ZONALITERASI.ID – Beberapa poin penting untuk pengembangan perguruan tinggi swasta (PTS) disepakati dalam pertemuan bertajuk “Membangun Perguruan Tinggi Swasta unggul dan berdampak bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dan Aptisi se-Indonesia”.
Dalam acara yang digelar di Ballroom Smartbuilding Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, pada Minggu, 14 Juni 2026 itu, hadir Mendiktisaintek, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. dan anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (Aptisi) dari seluruh Indonesia.
Ketua Umum Aptisi Pusat, Prof. Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., menyebutkan, poin penting yang disepakati dalam pertemuan tersebut antara lain, pembatasan ketat penerimaan mahasiswa baru (PMB) perguruan tinggi negeri (PTN) yang harus rampung pada bulan Juli 2026. Dalam PMB ini, PTN tidak melakukan penambahan kuota.
Selanjutnya, mengembalikan sistem PMB Universitas Terbuka (UT) hanya untuk lulusan SMA yang telah berjarak 2–3 tahun.
“Pak Menteri sudah berdiskusi mendalam. Kami tidak ingin PTS manja, tapi kami juga meminta keseimbangan. PTN difokuskan pada persaingan world class university terutama program S2 dan S3, sementara PTS berperan besar meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi,” jelas Prof. Budi.
Pertemuan ini juga menghasilkan kesepakatan lanjutan soal pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi PTS sesuai regulasi yang ada.
“Mendiktisaintek berjanji akan berkoordinasi langsung dengan Menteri Dalam Negeri agar aturan tersebut diimplementasikan oleh pemerintah daerah,” katanya.
Prof. Budi menambahkan, Aptisi juga akan menyusun road case analysis dan naskah akademik komprehensif yang akan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Beberapa usulan strategis meliputi penataan ulang Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, sinergi antarkementerian, serta kemungkinan penugasan beberapa fungsi strategis kepada PTN dan PTS agar anggaran negara lebih efisien.
Respons Mendiktisaintek
Sementara itu, Mendiktisaintek, Prof. Brian Yuliarto, menyampaikan terima kasih atas gagasan dari Aptisi serta masukan dari seluruh wilayah. Dia menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti berbagai usulan strategis yang telah dirumuskan Aptisi, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Pada 2026 ini, jumlah mahasiswa yang diterima di PTN akan sama dengan tahun 2025, bahkan kami prediksi lebih kecil. Ini sebagai respons atas masukan Aptisi agar tidak terjadi perebutan calon mahasiswa yang tidak sehat,” kata Brian.
Dia juga mengatakan akan mereformulasi kebijakan Universitas Terbuka agar tidak lagi menyaingi PTS secara tidak sehat.
“Kami akan formulasikan aturan baru sehingga semua perguruan tinggi, khususnya PTS, bisa terus tumbuh dan berkembang,” tambahnya.
Ketua Aptisi Jawa Barat, Prof H.C. Dr. Ir. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T., menyambut positif komitmen Mendiktisaintek untuk menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang lebih adil bagi PTS.
“Pak Menteri adalah orang yang sangat humble dan baik hati. Beliau tadi menerima semua masukan dengan terbuka dan sudah memberikan beberapa solusi konkret untuk keluhan PTS agar bisa diselesaikan secepat mungkin,” ujar Prof Eddy.
“Bagi kami, ini sangat positif. Yang sudah baik kita teruskan, yang perlu diperbaiki kita perbaiki bersama. Aptisi Jabar siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan PTS unggul dan berdampak,” tegasnya. (des)***











