Kemendiktisaintek Buka Beasiswa Program Doktor untuk Dosen, Sumber Dana dari APBN

WhatsApp Image 2026 06 14 at 15.15.26 1.jpeg
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto, (Foto: Antara).

ZONALITERASI.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong peningkatan kualifikasi akademik dosen melalui Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (BPDDI) Tahun 2026.

Dalam keterangan yang disampaikan Kemendiktisaintek, dikutip Minggu, 21 Juni 2026, disebutkan, BPDDI bisa diikuti dosen tetap perguruan tinggi di bawah koordinasi Kemendiktisaintek.

Program ini didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dirancang untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan tinggi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta daya saing perguruan tinggi Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

BPDDI 2026 dilaksanakan melalui dua skema utama. Pertama, skema reguler bagi dosen yang menempuh studi doktor di perguruan tinggi dalam negeri, baik mahasiswa baru maupun mahasiswa on-going yang sedang menjalani studi maksimal pada semester tiga.

Kedua, skema joint degree atau dual degree yang dilaksanakan melalui kerja sama perguruan tinggi dalam negeri dan luar negeri dengan durasi pendanaan maksimal empat tahun.

Selain menanggung biaya pendidikan, BPDDI juga memberikan dukungan pembiayaan yang komprehensif berupa biaya pendaftaran, bantuan penelitian atau disertasi, insentif publikasi jurnal internasional, biaya hidup bulanan, transportasi, asuransi kesehatan, hingga dukungan biaya keadaan darurat.

Kemendiktisaintek juga menyediakan skema dukungan tambahan bagi dosen penyandang disabilitas, termasuk pembiayaan pendamping selama masa studi.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengatakan, saat ini berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah memiliki program doktor dengan fasilitas yang semakin baik dan lengkap.

“Kemendiktisaintek mengajak para dosen untuk memanfaatkan kesempatan beasiswa yang disediakan pemerintah guna meningkatkan kompetensi akademik, sekaligus memperkuat kapasitas riset nasional,” kata Brian.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemendiktisaintek, Sandro Mihradi, menjelaskan BPDDI merupakan salah satu instrumen strategis Kemediktisaintek dalam meningkatkan kualifikasi akademik dosen, sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia pendidikan tinggi Indonesia.

Program tersebut bertujuan memberikan akses pembiayaan pendidikan doktor bagi dosen serta meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor sebagai fondasi penguatan pendidikan tinggi nasional.

“Harapannya ini dapat memberikan dampak untuk meningkatkan kapasitas riset, teknologi,dan sains serta mendorong inovasi dan hilirisasi,” ujarnya.

Sandro menambahkan, BPDDI yang mulai dilaksanakan pada tahun 2025 telah memberikan manfaat kepada 1.269 dosen di seluruh Indonesia. (des)***