Zaitun vs Pinus: Pertarungan Ekologi dan Identitas di Tanah Palestina

WhatsApp Image 2026 06 10 at 19.47.26 1
JNF Pine Medal, (Foto: Istimewa).

Oleh Achmad Tans

LANSKAP bukan sekadar ruang alamiah. Ia adalah jejak sejarah, memori kolektif, dan simbol identitas suatu bangsa. Di Palestina, pohon zaitun sejak ribuan tahun menjadi nadi kehidupan: memberi pangan, minyak, obat, sekaligus simbol spiritual. Namun, dalam satu abad terakhir, zaitun perlahan digeser oleh pinus. Pohon yang sejatinya bukan asli tanah Palestina ini ditanam secara masif oleh lembaga-lembaga Zionis, terutama Jewish National Fund (JNF), sebagai bagian dari proyek kolonisasi.

Di sinilah kita menyaksikan pertarungan: antara zaitun sebagai simbol lokalitas, keberlanjutan, dan berkah; dengan pinus sebagai simbol kekuasaan, kolonisasi, dan rekayasa ekologi. Pertarungan ini bukan sekadar soal vegetasi, melainkan juga perebutan identitas, memori, bahkan masa depan.

Zaitun: Pohon Kehidupan Palestina

Zaitun tumbuh subur di kawasan Mediterania sejak lebih dari 6000 tahun lalu. Di Palestina, jejak sejarah mengungkapkan setiap keluarga tradisional biasanya memiliki pohon zaitun yang diwariskan lintas generasi. Ada pepatah lokal: “Seperti pohon zaitun, kami berakar dalam di tanah ini ”. Zaitun tahan kekeringan, hidup ratusan tahun, bahkan ada yang mencapai usia ribuan tahun. Tanah Palestina bagian tengah & utara identik dengan kebun zaitun yang menjaga kelembaban tanah dan mencegah erosi. Ekonomi rakyat Palestina sangat bergantung pada minyak zaitun, salah satu komoditas utama ekspor dan konsumsi domestik. Itulah fungsi ekologi dan ekonomi.

Dimensi Spiritual

Alquran menyebut zaitun dalam beberapa ayat: QS. An-Nur: 35 — minyak zaitun disebut penuh berkah. QS. At-Tin: Allah bersumpah dengan “wa at-Tin wa az-zaitun”. Hadis Nabi SAW: “Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi” (HR.Tirmidzi). Jelas, zaitun bukan sekadar tanaman; ia adalah simbol keberlanjutan, keberkahan, dan akar sejarah.

Pinus: Pohon Kolonial di Palestina

Sejak awal abad ke-20, JNF meluncurkan proyek “penghijauan” untuk mengubah lanskap Palestina. Jutaan pohon pinus, terutama Pinus haelepensis (Aleppo pine), ditanam menggantikan vegetasi asli seperti zaitun, oak, carob, dan ara. Pinus dipilih karena cepat tumbuh, memberi kesan “modernisasi” lanskap, dan menutupi reruntuhan desa-desa Palestina yang dihancurkan tahun 1948 (Nakba). Itulah asal-usul pinus di proyek Zionis.

Fungsi Politik

Hutan pinus sering didirikan tepat di atas bekas desa Palestina yang dihancurkan, seperti di Lubya (Galilea). Secara simbolis, pinus menjadi “selimut hijau” untuk menghapus jejak sejarah dan memori penduduk asli. Pinus identik dengan lanskap Eropa, sehingga menciptakan rasa “rumah” bagi imigran Yahudi Eropa. Sejarawan menyebutnya sebagai bentuk green colonialism atau kolonialisme hijau.

Dampak Ekologi

Pinus bukan vegetasi asli, ia memicu masalah. Serasah jarum mudah terbakar, berpotensi risiko kebakaran hutan tinggi. Penanamannya juga dominan monokultur, sehingga mengurangi biodiversitas lokal. Demikian pula air tanah cepat terkuras karena konsumsi tinggi. Daripada menyuburkan, pinus justru menciptakan ekosistem rapuh.

Zionisme sejak awal memahami bahwa kolonisasi bukan sekadar militer atau politik, tapi juga ekologi. Menguasai tanah identik menguasai lanskap. Dengan mengubah vegetasi, mereka mengubah wajah tanah, sehingga generasi berikutnya sulit membayangkan Palestina dengan zaitun. Inilah ekologi sebagai alat politik.

Narasi globalnya, pinus ditampilkan sebagai “pohon modern, pohon kemajuan”, sementara zaitun dianggap tradisional. Padahal itu greenwashing ala JNF (JEWISH NATIONAL FUND) yang mengklaim sebagai lembaga lingkungan, padahal penghijauan yang dilakukan berfungsi menutupi perampasan tanah.

Kontras Simbolik: Zaitun vs Pinus

Zaitun sebagai simbol Palestina, asal-usulnya sudah ada ribuan tahun lalu. Adaptif, tahan kering, biodiversitas tinggi. Aspek ekonomis: sebagai pangan, minyak, obat, dan komoditas ekspor. Dalam konteks spiritual disebut dalam Alquran, sebagai pohon berkah. Zaitun sebagai simbol politis yang mengakar untuk identitas bangsa Palestina.

Sementara pinus sebagai simbol Zionis Israel. Asal- usulnya introduksi abad 20. Dibudidayakan secara monokultur, mudah terbakar, rapuh. Aspek ekonomi-minim nilai pangan, kayu kualitas rendah. Secara spiritual-tidak ada dalam teks suci, lebih sekuler. Simbol kolonisasi, rekayasa lanskap. Umurnya 40–60 tahun rata-rata. Kontras ini menunjukkan, bukan hanya dua spesies yang berbeda, melainkan dua paradigma: kehidupan vs penutupan, keberlanjutan vs kolonisasi.

Perspektif Qurani: Fasad fil-ardh

Mengganti zaitun dengan pinus berarti mengganti pohon berkah dengan pohon simbolik yang bukan bagian dari fitrah tanah. Ini bisa dilihat sebagai bentuk fasad fil-ardh (kerusakan di muka bumi), sebagaimana diperingatkan dalam QS. Al-Baqarah:11–12: “Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’”. Proyek pinus JNF bisa dibaca dalam bingkai ayat ini: penghijauan yang diklaim sebagai perbaikan, tetapi sebenarnya merusak ekosistem dan menghapus jejak sejarah.

Proyek Negev dan Globalisasi Donasi (2000–Kini)

Memasuki abad ke – 21, JNF memfokuskan proyek pada penghijauan gurun Negev. Medali perak dan perunggu dari periode ini menampilkan pinus, Blue Box, dan simbol kota Yerusalem. Donasi kini tak lagi hanya berbentuk koin di kotak biru, tetapi juga transfer digital. Namun simbolismenya tetap sama: setiap donasi sama dengan satu pohon, satu klaim atas tanah. Medali edisi khusus seperti “Jerusalem 3000” dipasarkan ke komunitas Yahudi global, memperkuat ikatan diaspora dengan tanah Israel.

Analisis Ekologis: Risiko Monokultur Pinus

Dari sisi ekologi, proyek penghijauan dengan pinus menghadapi banyak kritik:

Pertama, monokultur; mengurangi biodiversitas, menyingkirkan vegetasi asli seperti zaitun, oak, dan carob.

Kedua, rawan kebakaran; daun jarum pinus mengandung resin mudah terbakar, seperti terlihat di kebakaran hutan pinus di Los Angeles, Indonesia, bahkan Israel sendiri.

Ketiga, tanah dan air; pinus menyerap banyak air tanah, membuat ekosistem kering. Serasah pinus bersifat asam, menurunkan kesuburan tanah.

Akibatnya, proyek yang digadang sebagai “penghijauan” justru menciptakan ekosistem rapuh.

Dimensi Global: Dari Palestina ke Dunia

Fenomena Palestina adalah contoh paling jelas, tapi pola “pinus menggantikan zaitun” adalah metafora global:

– Monokultur komoditas tertentu di Asia Tenggara menggusur hutan tropis.

– Perkebunan kedelai di Brasil menggusur Amazon.

– GMO dan  herbisida kimia menggusur benih tradisional.

Semua menunjuk pada pola yang sama: ekologi dijadikan alat kapitalisme dan kolonialisme.

Rekomendasi: Soil, Not Oil.

Menghadapi kolonialisme ekologis, solusi ada pada prinsip Soil, Not Oil -ala Vandana Shiva:

Pertama, kedaulatan benih dan tanaman lokal, di mana zaitun harus dipertahankan sebagai warisan dunia.

Kedua, agroekologi regeneratif: melawan monokultur dengan keanekaragaman.

Ketiga, gerakan internasional solidaritas Palestina: mendukung petani zaitun melawan pencabutan dan perampasan lahan.

Keempat, pendidikan ekologi berbasis fitrah yang mengajarkan generasi muda bahwa menjaga pohon asli adalah bagian dari ibadah.

Refleksi

Medali JNF dengan simbol pinus bukan sekadar benda logam, tetapi teks politik-ekologis. Ia menceritakan upaya merekayasa lanskap dan identitas: dari tanah yang dihuni petani Palestina dengan zaitun, menjadi tanah Israel dengan pinus.

Pertarungan zaitun vs pinus adalah pertarungan narasi. Zaitun–dengan akar ribuan tahun, berkah Qurani, dan makna perdamaian–berhadapan dengan pinus yang tumbuh cepat, mudah terbakar, dan penuh muatan politik.

Dengan demikian, kritik bahwa pinus adalah “pohon Zionis” bukan sekadar satir, melainkan refleksi atas bagaimana pohon bisa dijadikan senjata kolonialisme.

Pertarungan zaitun dan pinus bukan sekadar botani, tetapi pertarungan antara ingatan dan penghapusan, antara kehidupan dan penutupan, antara berkah dan kerusakan. Zaitun, yang diberkahi Allah, adalah simbol ketahanan dan keberlanjutan. Pinus, dalam konteks kolonialisme Israel, menjadi simbol rekayasa lanskap untuk menghapus identitas.

Maka, membela zaitun berarti membela Palestina, membela keberlanjutan ekologi, dan membela fitrah manusia. Seperti doa yang selalu dipanjatkan: semoga tanah yang diberkahi itu tetap tegak dengan pohon-pohon zaitun yang ratusan tahun usianya, menjadi saksi bahwa kehidupan selalu lebih kuat daripada kolonisasi.

Dan kita, bangsa Indonesia, sudah berikrar menentang kolonisasi dalam bentuk apapun. Palestina layak terus didoakan dan dibantu dalam berbagai dimensi untuk kemerdekaannya. ***

Achmad TansXFITVAL (Explorer Fitrah Values).