ZONALITERASI.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Program Penguatan Profesional Bidang Kependidikan (PROBIDIK) di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Senin, 15 Juni 2026.
Program ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan pendidikan melalui optimalisasi praktik mengajar mahasiswa kependidikan yang terkoordinasi dan relevan dengan kebutuhan riil sekolah-sekolah di Jawa Barat.
Ketidakseimbangan antara jumlah guru yang memasuki masa pensiun dan jumlah guru yang direkrut setiap tahun di sejumlah sekolah menengah atas di Jawa Barat menjadi salah satu latar belakang terciptanya kolaborasi ini. Sebagai salah satu ikhtiar, UPI bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat untuk melakukan pemetaan kebutuhan berdasarkan mata pelajaran dan lokasi sekolah, sehingga penempatan mahasiswa praktik mengajar dapat diarahkan lebih tepat sasaran.
Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., menjelaskan, PROBIDIK merupakan implementasi konkret Tridharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan unsur pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan gabungan dari kegiatan akademik dalam arti pendidikan dengan pengabdian. Di satu sisi, mahasiswa kita memang memiliki program reguler berupa praktik mengajar di lapangan bagi mahasiswa program studi kependidikan,” ujarnya.
Menurut Prof. Didi, perubahan mendasar dalam pelaksanaan praktik mengajar mahasiswa terletak pada penggunaan data kebutuhan sekolah sebagai dasar penempatan mahasiswa.
“Kalau dulu mahasiswa ditempatkan di sekolah tanpa melihat kebutuhan sekolah tersebut, saat ini kita memiliki data dari pemerintah provinsi tentang kebutuhan guru di setiap sekolah SMA. Kebutuhan itu kemudian kita cocokkan dengan data mahasiswa yang kita miliki. Mahasiswa dari daerah tertentu diupayakan melaksanakan praktik mengajar di daerah asalnya sehingga terjadi pemerataan pengajaran serta membantu program pemerintah” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, lanjut Prof. Didi, mahasiswa tidak hanya memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga berkontribusi secara langsung dalam mendukung keberlangsungan proses pembelajaran di sekolah-sekolah yang mengalami keterbatasan sumber daya.
Pemetaan bersama menunjukkan sekitar 6.000 formasi pengajar di SMA Jawa Barat pada sekitar 60 mata pelajaran.
“Perlu ditegaskan bahwa angka ini bukan indikasi bahwa mahasiswa UPI akan direkrut sebagai guru, melainkan menjadi dasar penempatan mahasiswa dalam program praktik mengajar untuk membantu mengurangi ketimpangan dalam distribusi tenaga pengajar. UPI setiap tahun menyiapkan sekitar 5.000 mahasiswa kependidikan yang mengikuti praktik pada dua semester, namun penempatan disesuaikan karena beberapa mahasiswa terikat praktik kerja industri, semester pendek, atau spesialisasi yang perlu penyesuaian,” ucapnya.
“Kalau UPI saja hanya bisa membantu menjembatani sebagian dari kebutuhan tersebut, tentu diperlukan kolaborasi dengan perguruan tinggi lain yang memiliki program studi kependidikan agar kebutuhan guru yang ada dapat dipenuhi lebih banyak,” sambung Prof. Didi.
Dia menegaskan, apabila diperlukan, UPI siap mendukung peningkatan kapasitas mahasiswa nonkependidikan yang akan terlibat dalam program serupa melalui pelatihan pedagogik dasar.
“Mahasiswa nonkependidikan yang nantinya terlibat tentu perlu memiliki dasar-dasar pedagogik agar mereka tidak hanya mampu menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memahami cara menghadapi dan mendampingi siswa di kelas. UPI siap apabila diminta memberikan pelatihan singkat terkait hal tersebut,” ungkapnya.
Rektor UPI juga menyampaikan bahwa kerja sama dengan Pemprov Jawa Barat bukanlah pengalaman pertama. Pada tahun-tahun sebelumnya, UPI telah terlibat dalam berbagai program kolaboratif melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik yang berfokus pada pengelolaan sampah, pencegahan stunting, serta pengurangan kemiskinan.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat diperkaya melalui PROBIDIK dengan menghadirkan mahasiswa yang tidak hanya mengajar sesuai jadwal pembelajaran, tetapi juga memberikan edukasi kepada warga sekolah dan masyarakat mengenai isu-isu strategis pembangunan.
“Selain mengajar di kelas, mahasiswa juga dapat memberikan penyuluhan mengenai pengelolaan sampah di sekolah, edukasi pencegahan stunting, maupun berbagai isu pembangunan lainnya. Pengalaman seperti itu sudah kami miliki dan siap kami perkuat apabila dibutuhkan,” tambahnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuturkan, tantangan pendidikan saat ini bukan semata-mata berkaitan dengan metodologi pembelajaran atau pemanfaatan teknologi, melainkan bagaimana membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kesiapan menghadapi kehidupan.
“Kompleksitas tantangan pendidikan dan berbagai keterbatasan yang dihadapi pemerintah dapat diatasi melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, guru, dan orang tua,” ujarnya. (des)***











