Catatan Pensiunan 10: Menutup Tirai Kenangan

Oleh Suheryana Bae

A 377 scaled
Ilustrasi "Catatan Pensiunan 10: Menutup Tirai Kenangan". (Foto: Dok. Pribadi)

MASA lalu sering menjadi bayang-bayang. Enggan pergi. Kenangan indah membuatku ingin kembali, sementara luka dan kekecewaan menyisakan beban yang sulit dilepaskan. Namun, hidup tidak berjalan mundur. Hari ini adalah kehidupan yang sebenarnya, dan tugasku adalah mengisinya dengan kebahagiaan, bukan dengan beban masa lalu.

Sering kali aku terjebak dalam kenangan lama, baik yang membahagiakan maupun yang menyakitkan. Merindukan momen-momen tertentu atau menyesali kesalahan yang telah dibuat. Namun, merenungkan masa lalu tanpa henti tidak akan mengubah apa pun. Waktu terus berjalan, dan kehidupan yang sesungguhnya adalah kini di sini. Masa lalu tidak boleh menjadi beban yang menghalangi langkah hari ini.

Aku memutuskan untuk benar-benar melepaskan masa lalu. Bukan hanya kenangan, tetapi juga ruangan, aktivitas, dan bahkan orang-orang yang dulu pernah begitu berarti. Aku menyadari bahwa untuk maju, aku harus melepaskan segala sesuatu yang mengikatku pada cerita lama. Mengikhlaskan masa lalu bukan berarti melupakannya. Kenangan tetap disimpan sebagai bagian dari perjalanan, tetapi tidak membiarkannya menguasai perasaan dan pikiran. Sesekali mengenang itu wajar, tetapi tidak menjadikannya pusat dari kehidupan saat ini. Keindahan masa lalu biarlah menjadi inspirasi, dan kekecewaan yang pernah dialami biarlah menjadi pelajaran. Namun, semua itu tidak perlu menjadi belenggu yang menghambat kebahagiaan hari ini.

Setiap hari yang datang membawa kesempatan baru. Ada begitu banyak hal yang bisa aku lakukan untuk mengisi hari dengan kebahagiaan dan makna. Aktivitas positif menjadi salah satu cara terbaik untuk menikmati hidup. Mengerjakan sesuatu yang menyenangkan, menjalin hubungan baik dengan orang-orang sekitar, atau menikmati secangkir kopi sambil bersyukur atas hari yang diberikan—semua adalah bentuk sederhana dari kebahagiaan. Pikiran yang positif juga menjadi kunci utama. Jika terus-menerus mengisi kepala dengan kekhawatiran atau penyesalan, maka kehidupan akan terasa berat. Sebaliknya, jika memilih untuk berpikir positif dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih baik, maka kehidupan akan terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Keriangan dalam menjalani hidup bukanlah sesuatu yang mewah atau sulit dicapai. Aku menemukannya dalam hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Tawa bersama teman, kehangatan keluarga, atau bahkan momen-momen sunyi yang memberikan kedamaian. Semua adalah bagian dari kebahagiaan yang sederhana tetapi berarti. Tidak ada salahnya menikmati hidup dengan riang, karena pada akhirnya, hidup bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk merasa bahagia.

Harapan juga menjadi alasan untuk terus melangkah. Apa pun yang telah terjadi kemarin, hari ini adalah kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru. Harapan memberi energi untuk bangun setiap pagi dan menghadapi hari dengan semangat. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok, tetapi memiliki harapan berarti percaya bahwa sesuatu yang baik selalu mungkin terjadi. Dengan harapan, aku memiliki alasan untuk terus hidup dan merangkai cerita baru setiap hari.

Melepaskan masa lalu, mengisi hari ini dengan kebahagiaan, dan menatap masa depan dengan harapan adalah cara terbaik untuk menjalani kehidupan. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan yang tidak akan kembali. Tidak perlu membuang waktu sia-sia dengan penyesalan atau kesedihan yang tidak perlu. Hari ini adalah milikku, dan aku berhak menikmatinya dengan penuh kebahagiaan.

Jadi, biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Aku berusaha mengambil hikmah, tetapi tidak membiarkannya menjadi beban ketika melangkah hari ini. Memutus hubungan dengan masa lalu, kenangan, ruangan, aktivitas, dan orang-orang yang pernah mengikatku di sana. Hidup ini adalah tentang bergerak maju, menikmati setiap momen, dan terus berusaha menjadi lebih baik. Dengan begitu, aku tidak hanya menjalani hidup, tetapi benar-benar hidup dalam arti yang sesungguhnya. ***

Suheryana Bae, pernah bekerja sebagai PNS di Timor Timur (Timor Leste), Pemkab Ciamis, dan Pemkab Pangandaran. Kini menikmati masa purnabakti di Ciamis, Jawa Barat.