ZONALITERASI.ID – Suasana hangat dan penuh semangat mewarnai dialog Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti bersama sejumlah siswa seusai aktivitas Pagi Ceria di SDN Cimahpar 5, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu, 10 Juni 2026.
Dari obrolan tentang sepak bola hingga cita-cita menjadi astronot, percakapan tersebut menghadirkan satu pesan penting yakni anak-anak Indonesia harus berani bermimpi besar dan tidak pernah menyerah pada keadaan.
Dengan semangat belajar, penguasaan bahasa asing, dan rasa percaya diri yang kuat, setiap anak Indonesia dapat melangkah lebih jauh. Apa pun latar belakang keluarga dan kondisi yang dimiliki, tidak ada alasan untuk patah semangat. Mimpi besar selalu dimulai dari keberanian untuk belajar sejak dini.
“Indonesia menang mana sama Mozambik?” tanya Mu’ti kepada seorang siswa, dilansir dari keterangan yang disampaikan Kemendikdasmen.
Dengan polos dan penuh keyakinan, sang anak menjawab, “Indonesia.”
Obrolan kemudian berlanjut ke dunia sepak bola. Ketika ditanya siapa pemain yang ingin ditiru, siswa tersebut menyebut nama Beckham Putra. Alasannya sederhana namun penuh makna bahwa ia ingin menjadi pemain bola yang hebat seperti idolanya.
“Karena ingin masuk Persib Bandung,” jawabnya, disambut tepuk tangan dan senyum warga sekolah yang memadati SDN Cimahpar 5.
Bagi Mu’ti, jawaban tersebut menunjukkan bahwa setiap anak memiliki mimpi yang layak dihargai. Tugas dunia pendidikan adalah menjaga agar mimpi-mimpi itu tetap hidup dan tumbuh.
Percakapan semakin menarik saat Mu’ti berbincang dengan Destian, siswa asal Wonogiri, Jawa Tengah. Dengan percaya diri, Destian menyampaikan keinginannya untuk belajar di luar negeri dan suatu hari ingin menjadi astronot.
“Karena saya ingin belajar sesuatu yang baru. Dan saya ingin bekerja di Amerika karena saya ingin menjadi astronot,” ujarnya ketika ditanya cita-citanya di masa depan.
Mu’ti mengingatkan bahwa setiap cita-cita membutuhkan usaha dan ketekunan. “Menjadi pelajar yang baik, rajin belajar, berpikir cerdas, optimis, dan selalu bersyukur adalah bekal penting untuk meraih masa depan,” pesannya.
Percakapan Mu’ti dengan Destian mengalir lancar dalam bahasa Inggris. Hal ini membuat Menteri Mu’ti semakin bersemangat dan terkesan. Istimewanya adalah ketika Destian menceritakan bagaimana ia belajar bahasa Inggris. Tidak melalui kursus mahal atau fasilitas khusus, melainkan dari media sosial dan YouTube sejak masih kecil.
Jawaban sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa kesempatan belajar kini terbuka lebih luas. Teknologi memungkinkan anak-anak Indonesia mengakses ilmu pengetahuan dari berbagai belahan dunia.
“Penguasaan bahasa asing menjadi keterampilan penting yang perlu terus dikembangkan,” imbuh Mu’ti.
Mu’ti menegaskan bahwa kemampuan berbahasa asing bukan berarti meninggalkan identitas sebagai bangsa Indonesia. Sebaliknya, bahasa asing adalah alat untuk memperluas wawasan, membangun jejaring global, dan membuka lebih banyak peluang pendidikan maupun pekerjaan di masa depan.
Menurutnya, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia harus berjalan seiring dengan keberanian untuk belajar dan berkompetisi di tingkat dunia.
“Anak-anak Indonesia, dari kota besar hingga pelosok daerah, memiliki kesempatan yang sama untuk meraih impian mereka,” pungkasnya. (des)***











