya KDMP, mohonlah jangan dipotong dulu karena di desa ini sangat membutuhkan sekali dana tersebut untuk kebutuhan lainnya,” ujarnya. (rik)***