ZONALITERASI.ID – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat terus mematangkan konsep Sekolah Maung yang direncanakan mulai berjalan pada tahun ajaran 2026/2027.
Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Purwanto, mengatakan, Sekolah Maung akan hadir di kabupaten/kota dengan mencakup jenjang SMA dan SMK.
“Sekolah Maung gagasan Pak Gubernur ini akan dilaksanakan secara bertahap, dengan proses transformasi yang juga bertahap,” ujar Purwanto, dikutip dari laman Disdik Jabar, Jumat, 24 April 2026.
Purwanto menjelaskan, pada 2026 akan dilakukan penunjukan sekolah yang bersifat permanen, sekaligus menjadi awal perubahan, termasuk dalam mekanisme Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
“Seleksi siswa yang mendaftar ke Sekolah Maung akan kita lakukan lebih awal agar yang tidak diterima tetap memiliki kesempatan untuk mendaftar ke sekolah umum pada SPMB,” ucapnya.
Kata Purwanto, skema seleksi penerimaan murid baru untuk Sekolah Maung, tidak akan menggunakan jalur domisili, melainkan jalur prestasi, baik akademik maupun nonakademik. Adapun jumlah rombongan belajar (rombel) akan diatur dalam petunjuk teknis (juknis), yakni sekitar 8 hingga 12 rombel dengan jumlah maksimal 32 siswa per kelas.
Selain itu, Disdik Jabar juga tengah menyiapkan kerja sama dengan satuan pendidikan swasta melalui skema sekolah swasta kerja sama atau sister school sebagai alternatif sekolah penyangga.
“Kami juga membuka ruang partisipasi masyarakat, termasuk bagi masyarakat dengan penghasilan di atas Rp10 juta per bulan,” ujarnya.
Purwanto menambahkan, Sekolah Maung diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat yang selama ini menyekolahkan anak di sekolah berbiaya tinggi. Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, rencananya alokasi Bantuan Operasional Pendidikan Daerah (BOPD) akan ditingkatkan secara khusus guna menunjang kebutuhan pembelajaran.
“Penyusunan juknis terus dilakukan agar pelaksanaan berjalan lancar,” pungkas Purwanto.
Kearifan Lokal
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Ahmad Yani, mengungkapkan, konsep Sekolah Maung sebagai inovasi pendidikan yang mengangkat kearifan lokal sebagai kekuatan utama.
“Kami melihat konsep Sekolah Maung ini sangat luar biasa karena mengangkat kearifan lokal sebagai kekuatan utama,” katanya.
Dia menuturkan, UPI siap berkontribusi secara nyata dalam pengembangan kurikulum, sarana-prasarana, hingga konsep pembelajaran.
“Kami tidak hanya mendukung secara narasi, tetapi juga siap berkontribusi nyata,” tegasnya.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Fatimah Arofiati Noor, menyampaikan komitmen institusinya untuk turut meningkatkan kompetensi siswa dan guru di Jawa Barat.
“Kami berkomitmen untuk bersama-sama meningkatkan kompetensi dan kapasitas siswa serta guru di Jawa Barat,” ucapnya.
Dia berharap, kolaborasi ini mampu melahirkan generasi unggul yang siap menjadi pemimpin masa depan.
Akademisi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), drg. Erli Sarilita, menuturkan, program ini penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika).
“Kami berharap program ini mampu mencetak generasi yang memiliki daya saing tinggi, baik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dalam maupun luar negeri. Ke depan, mereka diharapkan dapat kembali berkontribusi dalam pembangunan Jawa Barat,” harapnya.
Sekolah Unggulan
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Bekasi, Mukaromah menilai, kehadiran Sekolah Maung menjadi jawaban atas kerinduan akan sekolah unggulan seperti pada masa sebelumnya.
“Dulu kita mengenal sekolah unggulan seperti RSBI dengan berbagai programnya. Sekarang, ini seperti mimpi yang menjadi nyata. Setiap kota akan memiliki sekolah unggulan yang sangat dinantikan, terutama oleh siswa dan alumni yang ingin sekolahnya kembali seperti dulu,” ujarnya.
Dia berharap, program tersebut dapat mendorong Jawa Barat menjadi yang terdepan dalam kualitas pendidikan, sekaligus berkontribusi pada terwujudnya generasi emas Indonesia 2045.
Kepala SMAN 2 Cibinong, Elis Nurhayati, mendukung kebijakan tersebut karena dinilai membuka peluang lebih luas bagi siswa berprestasi untuk mengakses pendidikan yang sesuai dengan potensinya.
“Sekolah Maung diharapkan menjadi ruang bagi lahirnya sumber daya manusia unggul, baik dari sisi guru, murid, maupun dukungan orang tua. Ini juga menjadi peluang bagi siswa SMP dan MTs untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan prestasi yang dimiliki,” katanya.
Sedangkan Kepala SMAN 1 Tasikmalaya, Yonandi, memandang Sekolah Maung sebagai bentuk optimalisasi potensi, bukan diskriminasi.
“Ini bukan diskriminasi, tetapi optimalisasi. Selama ini masih ada potensi siswa yang belum terlayani secara maksimal. Dengan Sekolah Maung, mereka yang memiliki potensi lebih dapat difasilitasi untuk berkembang secara optimal,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran sekolah unggul juga akan mendorong motivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasi agar dapat masuk ke Sekolah Maung.
“Jangan sampai potensi besar justru tidak berkembang. Sekolah Maung bisa menjadi ruang untuk mendorong siswa menjadi lebih luar biasa dan berani mengejar cita-citanya,” tambahnya. (des)***











