Rektor ITB Pernah Ditolak Jadi Dosen, Tak Menyerah Meski Harus Menunggu 13 Tahun

Prof Tatacipta Dirgantara ditetapkan sebagai Rektor ITB Periode 2025 2030
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., (Foto: ITB).

ZONALITERASI.ID – Ternyata, Rektor ITB, Prof. Dr. Tatacipta, M.T., punya cerita di balik perjalanannya hingga menjadi nakhoda di Kampus Ganesha.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi di ITB, Prof. Tatacipta pernah ditolak jadi dosen.

“Waktu saya memilih jadi dosen itu, sebetulnya mirip sama Ibu Nurhayati, saya ditolak jadi dosen. Saya lulus tahun 1993 dan saya jadi dosen di ITB itu tahun 2006,” kata Prof. Tatacipta, saat pembukaan Wardah Inspiring Teacher (WIT) Generasi ke-8, di Sabuga ITB, Jalan Tamansari Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026.

Dalam kegiatan yang diikuti 25 ribu guru dari seluruh Indonesia, selanjutnya Prof. Tatacipta menuturkan, meski pernah ditolak, dia tak langsung menyerah. Setelah 13 tahun mencoba, akhirnya dirinya menjadi dosen di ITB.

“Saya menunggu 13 tahun Pak untuk jadi dosen,” katanya.

Menurut Prof. Tatacipta, panggilan menjadi dosen datang begitu saja. Jiwanya memilih untuk menjadi pendidik dan mengamalkan ilmunya kepada banyak mahasiswa.

Prof. Tatacipta menyebut pilihan menjadi pendidik sebagai “jalur sunyi”.

“Saya sangat kagum kepada para guru yang hadir dalam acara ini. Saya tahu Bapak, Ibu semua ya, memilih jalur yang sunyi ini, memilih jalur pengabdian ya. Kalau kita memilih jalur ini, maka kita tidak akan iri pada teman-teman kita yang memilih jalur lain,” ungkapnya.

Tumbuh Besar di Keluarga Guru

Prof. Tatacipta mengungkapkan, panggilan hatinya untuk menjadi guru juga datang karena dia tumbuh besar di keluarga guru. Saat ini, dia pun aktif di dunia pendidikan menengah dengan menjadi Ketua Komite SMAN 3 Bandung.

“Jadi, saya itu sebetulnya juga tumbuh dari keluarga guru. Hari ini juga saya adalah Ketua Komite Sekolah di SMA 3 Bandung. Yang pasti, sebetulnya saya adalah orang tua dari murid-murid Bapak, Ibu semua. Jadi, saya sangat berkepentingan bahwa guru-guru itu harus baik dan berkualitas, karena itu masa depan anak-anak saya juga begitu ya,” katanya.

Menginspirasi Siswa

Kepada ribuan guru peserta Wardah Inspiring Teacher (WIT), Prof. Tatacipta berpesan untuk selalu menginspirasi para siswa. Kata dia, siswa adalah investasi yang jauh lebih berharga daripada uang.

“Tapi kalau kita tahu apa tujuan kita untuk menjadi guru, menjadi dosen, maka kita tidak akan iri dengan teman-temannya itu. Karena mungkin tabungan kita bukan uang, tabungan kita itu adalah masa depan anak-anak kita,” katanya.

Prof. Tatacipta menambahkan, terkait pendidikan menengah, ITB saat ini tengah membina SMA Siwalima, salah satu SMA Unggulan Garuda di Ambon. ITB mendampingi guru dan mematangkan kurikulum serta manajemen sekolah.

“Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu dan guru yang baik menjelaskan. Lalu, guru yang unggul mendemonstrasikan. Tapi, guru yang hebat memberikan inspirasi,” pungkasnya. ***

Sumber: detikEdu